Memang, sampai sekarang tim penyidik sudah menyimpulkan bahwa perampokan
BCA dengan peledakan Istiqlal berkaitan. Saya berharap pihak berwajib
dapat mengungkapkannya.
        Sejak tahun 1996, puluhan kerusuhan merusak tatanan bangsa di
seluruh tanah air Indonesia. Faktor pemicu kerusuhan kyang merusak ini
adalah perasaan tertekan masyarakat selama ini, isu dari provokator,
situasi politik, dan isu SARA ( dikutip dari pembicaraan pak Herlianto).
        Mulai tingginya rentetan kerusuhan sejak peristiwa Trisakti.
Sekarang ini peristiwa di Ambon, dan Sambas hingga Timtim. Orang - orang
yang berani meninggalkan kampung halamannya untuk meningkatkan status
sosialnya, seperti orang Tionghoa dan Madura, baik dijadikan contoh
penduduk asli.
        Kejadian ini sebenarnya harus diselesaikan bukan hanya dengan
penjagaan ketat terhadap rumah ibadah. Penyelesaian ini juga dengan
melihat latar belakang kondisi di sekitar gereja. Gereja sering lupa akan
sekitar nya dengan kondisi lingkungan dan sosial. Bangunan gereja yang
megah di sekitar pemukiman kumuh, membodohi umatnya dengan mengaitkan
Tuhan dan berkat/rejeki yang datangnyapun tidak dikehendaki rakyat, dan
membutakan mata terhadap kondisi rakyat tertindas yang menyedihkan. Belum
lagi  bahwa menganggap bahwa peristiwa 12 Mei merupakan perbuatan saudara
muslim, digeneralisir, padahal perbuatan itu juga dilakukan oleh saudara
yang menganut Kristen. Pemboman Istiqlal juga belum dapat diprediksi
karena kemungkinan ini perbuatan orang yang kebetulan beragama, agama yang
ada di Indonesia, atau orang yang bermain dalam kekuatan politik atau
siapa saja.
        Hanya, peristiwa - peristiwa yang sudah terjadi ini harus dikaji
dan menjadi bahan koreksi saudara Kristen, bahwa selama ini gereja yang
seharusnya garam dan  terang dunia tidak direalisasikan, khususnya di kota
- kota besar. Banyak isu - isu yang dapat meng-generalisasikan agama Islam
sebagai dalang penghancuran gereja yang membodohi umat Kristen sendiri
karena selama ini umat Kristen membodohi diri dengan sikap eksklusifisme
terhadap lingkungan sekitarnya ( walaupun masih ada yang merakyat). Sikap
premordialisme terus menghantui saudara Kristen, dimana dibodohi eleh
kekayaan dan pangkat orang Kristen yang menjadi guru yang membodohi
mereka. Pak Theo Syafei yang membodohi Kita sebagai Kristiani dengan kata
- katanya bahwa perbuatan ini dilakukan oleh saudara muslim, padahal tidak
semua saudara Muslim malah ada orang Kristen juga yang menjadi provokator
dan kroconya.
        Biarlah krisis ekonomi, kerusuhan - kerusuhan menjadi bahan
koreksi bagi saudara Kristen dan saudara Tionghoa yang melupakan tanah air
tercinta, bukan dengan mencari kambing-hitam dan meninggalkan tanah air
Indonesia.

peace

On Tue, 20 Apr 1999, Andrew G Pattiwael wrote:

>         Bayangkan, Mesjid Agung terbesar di Indonesia (Bahkan di Asia Tenggara)
> bisa dibom begitu saja, Mesjid yang adalah kebanggaan Bangsa dan wujud
> dari persaudaraan antar umat beragama dalam hal ini adalah kembaran
> tempat beribadah yang saling berseberangan yaitu Gereja Katedral.
> Peristiwa ini adalah suatu penghinaan yang luar biasa bagi para Kristiani
> Indonesia.
>          Masih ingat tentu pada saat-saat Natal dan Paskah, dimana
> Mesjid agung Istiqlal ini selalu menyiapkan tempat untuk para umat
> kristiani memarkir kendaraannya, begitu juga pada saat Idul Fitri atau
> Idul Adha dimana para umat muslimin juga dapat memarkir kendaraannya di
> gereja Katedral.
>         Dua situs yang saling berdekatan ini, dibangun untuk menjadi sebuah makna
> persaudaraan antar umat Islam dan umat Kristen. Dua situs ini bagaikan
> dua buah tangan yang saling bersalam-salam dan berangkul-rangkulan yang
> merupakan lukisan cita-cita luhur bangsa yang memandang persatuan dan
> kesatuan diatas segala-galanya.
>         Oleh karena itu, saya meminta semua lapisan umat Kristen untuk
> Mengutuk Peristiwa yang Keji dan Kejam ini, Minta ketegasan dan kesigapan
> aparat untuk melindungi tempat-tempat peribadatan diseluruh Indonesia.
>         Dan sebagai seorang Rakyat, kita harus mengingatkan Bapak Menpangab
> Panglima TNI Jendral Wiranto, untuk dapat bersikap lebih tegas dan
> mengambil tindakan yang secepatnya untuk menuntaskan peristiwa laknat ini.
> Ini adalah tugas yang harus diemban sebagai aparat keamanan (termasuk
> Polri) dan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dalam hal ini Rakyat
> Indonesia, mempunyai batas-batas dimana kesabaran itu bisa habis
> (mengutip pernyataan Gus Dur di Detik) dan akan meminta pertanggung
> jawaban mereka selaku yang ditugasi.
>         Perkuat pengamanan setiap rumah-rumah ibadat, lindungi ketenangan
> para rakyat untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan, bukankah ini telah
> dicantumkan dalam UUD 1945?
>         Untuk peristiwa pembalasan di Ujung Pandang, semoga Pemerintah
> Daerah, Kodam dan Polda, serta para sesepuh agama dapat menenangkan
> situasi disana. Ingat, kita belum tahu siapa pelaku pemboman di Jakarta.
> Bahkan mungkin bisa jadi mereka adalah dari umat beragama yang sudah
> tidak peduli lagi tempat ibadah nya dibom, demi untuk memancing amarah
> dan perseteruan antar umat beragama. Pelaku pemboman ini adalah pelaku
> yang ingin bermain di air kotor dan tidak peduli siapa yang akan menjadi
> korbannya. Semoga Tuhan mengampuni mereka di Akhiret nanti.
>         Jangan Terpancing, jangan terpancing. Sudah cukup mesjid dan gereja
> yang rusak dan terbakar oleh kejadian akhir-akhir ini. Sudah cukup
> persaudaran antar Umat Islam dan Kristen dikoyak-koyakan oleh
> setan-setan atau iblis-iblis yang tidak ingin melihat perdamaian.
> Jangan sampai kita sendiri yang mengaku ber-Tuhan bertindak gegabah dan
> tanpa dipikirkan, oleh karena telah demikian emosinya, sehingga
> berkelakuan seperti setan-setan dan iblis-iblis tersebut.
>
>
> Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral, akan selalu menjadi lambang
> persaudaraan antar umat beragama di Indonesia.
>
>
>
> Andrew Pattiwael
>

Kirim email ke