Jarang ada yg mau cerita masa lalu. Setting cerita di tahun 1965,
pas dengan tahun 1998/1999 ini. Lumayan buat bercermin diri,
dan berawas-awas ria. Ternyata jargon semacam KKN juga ada
kala itu.
Salam,
Jaya
'---------------------------------
Forward: Tulisan Drs. Pulungan
Genjer di Kali Code
Dalam makalahnya yang berjudul �The Aceh Question� yang disampaikan
dalam seminar yang berjudul �The Future Integration Of Indonesia: Focus
on Aceh� yang diadakan di American University pada tanggal 3 April yang
lalu, Prof. Dr. Teuku Haji Ibrhim Alfian antara lain mengatakan �History
is actually the bridge connecting the past with the present and pointing
the road to the future�.
Sebagai simbol dari the past saya di Yogya , sebagai judul dari tulisan
ini saya gunakan kalimat diatas, �Genjer di Kali Code�.
Kata genjer sering dinyanyikan Gerwani pada tahun 1965, dan ada yang
mengatakan itu adalah kata sandi untuk genjot jenderal seperti yang
bermuara di Lobang Buaya.
Genjer sebenarnya adalah nama tumbuhan yang tumbuh dalam air di pinggir
sungai yang biasanya digunakan sebagai sayuran antara lain menjadi
bagian dari pecal.
Tumbuhan ini banyak tumbuh di pinggiran kali Code yang mengalir membelah
kota Yogyakarta dari utara ke selatan.
Pada waktu itu mulai tahun 1960 saya bersama keluarga, satu isteri dan
dua anak balita tinggal di Nyutran, diujung selatan Jalan Taman Siswa.
Saya tinggal di rumah gedek yang juga dihuni tinggi, tanga ataupun
kepinding, mandi air sumur dan pakai lampu listerik dengan watt yang
sangat minim, dalam suasana listerik giliran hidup dan bukan giliran
mati, karena matinya lebih sering dari hidupnya.
Pada waktu itu sebagai pegawai negeri saya mendapat tugas belajar, untuk
menyelesaikan tingkat doktoral.
Bagi orang orang baru, yang sudah mengenal sistem semester, tentulah
aneh mendengar sarjana strata 1 menyelesaikan tingkat doktoral, namun
demikianlah adanya tempo dulu, jenjang pendidikan dibagi dalam tingkat
tingkat, mulai tingkat propadeuse atau tingkat persiapan, kandidat I dan
II, dilanjutkan dengan tingkat doktoral I dan II.
Belakangan tingkat kandidat I dan II dirubah menjadi tingkat bakalaureat
I da II, dimana terminal pendidikan adalah bakalaureat dan berhak
menyandang gelar B.Sc atau B.A.
Maksud perobahan ini adalah untuk segera mengisi kekurangan SDM,
walaupun penyandang bakalaureat ini bisa melanjutkan ketingkat doktoral.
Pada waktu itu ada tunjangan keahlian untuk pegawai negeri yang memenuhi
syarat, dan pemegang B.A./B.Sc ini berhak menerimanya.
Dengar gelar B.Sc saya ditempatkan sebagai asisten diperbantukan pada
Akademi Perniagaan Kalimantan di Banjarmasin. Akademi ini adalah akademi
swasta namun mendapat dukungan dari Pemda dengan memberikan tunjangan
daerah 100% dari gaji pegawai negeri yang bersedia ditempatkan di
akademi ini.
Suatu kesan umum, bahwa kemajuan hanya bisa diperoleh dengan menambah
pengetahuan, atau dengan istilah sekarang memperbaiki mutu SDM.
Akademi inilah yang kemudian berkembang jadi Universitas Lambung
Mangkurat.
Sesudah bertugas dua tahun, saya kembali melanjutkan studi sebagai
pegawai tugas belajar, artinya penghasilan tetap sebagai pegawai negeri
dengan tugas belajar. Tunjangan daerah dengan sendirinya hilang.
Gaji dan catu sangat tidak cukup, hanya diberikan 8 kg beras perorang,
sedangkan tarip orang Batak adalah 16 kg untuk seorang dewasa. Saya
menghibur isteri saya agar sabar, ada masanya nanti berasmu berlebih.
