Andrew G Pattiwael wrote:
> Jadi ini maksudnya tujuan melatih para milisi-milisi Timor Pro-Integrasi,
> dengan dalih melindungi para pro-integrasi yang ditakutkan akan
> menjadi korban para pro-kemerdekaan setelah Timor menerima kemerdekaan
> penuh dari Indonesia.
Memang akibatnya seperti mengadu domba. Tapi kebijakan ini persis
seperti AS yang mengirimkan senjata diam-diam ke Afganistan. Atau ke Kurdi
di Irak. Itu yang di bawah tangan. Yang di atas tangan ya lihat sendiri Vietnam
Selatan, Korsel. Apakah maksudnya mengadu domba? Kayaknya kok kita
terlalu tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.
> Indonesia (khususnya ABRI) sepertinya memang ingin mengadu domba dua
> kelompok ini. Dari kelompok yang menjadi minoritas, Pro Integrasi telah
> dilatih, dibayayai dan persenjatai untuk menjadi kelompok yang melakukan
> teror, kekerasan, dan intimidasi thd kelompok masyarakat lainnya
> (terutama kelompok pro-kemerdekaan).
Dari dulu saya endak setuju kalau dibilang pro-in dari kelompok minoritas.
Kita nggak pernah tahu seberapa jumlah sebenarnya karena banyak
yang berdiam diri, opini disimpan di dalam hati. Sebelum lebih jauh
menyebutkan mereka dari kelompok minoritas, coba dikasih "alasan-alasan"-
nya. Ndak usah "bukti" karena saya juga maklum kita ndak punya.
> Apakah saya melihat kecongkakan Indonesia yang pada akhirnya juga tidak
> bisa mempertahankan Timor-Timur, lebih baik untuk sekalian
> membumi-hanguskan dan meluluh lantakan daerah ini.
> Tanpa ada tindakan dari pemerintahan Habibie untuk menghentikan tindakan
> kekerasan yang memang sengaja diciptakan oleh kita, malah aparat
> keamanan dalam hal ini ABRI, justru melindungi para kelompok Pro
> Integrasi yang justru baru berbuat onar terhadap niat baik
> pro-kemerdekaan.
Lho niat baik pro kemerdekaan itu apa sih? Kan mereka sudah mendahului
keputusan masyarakat Timtim. Rakyat banyak belum mutusin kok kelompok ini
sudah bikin aba-aba sendiri. Masak ini yang disebut niat baik? Wah, kepriben
mas? Lha sudah ada 2 opsi kok masih menyatakan perang. Tindakan gini ini
masih anda dukung argumene opo tho? Mbok ya tunggu gimana keputusan
rakyat banyak dong. Kalau tiba-tiba ada aba-aba perang dari satu pihak,
jelas kelompok yang merasa berlawanan prinsip juga akan mengangkat
senjata. Masak menyediakan leher mereka buat digorok. Weleh...weleh....
> Dalam hal ini, bukan perlindungan thd minoritas kelompok pro integrasi,
> "kesetiaan" terhadap Republik Indonesia. Prioritas dari posting ini
> adalah "Apakah ada perlindungan terhadap civil liberties atau hak-hak
> untuk hidup damai" sebelum diadakan referendum.
Sekali lagi, istilah minoritas perlu ditinjau lagi. Lha yang pro-kemerdekaan
jumlahe berapa sih? Kan minoritas juga. Jangan-jangan jumlahnya lebih
sedikit dari yg pro-integrasi. Kita ndak tahu sebelum ada pemungutan suara.
Ngapain menyatakan perang? Xanana ini sudah tahu kalau bakal kalah,
dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa mayoritas Timtim pengen
tetap integrasi. Makanya lalu bikin gara-gara. Kalau saya sendiri sih, bila
rakyat Timtim mayoritas pengen pisah malah seneng aja. Bikin capek aja.
Padahal cuman baca berita kok ya capek juga.
> Tindakan Pemerintah dan Aparat Keamanan sudah seperti sejarah yang
> diulang terus menerus. Dengan sengaja mengadu domba kelompok yang pro-RI
> dengan kelompok yang mengancam "kepentingan" Indonesia sehingga
> menimbulkan suatu momok ketakutan yang mendalam bagi para rakyat
> Timor-Timur sehingga pada hari referendum nanti, tentunya setelah
> ditakut-takuti oleh para pro-integrasi (Kelompok ini lebih cocok disebut
> preman-preman Dilli yang pro Indonesia) akan tetap memutuskan bergabung
> dengan "Republik Kesatuan Indonesia" (in sarcastic way)
> Lihat saja kejadian saat penentuan PEPERA di Irian Jaya dan tentunya
> kejadian setelah Invasi Indonesia di Timor-Timur. Selalu kita "mengadu domba"
> kelompok yang pro Indonesia ( tentunya telah dipersenjatai lengkap )
> dengan kelompok yang anti-Indonesia.
Yang berhak menuliskan siapa yang preman dan yg bukan adalah pemenang.
Batas antara ekstrimis dan pejuang sangat tipis. Kita ada di luar sistem,
sehingga sulit untuk menilai. Waktu Israel belum lahir, mereka melakukan
penyabotan, pembunuhan, persis yang dilakukan oleh bangsa palestina
sekarang. Nah, sekarang mereka dan kelompok barat menyebutnya
kelompok ekstrimis. Dulu Iggris juga menyebut pejuang yahudi sebagai
ekstrimis. Nah, siapa yg preman dan siapa yg pejuang jadi nisbi kan?
> Rekan-rekan, posting ini bukan menyangkut integritas kita terhadap
> Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai seorang warga negara, sudah tentunya
> saya ingin melihat kesatuan dan keutuhan kita sebagai "Satu Keluarga".
> Tapi dalam hal ini, "Cara untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan"
> yang telah ditempuh oleh Pemerintah dan ABRI adalah cara yang salah dan
> tidak dapat diterima oleh pencerminan niat baik kita dan menghormati
> "Hak-hak Rakyat Timor-Timur" dan nilai-nilai yang menjunjung kehidupan
> berperikemanusiaan dan berperikeadilan.
Coba dulu menjawab contoh soal saya tentang Desa Sambirejo, nanti
kita baru bisa menjawab pertanyaan bagaimana cara mempertahankan
kesatuan dan persatuan.
> Jikalau memang Pemerintahan Habibie dan Angkatan Bersenjata/ Polri,
> beritikad untuk menyelesaikan masalah Timor-Timur dengan cara damai dan
> tetap menjaga harga diri Bangsa Indonesia,
> Pemerintah dan Aparat harus melempaskan diri dari persekutuan dengan
> kelompok yang pro integrasi, tidak mendanai ataupun mempersenjatai
> kelompok ini yang sekarang telah terbukti malah "justify their fears on the
> other people's suffering" ( Tentunya masih ingat dengan Zionisme Bangsa
> Yahudi yang menjajah dan menderitai Rakyat Palestina sebagai dalih bahwa
> mereka telah menderita dibawah kekejaman Nazi Jerman ? semoga bangsa
> indonesia tidak melupakan itu).
Yahudi menjajah Palestina bukan itu alasannya. Mereka memang nggak
punya tanah atau terusir dari tanahnya sejak ratusan, atau ribuan tahun.
Yang susah mereka terlalu mengungkung diri, mengisolasi diri terhadap
lingkungan. Di Jerman mereka menguasai perekonomian, dan dandanan
rambut dan pakaian yg sangat mencolok. Secara alamiah, orang yg
berbeda (membedakan diri) juga akan dianggap berbeda oleh orang lain.
Lha wong mereka pengen dilihat berbeda kok. Kalau dibunuhi Nazi ya
apesnya mereka kena propaganda Nazi. Kebetulan aja Nazi butuh musuh
dan uang. Cara termudah ya ngambilan duit Yahudi. Bila WNI Keturunan
Cina di Indonesia juga selalu mengisolasi diri, ancaman perlakuan spt
saat kejadian Mei akan selalu ada. Bahkan bilapun UU antidiskriminasi sudah
muncul. Masalah yg ada kan gimana caranya melebur ke lingkungan yg ada.
Contoh yg sama adalah pendatang Madura di Sambas yg gagal melebur
diri. Kalau pendatang Madura di Surabaya dan Probolinggo entah kenapa
bisa melebur diri. Kalau ndak, hasilnya ya sama saja.
> Cabut dukungan apapun thd kelompok pro-integrasi, buat kesepakatan
> dengan kelompok CNRT untuk tidak membalas dendam dan tentunya pegang
> pernyataan Xanana bahwa Pro-Kemerdekaan ingin menyelesaikan masalah ini
> dengan damai. Adakan perundingan untuk penurunan senjata, penandatangan
> untuk tidak mengangkat senjata tapi melainkan menyelesaikan
> permasalahan di meja perundingan.
Lho kok kesannya CNRT lebih berhak mewakili rakyat Timtim itu bagaimana?
> Semoga kita dapat menyelesaikan permasalahan ini dengan akal sehat, penuh
> kedewasaan, dan bertanggung-jawab. Premanisme dan militanisme dengan
> dalih apapun tidak dapat diterima oleh nilai-nilai kemanusian. Apapun
> alasan untuk melindungi para kelompok integrationis dengan meng-approve
> apasaja tindakan mereka, jelas sudah melanggar itikad baik kita sebagai
> bangsa yang "Beradab".
CNRT juga militan. Mereka juga merampoki rakyat Timtim, terutama yg
nggak mau sepaham dengan mereka. Jauh sebelum saat ini. Mereka melakukan
sudah puluhan tahun. Jadi yg promer dan pro-in sudah setali tiga uang.
Ndak ada data yang mendukung argumen bahwa CNRT lebih merakyat,
didukung rakyat, dlsb. Kalau mau lebih jelas, ya tunggu pemungutan suara.
Pertanyaan selanjutnya, gimana caranya CNRT ndak menakuti rakyat agar
memilih pro-kemerdekaan. Keberadaan kelompok pro-integrasi jadi penting
untuk memberi rasa aman kepada rakyat yang mau memilih tetap gabung.
Ngomong-ngomong waktu dua guru dibunuh pro-kemerdekaan kok anda
diam aja sih? Juga para guru dan dokter lain yg ditakut-takuti oleh kelompok
pro-kemerdekaan kenapa anda diam saja? Ada yg dipukuli muridnya, dll.
Mereka mengajukan diri untuk pindah juga nggak boleh. Jangan ngomong
kenapa nggak dibolehin. Lha orang tua murid juga keberatan kalau nggak
ada kelas. Jadi bukan pemda atau instansi terkalit aja yg keberatan.
Semoga aja anda ndak punya saudara guru atau dokyer yg terjebak di
sana.
> Ingat, dalam pernyataan proklamasi kita, kita memproklamirkan Republik
> ini atas dasar penderitaan yang telah kita alami selama beratus-ratus
> tahun dibawah penjajahan kolonialisme. Jangan sampai kita sendiri yang
> membuat Proklamasi dan dasar-dasar yang telah melahirkan dan menjaga
> kelestarian negara ini "menjadi basi" dan tidak relevan.
Salam,
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)