In a message dated 1/7/99 12:11:56 AM Eastern Standard Time, [EMAIL PROTECTED]
writes:

Yadi:
> saya melihat posting seperti itu adalah posting untuk mengcounter atau
>  sebagai isyu tandingan dari isyu yang sedang beredar saat ini.
>
>  maaf kalo saya melihat seperti itu.

Irwan:
Bung Yadi, anda tidak salah bila mendapat kesan seperti itu.
Saya pun juga merasakan hal tersebut. Sayangnya saya mendengar
hal tersebut dari orang yg saya percayai. Karenanya saya butuh
klarifikasi apakah hal tersebut benar atau tidak melalui milis permias ini.
Tidak hanya soal Tarmizi & Zaenudin MZ, tapi juga saya mencari
informasi atau klarifikasi ucapan Theo Syafei, apakah memang benar
dia mengucapkan kata2 spt yg dituduhkan ataukah dia mengomentari
tentang aktifitas organisasi ICMI dan sub organisasinya seperti KISDI
misalnya.

Dari pengalaman saya, seringkali dengan mudah ketidakjelasan dimanfaatkan
oleh orang/kelompok tertentu untuk mencapai tujuannya. Kita sadari
saat ini permainan politik di Indonesia itu sedang ramai2nya.
Segala hal yg dilihat bisa menjatuhkan lawan politiknya tampaknya
akan dimanfaatkan.

Yadi:
>  hanya saya tidak ingin justru dalam kondisi seperti ini, muncul pemikiran
>  balas-balasan.

Irwan:
Saya pun tidak menginginkan hal tersebut. Karenanya saya
butuh klarifkasi atas berita/isu tersebut untuk saya teruskan.
Tentu saja saya tidak bisa bantah berita/isu itu tidak benar kalau saya
sendiri tidak tahu atau memiliki klarifikasi dari pihak yg mengetahui
masalah sebenarnya.

Yadi:
>  Seharusnya muncul pemikiran, "sebagai kelompok yang memiliki kondisi
>  mayoritas, maka dia yang harus lebih bertanggung jawab terhadap kondisi
>  kedamaian di Indonesia ini"
>
>  misalkan di Kupang, dengan mayoritas Nasraninya, seharusnya muncul sikap
>  dna pemikiran "saya harus bertanggung jawab thd kondisi yang ada"
>
>  begitu pula misalkan seandainya Islam yang menjadi mayoritas, pemikiran
>  dan sikap seperti itu yang harus dipegang.
>  Insya Allah kondisi bakal lebih baik.

Irwan:
Saya pikir kita sudah saatnya menghilangkan soal mayoritas
dan minoritas disini. Mari kita bicara atau berpegang pada hukum.
Kalau hukum mengatakan dilarang orang melecehkan agama orang
lain, maka hukum itu berlaku tidak hanya untuk minoritas tapi juga
berlaku untuk mayoritas.

Dalam hidup bernegara, kalau hukum sudah mulai timpang
ini akan berbahaya.

Di AS sendiri pun jangan dikira tidak ada orang2 atau kelompok
yg rasis. Tapi sayangnya mereka terbentur oleh hukum yg dijalankan
dengan tegas tanpa memandang apakah orang tersebut mayoritas
ataukah minoritas. Saya pikir sikap seperti ini perlu kita contoh.


Yadi:
>  kalo yang anda pikirkan adalah kedamaian semu. saya nggak tahu yang
>  dimaksud seperti apa, dan menekan yang anda katakan itu juga seperti apa
>  saya kurang faham, tapi kalo prinsip yang saya katakan di atas itu
>  dipegang oleh semuanya, saya yakin akan ada kedamaian.

Irwan:
Akan menjadi rentan kalau berkehidupan negara kita sandarkan
pada keinginan atau niat mayoritas dan bukan kepada hukum.
Selain itu akan terlihat seperti nasib minoritas tergantung dari
sikap mayoritas. Ini tidak sehat dan ini tidak benar.
Sudah saatnya bila kita mau hidup bernegara yg sehat harus
bersandar pada hukum.

Yadi:
>  mengenai konfirmasi atas berita yang anda terima, dapat saja anda
>  mengatakan
>
>  "adakah rekan-rekan permias yang punya kaset atau MP3 semua da'wah-da'wah
>  Zaenudin dan rekaman dari Tarmizi dalam acara bla bla bla"
>  atau
>
>  "adakah rekan-rekan permias yang punya salinan atau mp3 da'wah theo
>  Syafei dalam kasus bla bla bla"
>
>  mudah-mudahan mengerti apa yang saya katakan.

Irwan:
Bung Yadi, sampai saat ini saya belum mendapat jawaban
dari anda yg secara jelas dan tegas mengatakan bahwa hal
tersebut tidak benar. Karenanya saya asumsikan anda pun
tidak tahu/yakin akan berita/isu tersebut.

Coba anda renungkan dalam hati, bila ternyata apa yg
saya dengar itu ternyata benar, bagaimanakah sikap anda
terhadap hal tersebut?


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke