He..he...he...
Baru sadar ya Bang Pohan? Kita yang miskin dari dulu mengeluhnya
Bang!
salam,
ida
>Date: Thu, 25 Mar 1999 14:59:22 EST
>
>Salam!
>Seruan Bung Jossy ini tampaknya serius. Sebelum soal ini melebar jauh
dan
>menimbulkan syakwasangka dan keresahan (pasalnya, banyak orang mati
kelaparan,
>mati tak mampu bayar obat di Indonesia).
>
>Minggu lalu saya meliput Seminar Kekerasan dan Pelanggaran HAM
Indonesia di
>The George Washington University, Corcoran Building, DC. Di situ saya
lihat
>puluhan kalangan Tionghoa membuat Kota Amal Solidaritas untuk Korban
Soeharto-
>Rezim Indonesia-- yang dananya diperuntukkan buat pembelian
obat-obatan,
>makanan para korban dari Aceh, Ambon dan pelbagai penjuru tanah air.
Terkumpul
>di situ USD 652. Sebuah upaya mulia dilakukan saudara-saudara Tionghoa
>Nasionalis kita. Uang langsung diserahkan lewat Ketua tim Relawan Ita F
Nadia.
>
>Beberapa waktu sebelumnya, saya mendengar sumbangan sejumlah uang dari
>kalangan Nasrani buat Ambon-- demikian juga antisipasi para aktivis
IMAAM
>mengumpulkan uang buat para korban Ambon
>
>Apa yang dilakukan saudara-saudara kita Tionghoa, Nasrani, dan IMAAM di
atas
>cukup menyejukkan. Solidaritas Indonesia-- dengan keanekaragaman etnis,
agama
>dan golongan sosialnya-- tercermin di situ. Mereka telah berbuat pada
saat
>yang tepat, kondusif dan dengan jalan yang terhormat pula.
>
>Bagaimana di tanah air sendiri? Dua hari lalu saya berbicara dengan
seorang
>demonstran. Dia menceritakan dukanya karena ada dua familinya yang
ternyata
>meninggal dunia dengan tanpa adanya perawatan sebelumnya. ''Mereka
meninggal
>dunia. Ketika sakit mereka nggak mampu membeli obat,''kata dia.
>
>Meninggal dunia karena sakit dan tanpa perawatan medis. Tak ada uang
untuk
>beli obat-obatan. Betapa mirisnya. Laporan media massa Indonesia plus
laporan
>para keluarga di tanah air yang disampaikan lewat telepon-- semua cukup
>menggambarkan betapa malangnya bangsa kita saat ini. Kita berada di
lembah
>kemiskinan massal! Kejahatan meningkat. Aparat keamanan loyo.
Pemerintah
>kehilangan kepercayaan. Politisi dan para pejabat sibuk berakrobat
kata-kata.
>Kesusahan rakyat tetap tidak membuat para pejabat dan politisi kita
tanggap.
>
>Di depan bangsa internasional dan lembaga internasional-- sebuat saja
USA,
>Eropa, IMF atau pun World Bank-- citra bangsa Indonesia (terutama
Pemerintah
>RI) sudah terpuruk. Kita sudah kehilangan harga diri. Perasaan krisis
saja
>nyaris tidak tercermin di kalangan pemerintah dan segelintir masyarakat
kaya
>Indonesia.
>
>Di tengah-tengah kondisi psikologis inilah saya membaca Surat
Keprihatinan
>Jossy-- seorang mahasiswa S-3 dari GWU dan asal FE-UI. Sisa anggaran
KBRI USD
>300 ribu! Logika Jossy: Jika seluruh KBRI yang tersebar di pelosok
dunia
>melakukan penghematan-- sudah berapa duit yang bisa diselamatkan? Bisa
>membantu orang-orang kelaparan di Indonesia! Bisa ini-bisa itu.
macam-macam.
>
>Itu baru di satu departemen (Deplu). Lantas saya berpikir, ternyata
kita kaya
>juga? Apakah karpet lebih berharga dari nyawa manusia Indonesia?
