Dari dulu yang namanya mau mencoreng organisasi lain itu gampang sekali.
Apa sich sulitnya membayar beberapa orang untuk mengaku menjadi
simpatisan suatu partai dan merusak nama partai itu. Apalagi dengan
kondisi ekonomi susah seperti sekarang. Sekarang tergantung megawati dan
tim untuk berbicara soal itu.
Logikanya mudah sekali, kalau memang itu simpatisan PDI, sunguh tololnya
mereka mau mencoreng pilihannya apalagi pada saat akbar tanjung disana.
Drama dan sandiwara 'blue film' mulai dimainkan. Sekarang akan kembali
rakyat lagi yang menjadi korban, paling tidak 'korban pikiran' yang akan
selalu diombang-ambingkan para 'pemain watak' politik.

mudah-mudahan rakyat tidak akan mudah termakan sandiwara 'sampah'.
peace

FNU Brawijaya wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr wb.
>
> Ternyata alasan sebagai kaum tertindas dijadikan legitimasi
> untuk menindas, memukul, mempermalukan wanita, dsb.
> Kejadian di Purbalingga kemarin justru mencoreng wajah
> organisasi ini. Lambang Banteng yg marah, merah menyala
> seakan sanggup menaikkan tensi pendukungnya.
>
> Saya tidak menyesalkan bagaimana Akbar Tanjung gemetaran
> dan menyesalkan aparat keamanan yg dianggapnya kurang sigap.
> Karma ternyata ada. Bila dulu dia demonstrasi dan membuat
> gemetaran orang ORBA, sekarang dia menjadi pihak yg gemetaran.
> Ironisnya, AT gemetaran sebagai orang orba.
>
> Bagaimana dengan PDI-P? Well, menelanjangi kaum wanita
> di stadion Purbalingga apakah dapat dimaafkan? Dimaafkan
> oleh siapa ya? Saya kira partai-partai lain justru dapat mengambil
> keuntungan dari kebrutalan simpatisan PDI-P. Mungkin PDI-P
> dapat kehilangan suara dari kaum wanita. Bentuk harrassment
> terhadap simpatisan wanita Golkar dapat terjadi pada wanita
> pendukung PKB, PAN, PPP, dan puluhan P... yang lain. Kenapa
> tidak?
>
> Hmm 50% pencoblos adalah wanita. total jendral 25% pencoblos
> wanita ada di Jawa. Take advantage of this...really easy deh.
> Konsentrasi perhatian di 3 prop ini saja sudah bisa meloloskan
> orang masuk DPR. Gile..... Apakah PDI-P juga sadar? Juelas.
> Lha posko-posko itu kan buktinya. Apakah fungsi sebenarnya dari
> posko yang didirikan di seluruh Jawa tsb? Apakah untuk koordinasi?
> Koordinasi apa ya? Koordinasi untuk menelanjangi wanita
> supaya cuman ber-BH? Hehehe...ndak tahu juga.
>
> Yang memalukan adalah tanggapan dari pemimpin teras PDI-P.
> Bila lepas tangan seperti itu, apanya yg lebih baik dari ORBA ya?
> Hmmm...... I dunno.....
>
> Hmmm....lalu saya mesti milih apa ya? Di satu pihak, milih ndak milih
> apa pengaruhnya? Cuman satu suara di antara 100 juta pencoblos.
> Tapi berapa juta yang mikirnya sama seperti saya ya? Kalau gitu
> nggak nyoblos bisa jadi dosa kolektif juga. Okay, bagaimana kalau
> dicoblosin ke partai kecil aja. Ah, ndak bener juga. Banyak partai
> yang sekedar satelit doang. Hmm....tahu ah.
>
> Ternyata oh ternyata, pesta demokrasi ternyata lebih sebagai
> pesta penindasan, kekerasan, intimidasi, pelecehan. Lalu produk
> apa yg dapat diharapkan dari pesta demokrasi macam ini?
>
> Wassalam,
> Jaya
>
> --
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)

Kirim email ke