Assalamu'alaikum wr wb.

Ternyata alasan sebagai kaum tertindas dijadikan legitimasi
untuk menindas, memukul, mempermalukan wanita, dsb.
Kejadian di Purbalingga kemarin justru mencoreng wajah
organisasi ini. Lambang Banteng yg marah, merah menyala
seakan sanggup menaikkan tensi pendukungnya.

Saya tidak menyesalkan bagaimana Akbar Tanjung gemetaran
dan menyesalkan aparat keamanan yg dianggapnya kurang sigap.
Karma ternyata ada. Bila dulu dia demonstrasi dan membuat
gemetaran orang ORBA, sekarang dia menjadi pihak yg gemetaran.
Ironisnya, AT gemetaran sebagai orang orba.

Bagaimana dengan PDI-P? Well, menelanjangi kaum wanita
di stadion Purbalingga apakah dapat dimaafkan? Dimaafkan
oleh siapa ya? Saya kira partai-partai lain justru dapat mengambil
keuntungan dari kebrutalan simpatisan PDI-P. Mungkin PDI-P
dapat kehilangan suara dari kaum wanita. Bentuk harrassment
terhadap simpatisan wanita Golkar dapat terjadi pada wanita
pendukung PKB, PAN, PPP, dan puluhan P... yang lain. Kenapa
tidak?

Hmm 50% pencoblos adalah wanita. total jendral 25% pencoblos
wanita ada di Jawa. Take advantage of this...really easy deh.
Konsentrasi perhatian di 3 prop ini saja sudah bisa meloloskan
orang masuk DPR. Gile..... Apakah PDI-P juga sadar? Juelas.
Lha posko-posko itu kan buktinya. Apakah fungsi sebenarnya dari
posko yang didirikan di seluruh Jawa tsb? Apakah untuk koordinasi?
Koordinasi apa ya? Koordinasi untuk menelanjangi wanita
supaya cuman ber-BH? Hehehe...ndak tahu juga.

Yang memalukan adalah tanggapan dari pemimpin teras PDI-P.
Bila lepas tangan seperti itu, apanya yg lebih baik dari ORBA ya?
Hmmm...... I dunno.....

Hmmm....lalu saya mesti milih apa ya? Di satu pihak, milih ndak milih
apa pengaruhnya? Cuman satu suara di antara 100 juta pencoblos.
Tapi berapa juta yang mikirnya sama seperti saya ya? Kalau gitu
nggak nyoblos bisa jadi dosa kolektif juga. Okay, bagaimana kalau
dicoblosin ke partai kecil aja. Ah, ndak bener juga. Banyak partai
yang sekedar satelit doang. Hmm....tahu ah.

Ternyata oh ternyata, pesta demokrasi ternyata lebih sebagai
pesta penindasan, kekerasan, intimidasi, pelecehan. Lalu produk
apa yg dapat diharapkan dari pesta demokrasi macam ini?


Wassalam,
Jaya



--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke