Salam!
Seruan Bung Jossy ini tampaknya serius. Sebelum soal ini melebar jauh dan
menimbulkan syakwasangka dan keresahan (pasalnya, banyak orang mati kelaparan,
mati tak mampu bayar obat di Indonesia).

Minggu lalu saya meliput Seminar Kekerasan dan Pelanggaran HAM Indonesia di
The George Washington University, Corcoran Building, DC. Di situ saya lihat
puluhan kalangan Tionghoa membuat Kota Amal Solidaritas untuk Korban Soeharto-
Rezim Indonesia-- yang dananya diperuntukkan buat pembelian obat-obatan,
makanan para korban dari Aceh, Ambon dan pelbagai penjuru tanah air. Terkumpul
di situ USD 652. Sebuah upaya mulia dilakukan saudara-saudara Tionghoa
Nasionalis kita. Uang langsung diserahkan lewat Ketua tim Relawan Ita F Nadia.

Beberapa  waktu sebelumnya, saya mendengar sumbangan sejumlah uang dari
kalangan Nasrani buat Ambon-- demikian juga antisipasi  para aktivis IMAAM
mengumpulkan uang buat para korban  Ambon

Apa yang dilakukan saudara-saudara kita Tionghoa, Nasrani, dan IMAAM di atas
cukup menyejukkan. Solidaritas Indonesia-- dengan keanekaragaman etnis, agama
dan golongan sosialnya-- tercermin di situ. Mereka telah berbuat pada saat
yang tepat, kondusif dan dengan jalan yang terhormat pula.

Bagaimana di tanah air sendiri? Dua hari lalu saya berbicara dengan seorang
demonstran. Dia menceritakan dukanya karena ada dua familinya yang ternyata
meninggal dunia dengan tanpa adanya perawatan sebelumnya. ''Mereka meninggal
dunia. Ketika sakit mereka nggak mampu membeli obat,''kata dia.

Meninggal dunia karena sakit dan tanpa perawatan medis. Tak ada uang untuk
beli obat-obatan. Betapa mirisnya.  Laporan media massa Indonesia plus laporan
para keluarga di tanah air yang disampaikan lewat telepon-- semua cukup
menggambarkan betapa malangnya bangsa kita saat ini. Kita berada di lembah
kemiskinan massal!  Kejahatan meningkat. Aparat keamanan loyo. Pemerintah
kehilangan kepercayaan. Politisi dan para pejabat sibuk berakrobat kata-kata.
Kesusahan rakyat tetap tidak membuat para pejabat dan politisi kita tanggap.

Di depan bangsa internasional dan lembaga internasional-- sebuat saja USA,
Eropa, IMF atau pun World Bank-- citra bangsa Indonesia (terutama Pemerintah
RI) sudah terpuruk. Kita sudah kehilangan harga diri. Perasaan krisis saja
nyaris tidak tercermin di kalangan pemerintah dan segelintir masyarakat kaya
Indonesia.

Di tengah-tengah kondisi psikologis inilah saya membaca Surat Keprihatinan
Jossy-- seorang mahasiswa S-3 dari GWU dan asal FE-UI. Sisa anggaran KBRI USD
300 ribu! Logika Jossy: Jika seluruh KBRI yang tersebar di pelosok dunia
melakukan penghematan-- sudah berapa duit yang bisa diselamatkan? Bisa
membantu orang-orang kelaparan di Indonesia! Bisa ini-bisa itu. macam-macam.

Itu baru di satu departemen (Deplu). Lantas saya berpikir, ternyata kita kaya
juga?  Apakah karpet lebih berharga dari nyawa manusia Indonesia? Ataukah
keindahan dan kemewahan lebih terhormat dibandingkan harga diri dan martabat
bangsa kita sendiri? Barangkali para pakar anggaran Deplu-KBRI punya teori
sendiri soal sisa anggaran. Tetapi hati nurani rakyat dan rasa sensitif kita
sebagai bangsa yang melarat pun berhak mempunyai teori lain. Surat
keprihatinan Jossy tersebut merepresentasikan teori hati nurani rakyat. Rakyat
berada di tempat yang paling agung!

Sekali lagi perkenankanlah saya menyampaikan himbauan moral ini. Mohon kita
berpikir tidak dari sudut pandang sendiri-sendiri. Mari kita gunakan akal
sehat, pikiran lurus, hati tenang, tanpa purbasangka, tidak berburuk sangka,
nurani yang putih dan bening sembari menempatkan Kepentingan Rakyat dan Hati
Nurani Rakyat di atas segala kepentingan golongan, profesi apalagi korps
departemen.



salam,
ramadhan pohan
(seorang pejalan)

##########

In a message dated 3/25/99 5:40:22 AM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED] writes:

<< Subj:         Re: [bincang] Urun Rembuk.
 Date:  3/25/99 5:40:22 AM !!!First Boot!!!
 From:  [EMAIL PROTECTED] (Jossy P Moeis)
 To:    [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
(Mohammad Soetomo)
 CC:    [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Ima
Loethfie), [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Nur Adnan),
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Dutamardin Umar),
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Firdaus Kadir),
[EMAIL PROTECTED] (Iskandar Bakri), [EMAIL PROTECTED] (Anton Manoppo),
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Mulya R. Dhairyani),
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Irwansyah Soegondo),
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
(Arianta Anaya), [EMAIL PROTECTED] (Ahmad Helmi '78), [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
(Faisal Marzuki), [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Priyo Pujiwasono)


 Assalamualaikum wr. wb.

 Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan yg dimuliakan Tuhan:

 Izinkan saya mengetuk pintu hati bapak-bapak, ibu-ibu, dan rekan-rekan
 sekalian dengan mengangkat permasalahan yg menurut saya patut mendapat
 perhatian kita bersama, warga Indonesia di Washington DC. Sudi kiranya
 meluangkan waktu 5 hingga 10 menit untuk membaca 10 paragraph di bawah.
 Jika sekiranya terganggu dan merasa hal ini tidak perlu jadi perhatian
 kita bersama silakan email ini di 'delete' saja. Tetapi jika sebaliknya,
 saya akan sangat menghargai respons dari bapak-bapak, ibu-ibu, dan
 rekan-rekan semua.

 Siang tadi saya mampir ke KBRI dan  sempat berkeliling melihat berbagai
 perubahan dan renovasi yg terjadi di rumah rakyat tsb. Hati saya
 bertanya-tanya, dari mana KBRI punya dana untuk melakukan penggantian
 karpet, berbagai pemindahan, penyekatan, dan berbagai pekerjaan renovasi
 lainnya. Padahal semenjak krisis moneter KBRI katanya menghadapi kesulitan
 dana. Dan pertengahan tahun lalu, KBRI rajin melakukan berbagai
 penghematan dengan mem-PHK pegawai lokal, mengurangi berbagai fasilitas
 pegawai dan bahkan memotong gaji pegawai lokal sebesar 20% dan hingga saat
 ini mereka masih bergaji 4/5 dari gaji sebelum krismon. (note: bila
 keuangan negara telah memungkinkan sudah seharusnya gaji pegawai lokal ini
 dikembalikan ke tingkat semula).

 Semula saya memperkirakan bahwa pendanaan renovasi tsb kemungkinan berasal
 dari penghematan gaji pegawai. Untung saja tidak. Ternyata menurut
 beberapa sumber, KBRI sedang giat menghabiskan sisa anggaran (SIAR) yang
 semula untuk biaya pemeliharaan, sebelum memasuk tahun anggaran baru,
 bulan depan.

 Hati saya jadi miris. Sementara di tanah air bangsa Indonesia sedang
 susah, kita di sini menghambur-hamburkan uang rakyat yg kita sebut "SISA"
 tersebut. Di tanah air kini banyak orang kelaparan dan tidak mampu lagi
 beli beras. Di desa-desa banyak yg merubah 'diet' nya dengan memakan apa
 saja yg sebenarnya "tidak layak" untuk di makan seperti biji karet,
 belalang, dsb. Banyak bayi meninggal karena kurang gizi, banyak anak-anak
 putus sekolah, banyak pengangguran, banyak yg frustasi dan secara kejiwaan
 tidak sehat. Saya kira bapak-bapak, ibu-ibu dan rekan-rekan tahu lebih
 banyak tentang derita yg tak kunjung habis itu. Belum lagi kalau kita
 tambahkan daftar keprihatinan ini dengan berbagai kerusuhan, pembantaian,
 pengrusakan, dsb-dsb yg masih terus berlangsung hingga saat ini.

 Saya bertanya-tanya apakah berbagai perubahan, pemindahan, penggantian,
 pembongkaran dan penyekatan tersebut memang sangat mendesak? Yg saya tahu
 karpet yg diganti masih sangat baik kondisinya. Bahkan menurut hemat saya
 karpet lama yg nggak tau bakal di buang atau dihibahkan ke mana, jauh
 lebih empuk dan halus dibandingkan yg baru. Silahkan mampir ke KBRI dan
 menilainya sendiri. Apakah produktivitas kerja pegawai KBRI jadi meningkat
 dengan berbagai pemindahan tersebut? Menurut bapak-bapak dan ibu-ibu yg
 dipindahkan meja dan kantornya tsb, mereka menjadi sangat terganggu dan
 hingga saat ini dokumen-dokumen mereka masih berantakan dan menjadi sangat
 tidak terorganisir. Apakah pelayanan KBRI akan menjadi lebih baik dengan
 penataan dan perombakan tersebut? Kita tunggu saja hasilnya nanti. Menurut
 khabar, renovasi, pembongkaran, dan penggantian akan dilakukan lebih jauh
 lagi bahkan juga terhadap gedung lama. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi
 insiden seperti pengrusakan lukisan klasik di loteng ruang Garuda, hanya
 karena tidak mengerti seni dan barang mahal yg ada di gedung lama KBRI
 tsb.