Ataukah
>keindahan dan kemewahan lebih terhormat dibandingkan harga diri dan
martabat
>bangsa kita sendiri? Barangkali para pakar anggaran Deplu-KBRI punya
teori
>sendiri soal sisa anggaran. Tetapi hati nurani rakyat dan rasa sensitif
kita
>sebagai bangsa yang melarat pun berhak mempunyai teori lain. Surat
>keprihatinan Jossy tersebut merepresentasikan teori hati nurani rakyat.
Rakyat
>berada di tempat yang paling agung!
>
>Sekali lagi perkenankanlah saya menyampaikan himbauan moral ini. Mohon
kita
>berpikir tidak dari sudut pandang sendiri-sendiri. Mari kita gunakan
akal
>sehat, pikiran lurus, hati tenang, tanpa purbasangka, tidak berburuk
sangka,
>nurani yang putih dan bening sembari menempatkan Kepentingan Rakyat dan
Hati
>Nurani Rakyat di atas segala kepentingan golongan, profesi apalagi
korps
>departemen.
>
>
>
>salam,
>ramadhan pohan
>(seorang pejalan)
>
>##########
>
>In a message dated 3/25/99 5:40:22 AM !!!First Boot!!!,
>[EMAIL PROTECTED] writes:
>
><< Subj: Re: [bincang] Urun Rembuk.
> Date: 3/25/99 5:40:22 AM !!!First Boot!!!
> From: [EMAIL PROTECTED] (Jossy P Moeis)
> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
>(Mohammad Soetomo)
> CC: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED] (Ima
>Loethfie), [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Nur Adnan),
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Dutamardin
Umar),
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Firdaus Kadir),
>[EMAIL PROTECTED] (Iskandar Bakri), [EMAIL PROTECTED] (Anton
Manoppo),
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Mulya R.
Dhairyani),
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Irwansyah Soegondo),
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
>(Arianta Anaya), [EMAIL PROTECTED] (Ahmad Helmi '78),
[EMAIL PROTECTED],
>[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
>(Faisal Marzuki), [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] (Priyo
Pujiwasono)
>
>
> Assalamualaikum wr. wb.
>
> Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan rekan-rekan yg dimuliakan Tuhan:
>
> Izinkan saya mengetuk pintu hati bapak-bapak, ibu-ibu, dan rekan-rekan
> sekalian dengan mengangkat permasalahan yg menurut saya patut mendapat
> perhatian kita bersama, warga Indonesia di Washington DC. Sudi kiranya
> meluangkan waktu 5 hingga 10 menit untuk membaca 10 paragraph di
bawah.
> Jika sekiranya terganggu dan merasa hal ini tidak perlu jadi perhatian
> kita bersama silakan email ini di 'delete' saja. Tetapi jika
sebaliknya,
> saya akan sangat menghargai respons dari bapak-bapak, ibu-ibu, dan
> rekan-rekan semua.
>
> Siang tadi saya mampir ke KBRI dan sempat berkeliling melihat
berbagai
> perubahan dan renovasi yg terjadi di rumah rakyat tsb. Hati saya
> bertanya-tanya, dari mana KBRI punya dana untuk melakukan penggantian
> karpet, berbagai pemindahan, penyekatan, dan berbagai pekerjaan
renovasi
> lainnya. Padahal semenjak krisis moneter KBRI katanya menghadapi
kesulitan
> dana. Dan pertengahan tahun lalu, KBRI rajin melakukan berbagai
> penghematan dengan mem-PHK pegawai lokal, mengurangi berbagai
fasilitas
> pegawai dan bahkan memotong gaji pegawai lokal sebesar 20% dan hingga
saat
> ini mereka masih bergaji 4/5 dari gaji sebelum krismon. (note: bila
> keuangan negara telah memungkinkan sudah seharusnya gaji pegawai lokal
ini
> dikembalikan ke tingkat semula).
>
> Semula saya memperkirakan bahwa pendanaan renovasi tsb kemungkinan
berasal
> dari penghematan gaji pegawai. Untung saja tidak. Ternyata menurut
> beberapa sumber, KBRI sedang giat menghabiskan sisa anggaran (SIAR)
yang
> semula untuk biaya pemeliharaan, sebelum memasuk tahun anggaran baru,
> bulan depan.
