Pesan Perdana Seorang Kandidat
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikan langit dan bumi
tunduk kepada-Nya. Di atas ketaatan kepada-Nya-lah semua persoalan
manusia di muka bumi ini juga akan dapat terselesaikan dengan baik.
Salawat serta salam mudah-mudahan senantiasa dilimpahkan kepada pemimpin
sejati, Muhammad Rasulullah SAW, yang seluruh kehidupannya
dipersembahkan bagi kepentingan dan kemaslahatan Islam dan ummatnya.
Sebagai manusia yang dlaif (lemah) kita sama sekali tidak menegatahui
secara pasti apa yang akan terjadi esok hari. Kita hanya bisa
merencanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya tetapi Allah jualah yang
menentukan segala-galanya. Demikian itulah yang dinyatakan dalam
firman-Nya :
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang
hari Kimat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang
adaa di dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan
pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang
dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Luqman ayat 34)
"Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu:
"Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi.. Kecuali (dengan
menyebut): "Insya Allah." (QS Al Kahfi ayat 23-24)
Itulah sekedar gambaran psikologis yang saya rasakan ketika teman-teman
dari Partai Keadilan dengan "full team" yang dipimpin langsung oleh Dr.
Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, MS (Presiden Partai Keadilan), Dr. H. Hidayat
Nur Wahid, MA. (Ketua Majelis Pertimbangan Partai) dan Dr. Salim Segaf
Al Jufri (Ketua Dewan Syari'ah) datang bersilaturahmi ke rumah saya,
meminta kesediaan saya untuk menjadi calon Presiden RI dari Partai
Keadilan pada pemilu yang akan datang.
Terus terang saya sangat kaget dan heran mendengar tawaran tersebut
karena sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran saya sedikit pun
hal-hal seperti itu. Jangankan untuk jabatan presiden (walaupun sekedar
calon) bahkan untuk jabatan yang lebih rendah dari itupun tak pernah
terbayangkan. Apalagi kita semua tahu bahwa pada saat ini bangsa
Indonesia sedang menghadapi krisis yang hebat dalam berbagai lini
kehidupan. Saya tahu diri tentang kelemahan dan kekurangan saya. Saya
hanyalah seorang guru agama yang pekerjaannya rutin mengajar kepada para
santri, mahasiswa maupun masyarakat umum, yang jauh dari hingar bingar
politik praktis.
Namun setelah dialog yang agak lama, saya melihat dan merasakan bahwa
pertimbangan-pertimbangan Partai Keadilan untuk mencalonkan saya
semata-mata berdiri di atas landasan syari'ah yang insya Allah ditujukan
bagi kemaslahatan da'wah Islamiyah pada masa yang akan datang. Saya
juga memegang janji dari teman-teman Partai Keadilan untuk sekuat tenaga
membantu menutupi segala kelemahan saya dan menjadikan pencalonan ini
sebagai sebuah "amal jama'iy" (kerja sama) yang saling mengokohkan.
Akhirnya dengan rasa berat hati disertai kecemasan yang luar biasa,
tetapi dengan tetap bertawakal kepada Allah SWT, saya menerima tawaran
tersebut.
Kepada Allah jualah saya bermohon, andaikan amanah ini akan membawa
kepada kemaslahatan ummat dan bangsa, berilah saya kekuatan, kesabaran
dan keikhlasan. Akan tetapi andaikan tidak akan maslahat, lahirkanlah
seorang pemimpin yang lebih baik dari saya yang akan membawa ummat ini
pada kehidupan yang lebih baik sesuai dengan ketentuan dan aturan-Mu ya
Allah. Kepada para sahabat, pemimpin ummat, pemimpin ormas dan
orsospol, mari bersama kita menyatukan hati dan bergandengan tangan
untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Insya Allah.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Bogor, 14 Maret 1999
(Drs. Didin Hafidhuddin, MS)
- Re: Pegang perkataan nya ! Hadeer
- Re: Pegang perkataan nya ! Dodo D.
- Re: Pegang perkataan nya ! Budi Haryanto
- Re: Pegang perkataan nya ! Alexander Lumbantobing
