>menanggapi tulisan bung Yusuf sebelumnya dimana disebutkan bahwa menurut
>pemain saham dan Adi Sasono (?), adalah bagus apabila tarif Telkom
>dinaikkan, karena dengan demikian maka Telkom akan semakin untung --->
>pajak dan dividend untuk negara. Dan juga disebutkan bahwa asumsi pengguna
>telepon adalah mereka yang berpenghasilan lebih dari rata2 penghasilan
>penduduk (dengan asumsi pengguna 7 juta).
Yw: Sebelumnya terima kasih. :-)
>Saya mempunyai argumen tersendiri :
>1. Tidak bisakah Telkom meningkatkan penghasilan dan untung dengan tidak
>menaikkan tarif ?
Yw: Bisa, tentu aja.
>misal : peningkatan efisiensi, renegosiasi dengan KSO2, company's
>splitting (seperti yang dilakukan Standard Oil, ataupun AT&T beberapa
>puluh tahun yang lalu).
Yw: Dengan berakhirnya era 17.000 KKN ;-), bisa kita lihat
bentar lagi (insya Allah), tingkat efisiensi akan naik.
Kalo ada restrukturisasi (yg lebih radikal gitu), ya itu
bisa juga bikin lebih efisien. Atau kalo pemerintah (the owner)
nggak mau mikir, kasih aja kompetitior (yg tangguh), ini
juga akan memaksa lebih efisien lagi.
>2. Apakah dengan menaikkan tarif, untung pasti bisa ditingkatkan? Dan
>kalaupun bisa, berapa persenkah peningkatannya?
Yw: Kalo bicara short term, ya bisa. Berapa persen, tentunya
tidak linier dg presentase kenaikkannya (lebih kecil).
Tapi sebetulnya yg short term itu nggak perlu dibahas
lebih lanjut.
>Ada argumen lain yang mengatakan bahwa dengan kenaikan tarif, maka
>frekuensi penggunaaan telepon akan berkurang yang leads to reduced
>revenues.
Yw: Betul, jadi harus diitung bener. Penurunan begitu, akan terlihat
sekali kalo ada kompetitor atau substitute (misalnya di
telpon-selular, coba aja kalo ada yg iseng naikin tarif
sendirian, mampus...).
>3. Berapa frekuensi dan persentase penduduk berpenghasilan rendah dalam
>menggunakan jasa telepon?
Yw: Saya sendiri nggak pegang data terbaru; tapi polanya,
sejauh yg saya tahu, mereka itu 'terikat' pada quota spending.
Pake ilmu 'pokok'-nya. Yaitu misalnya: 'pokoknya, berapapun
tarifnya, sebulan biaya nelpon maksimum Rp 50 ribu'.
Jadi kalo tarif naik, spending sih tetep, tapi ya, otomatis
worse off, lah. Sementara kalangan berduit, demand mereka kurang
elastis (terhadap tarif, soalnya untuk kantong mereka, tarif
yg sekarang ini udah murah banget, apalagi yg luar-negeri minded;
dan lagi bagi mereka nelpon udah jadi kebutuhan banget).
Jadi konsumsi mereka tetap (sementara per rupiah, spending mereka
naik).
>Apakah memang justified bahwa kenaikan tarif
>telepon memang proporsional dengan untung yang akan didapat negara dan
>akan dibelanjakan untuk penduduk berpenghasilan rendah yang tidak memakai
>telepon?
Yw: Dg logika di atas, ya akan naik. Kecuali kalo naiknya keterlaluan
(misalnya s/d sama dg selular), ya orang akan cari substitute.
>4. (yang ini tidak berkaitan langsung) Saya melihat bahwa
>pemerintah sekarang ini berusaha mati2an meningkatkan pendapatan dari
>pajak dan cukai. Tapi sayangnya pajak yang dikenakan malah bersifat
>regresif, dalam artian bahwa pajak tidak langsung ditingkatkan secara
>tidak proporsionil (pajak tidak langsung disini adalah PPN, yang sekarang
>cakupannya akan diperluas lagi sehingga meliputi barang2 sehari2 yang juga
>dipakai oleh mereka yang berpenghasilan rendah), sedangkan pajak langsung
>(contoh PPH) tidak diadakan revisi. Sehingga praktis dan sering terjadi
>adalah yang berpenghasilan rendah mensubsidi yang berpenghasilan tinggi
>(relatively speaking). Contoh ini adalah seperti telepon tadi, bisa2 yang
>terjadi adalah rakyat kecil yang menggunakan jasa telepon mensubsidi
>perusahaan besar atau individu berpenghasilan tinggi.
Yw: Sependapat. Menurut saya, untuk menggairahkan sektor riil,
pajak sekarang ini justru harus dipotong. Demikian pula dg
logika bahwa bayar pajak itu bayar jasa (negara), dalam keadaan
kalang kabut gini, jasanya kan menurun (kualitasnya), maka
pantasnya pajak dikurangi. Kalo sektor riil bergairah, toh
pemerintah dan rakyat juga yg untung.
>Salam,
>Ian