>
> Hati saya jadi miris. Sementara di tanah air bangsa Indonesia sedang
> susah, kita di sini menghambur-hamburkan uang rakyat yg kita sebut
"SISA"
> tersebut. Di tanah air kini banyak orang kelaparan dan tidak mampu
lagi
> beli beras. Di desa-desa banyak yg merubah 'diet' nya dengan memakan
apa
> saja yg sebenarnya "tidak layak" untuk di makan seperti biji karet,
> belalang, dsb. Banyak bayi meninggal karena kurang gizi, banyak
anak-anak
> putus sekolah, banyak pengangguran, banyak yg frustasi dan secara
kejiwaan
> tidak sehat. Saya kira bapak-bapak, ibu-ibu dan rekan-rekan tahu lebih
> banyak tentang derita yg tak kunjung habis itu. Belum lagi kalau kita
> tambahkan daftar keprihatinan ini dengan berbagai kerusuhan,
pembantaian,
> pengrusakan, dsb-dsb yg masih terus berlangsung hingga saat ini.
>
> Saya bertanya-tanya apakah berbagai perubahan, pemindahan,
penggantian,
> pembongkaran dan penyekatan tersebut memang sangat mendesak? Yg saya
tahu
> karpet yg diganti masih sangat baik kondisinya. Bahkan menurut hemat
saya
> karpet lama yg nggak tau bakal di buang atau dihibahkan ke mana, jauh
> lebih empuk dan halus dibandingkan yg baru. Silahkan mampir ke KBRI
dan
> menilainya sendiri. Apakah produktivitas kerja pegawai KBRI jadi
meningkat
> dengan berbagai pemindahan tersebut? Menurut bapak-bapak dan ibu-ibu
yg
> dipindahkan meja dan kantornya tsb, mereka menjadi sangat terganggu
dan
> hingga saat ini dokumen-dokumen mereka masih berantakan dan menjadi
sangat
> tidak terorganisir. Apakah pelayanan KBRI akan menjadi lebih baik
dengan
> penataan dan perombakan tersebut? Kita tunggu saja hasilnya nanti.
Menurut
> khabar, renovasi, pembongkaran, dan penggantian akan dilakukan lebih
jauh
> lagi bahkan juga terhadap gedung lama. Mudah-mudahan tidak terjadi
lagi
> insiden seperti pengrusakan lukisan klasik di loteng ruang Garuda,
hanya
> karena tidak mengerti seni dan barang mahal yg ada di gedung lama KBRI
> tsb.
>
> Selain penghamburan dalam bentuk renovasi di atas, berbagai
pengeluaran
> tidak 'urgent' lainnya- kalau tidak ingin disebut pemborosan- telah
pula
> dilakukan. Misalnya biaya sebesar lebih kurang US$10,000 untuk
memamerkan
> produksi tekstil Indonesia yg notabene kuotanya sudah dipatok dan
sangat
> disangsikan bisa ditingkatkan dengan berpameran. Demikian pula dalam
waktu
> dekat sebuah pameran busana akan digelar yang kalau tidak salah
kegiatan
> ini tidak bermaksud mencari dana, jadi murni kegiatan pengeluaran.
Satu
> lagi, KBRI bermaksud mengadakan perayaan setengah abad hubungan serasi
> RI-AS tanpa gangguan yang akan memakan biaya besar pula. Sementara,
pihak
> Amerika sendiri sepertinya tidak terlalu antusias akan 'event' ini.
Kalau
> dikaji-kaji ke belakang cukup banyak proyek-proyek yg bagi kita orang
luar
> terkesan dipaksakan dan "genit", seperti penggantian karpet dan
pembuatan
> etalase pajangan baju daerah di ruang Dharma Wanita yg cukup memakan
> biaya. Padahal saat itu kita sedang dalam puncak krisis moneter.