 Selain penghamburan dalam bentuk renovasi di atas, berbagai pengeluaran
 tidak 'urgent' lainnya- kalau tidak ingin disebut pemborosan- telah pula
 dilakukan. Misalnya biaya sebesar lebih kurang US$10,000 untuk memamerkan
 produksi tekstil Indonesia yg notabene kuotanya sudah dipatok dan sangat
 disangsikan bisa ditingkatkan dengan berpameran. Demikian pula dalam waktu
 dekat sebuah pameran busana akan digelar yang kalau tidak salah kegiatan
 ini tidak bermaksud mencari dana, jadi murni kegiatan pengeluaran. Satu
 lagi, KBRI bermaksud mengadakan perayaan setengah abad hubungan serasi
 RI-AS tanpa gangguan yang akan memakan biaya besar pula. Sementara, pihak
 Amerika sendiri sepertinya tidak terlalu antusias akan 'event' ini. Kalau
 dikaji-kaji ke belakang cukup banyak proyek-proyek yg bagi kita orang luar
 terkesan dipaksakan dan "genit", seperti penggantian karpet dan pembuatan
 etalase pajangan baju daerah di ruang Dharma Wanita yg cukup memakan
 biaya. Padahal saat itu kita sedang dalam puncak krisis moneter.

 Dalam kondisi keuangan negara yg sangat tidak menguntungkan saat ini,
 kehati-hatian dan skala prioritas harus benar-benar di terapkan secara
 disiplin tanpa toleransi. Kita semua tau bahwa porsi pengeluaran negara yg
 dibiayai melalui hutang luar negeri semakin membengkak. Setiap pengeluaran
 apalagi yg berupa devisa seperti yg dilakukan oleh perwakilan RI di luar
 negeri, memiliki konsekuensi kewajiban pembayaran hutang. Dan siapakah
 yang akan membayar hutang-hutang tersebut? Tidak lain kita-kita generasi
 muda dan mungkin juga anak-anak kita yg akan berhadapan dengan hantaman
 kompetisi keras di era pasar global nanti.  Tugas pembayaran hutang ini
 akan semakin berat mengingat banyak sekali anak-anak usia sekolah yg
 drop-out dan kekurangan gizi saat ini.

 Kita generasi muda, yang bakal terlibat dalam pembayaran hutang negara
 nantinya, sudah sepantasnya mempertanyakan berbagai penggunaan uang rakyat
 seperti disebutkan di atas. Kita BERHAK melakukan "checks-and-balances"
 dan 'auditing' sederhana terhadap pengeluaran uang APBN yg dibiayai hutang
 tersebut. Sekali lagi, nanti kitalah yg bakal membayar hutang-hutang
 tersebut saudara-saudara!!

 Oleh karena itu, saya mengusulkan kepada Permias Washington DC untuk
 mengirim surat kepada bapak duta besar menanyakan urgensi dari perombakan
 dan proyek renovasi yang tengah dan akan dilakukan. Jika memang tidak
 'urgent' dan lebih merupakan sekedar menghabiskan sisa anggaran, maka
 sebaiknya dikembalikan saja ke tanah air yang lebih memerlukan pendanaan
 dan juga sekaligus mengurangi beban anggaran negara. Menurut sumber yang
 terpercaya, sisa anggaran di perwakilan kita di sini ada sekitar $300,000.
 Silahkan dihitung perkiraan penghematan yg bisa dilakukan bila semua
 perwakilan di LN mengikuti perwakilan di Washington DC nantinya. Apalagi
 bila semua instansi pemerintah secara sukarela mengembalikan SIAR nya. Dan
 memang sudah seharusnya SIAR tersebut dikembalikan, bukan
 dihambur-hamburkan atau dipaksakan untuk habis.

 Posting ini tidak bermaksud untuk memanas-manasi atau memfitnah atau cari
 sensasi apalagi mem-provokasi. Tujuan saya murni untuk membuka hati kita
 semua dan untuk mengimplementasikan hak tanya saya sebagai warga negara.
 Demikian juga, ajaran agama yang saya anut menganjurkan untuk mengkoreksi
 setiap penyelewengan dan kebathilan yg terjadi, lebih dari sekedar
 menidakkan di dalam hati. Mudah-mudahan pendapat saya di atas sesuai
 dengan ajaran-NYA. Dan posting ini juga tidak bermaksud memaksakan
 pendapat saya. Untuk itulah saya melontarkan permasalahan dan usulan
 melalui email ini kepada bapak-bapak, ibu-ibu, dan rekan-rekan semua untuk
 urun-rembuk. Koreksi saya kalau salah dan silahkan melakukan peninjauan
 dan investigasi sendiri bagi yang ingin mendapatkan data yang lebih akurat
 dan lebih objektif bila posting saya ini terasa kurang akurat atau
 memihak.

 Lebih dan kurang saya mohon maaf. Salam sejahtera buat bapak-bapak,
 ibu-ibu, dan rekan-rekan semua yang masih peduli dengan reformasi dan
 koreksi sosial demi penyembuhan seluruh tatanan kehidupan bangsa yang
 sedang sakit ini.


 Salam reformasi.

 Jossy P. Moeis


 =============================================================================
=
 JOSSY P. MOEIS  Address:                     Email:
                  700 S.Courthouse Rd.#217       [EMAIL PROTECTED]
                  Arlington, VA 22204
                  (703)920-1710
 +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
+

Kirim email ke