>
> Dalam kondisi keuangan negara yg sangat tidak menguntungkan saat ini,
> kehati-hatian dan skala prioritas harus benar-benar di terapkan secara
> disiplin tanpa toleransi. Kita semua tau bahwa porsi pengeluaran
negara yg
> dibiayai melalui hutang luar negeri semakin membengkak. Setiap
pengeluaran
> apalagi yg berupa devisa seperti yg dilakukan oleh perwakilan RI di
luar
> negeri, memiliki konsekuensi kewajiban pembayaran hutang. Dan siapakah
> yang akan membayar hutang-hutang tersebut? Tidak lain kita-kita
generasi
> muda dan mungkin juga anak-anak kita yg akan berhadapan dengan
hantaman
> kompetisi keras di era pasar global nanti. Tugas pembayaran hutang
ini
> akan semakin berat mengingat banyak sekali anak-anak usia sekolah yg
> drop-out dan kekurangan gizi saat ini.
>
> Kita generasi muda, yang bakal terlibat dalam pembayaran hutang negara
> nantinya, sudah sepantasnya mempertanyakan berbagai penggunaan uang
rakyat
> seperti disebutkan di atas. Kita BERHAK melakukan
"checks-and-balances"
> dan 'auditing' sederhana terhadap pengeluaran uang APBN yg dibiayai
hutang
> tersebut. Sekali lagi, nanti kitalah yg bakal membayar hutang-hutang
> tersebut saudara-saudara!!
>
> Oleh karena itu, saya mengusulkan kepada Permias Washington DC untuk
> mengirim surat kepada bapak duta besar menanyakan urgensi dari
perombakan
> dan proyek renovasi yang tengah dan akan dilakukan. Jika memang tidak
> 'urgent' dan lebih merupakan sekedar menghabiskan sisa anggaran, maka
> sebaiknya dikembalikan saja ke tanah air yang lebih memerlukan
pendanaan
> dan juga sekaligus mengurangi beban anggaran negara. Menurut sumber
yang
> terpercaya, sisa anggaran di perwakilan kita di sini ada sekitar
$300,000.
> Silahkan dihitung perkiraan penghematan yg bisa dilakukan bila semua
> perwakilan di LN mengikuti perwakilan di Washington DC nantinya.
Apalagi
> bila semua instansi pemerintah secara sukarela mengembalikan SIAR nya.
Dan
> memang sudah seharusnya SIAR tersebut dikembalikan, bukan
> dihambur-hamburkan atau dipaksakan untuk habis.
>
> Posting ini tidak bermaksud untuk memanas-manasi atau memfitnah atau
cari
> sensasi apalagi mem-provokasi. Tujuan saya murni untuk membuka hati
kita
> semua dan untuk mengimplementasikan hak tanya saya sebagai warga
negara.
> Demikian juga, ajaran agama yang saya anut menganjurkan untuk
mengkoreksi
> setiap penyelewengan dan kebathilan yg terjadi, lebih dari sekedar
> menidakkan di dalam hati. Mudah-mudahan pendapat saya di atas sesuai
> dengan ajaran-NYA. Dan posting ini juga tidak bermaksud memaksakan
> pendapat saya. Untuk itulah saya melontarkan permasalahan dan usulan
> melalui email ini kepada bapak-bapak, ibu-ibu, dan rekan-rekan semua
untuk
> urun-rembuk. Koreksi saya kalau salah dan silahkan melakukan
peninjauan
> dan investigasi sendiri bagi yang ingin mendapatkan data yang lebih
akurat
> dan lebih objektif bila posting saya ini terasa kurang akurat atau
> memihak.
>
> Lebih dan kurang saya mohon maaf. Salam sejahtera buat bapak-bapak,
> ibu-ibu, dan rekan-rekan semua yang masih peduli dengan reformasi dan
> koreksi sosial demi penyembuhan seluruh tatanan kehidupan bangsa yang
> sedang sakit ini.
>
>
> Salam reformasi.
>
> Jossy P. Moeis
>
>
>
=============================================================================
>=
> JOSSY P. MOEIS Address: Email:
> 700 S.Courthouse Rd.#217 [EMAIL PROTECTED]
> Arlington, VA 22204
> (703)920-1710
>
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
>+
>
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com