Saya mengutamakan anak dan isteri untuk mendapatkan gizi yang lebih
cukup dan saya mengalah dengan mengkonsumsi sarapan singkong. Karena itu
saya sangat terpukul dengan adanya berita dari berbagai daerah di tanah
air yang mengatakan banyak balita yang meninggalkan karena kurang makan,
bagaimana pula nasib yang terus hidup tetapi perkembangan otaknya sudah
terganggu.
Nah dalam keadaan �rawan gizi� itulah saya melihat genjer sebagai
makanan alternatif.
Namun sekali memakan rebus genjer perut langsung sakit,sehingga
alternatif makanan murah itu sirna.
Dalam keadaan rawan gizi itu saya melaju speda Nyutran - Bulak Sumur
yang jaraknya sekitar 5 km, belum lagi kalau sore hari ada kuliah atau
asistensi, sehingga saya bisa naik speda sepuluh atau duapuluh km
perhari, tergantang ada atau tidak kuliah atau asistensi sore hari.
Untunglah sewaktu perut berisi walaupun singkong dipagi hari melaju
dalam keadaan menanjak ke utara, sedangkan pulangnya dalam keadaan lapar
keadaannya sedikit menurun.
Turun dari Banjarmasin berat saya sekitar 65 kg, dan pada saat selesai
studi dua tahun kemudian berat badan saya tinggal 40 kg, dan anehnya
kalau ada yang bertanya mengapa berat badan saya susut, tidak ada yang
percaya kalau saya katakan karena kurang makan.
Dengan bekal Drs saya ditugaskan kembali sebagai (asisten dosen) dalam
mata kuliah Ekonomi Perusahaan di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera,
namun kemelut ekonomi belum terpecahakan.
Dengan izin Presiden Universitas ( belakangan jadi rektor karena bung
Karno ingin jadi orang satu satunya yang dipanggil Presiden) saya nyambi
bekerja pada perusahaan terbesar di Medan pada waktu itu.
Tahun 1966 adalah tahun kebangkitan Orde Baru, segala kebobrokan
ditimpakan pada Orde Lama. Perusahaan Negara Perkebunan yang banyak
terdapat di Sumatera Utara mulai mengadakan perbaikan menajemen dengan
mengadakan gerakan pembaharuan manajemen, karena istilah paling populer
pada waktu itu adalah mismanagement yang sekarang berganti dengan KKN.
Mereka mengadakan hubungan dengan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara dan saya sebagai dosen Ekonomi Perusahaan (model Belanda yang
kemudian tukar baju jadi manajemen) ikut sebagai dosen tamu dalam kursus
kursus pimpinan perusahaan yang diadakan perkebunan.
Berkat pengenalan dan perkenalan ini, beberapa bulan kemudian saya
diterima sebagai pegawai perkebunan.
Pada akhir bulan pertama, saya membawa gaji bulanan kerumah dan seperti
biasa semua saya serahkan kepada isteri saya tanpa dikurangi. Kalau
tidak salah waktu itu jumlah sekitar 4 kali gaji sebagai pegawai negeri.
Apa yang terjadi mungkin tidak ada yang percaya. Isteri saya satu hari
tidak makan, dan mengatakan ia merasa kenyang. Saya teringat guyonan
dosen saya, income makes a man.
Kawan kawan mahasiswi sewaktu di kampus secara guyon juga mengatakan,
kalau ada yang naksir, mereka segera mengadakan evaluasi, sepatunya
harga sekian, celananya sekian, kemejanya sekian, below standard dan
keputusannya: No. Ada yang mengatakan cloth makes a man, tetapi yang
lebih benar adalah dibalik itu: income makes a man seperti kata dosen
saya itu.
Sebenarnya apa yang terjadi adalah gaji sebagai pegawai perkebunan jauh
diatas gaji pegawai negeri, jadi bukan sesuatu yang luar biasa. Nasib
pegawai negeri ini tidak berobah selama republik ini berdiri, anak saya
juga mengalami hal yang sama.
Keadaan yang hampir sama saya alami sewaktu saya menerima rapel ikatan
dinas selama 4 bulan, saya langsung membeli singlet setengah lusin
dibanding dengn biasanya satu biji, dan karena dalam ukuran saya hal itu
luar biasa, dan saya langsung tanya saya dapat diskon berapa, yang
membuat pelayan toko balik bertanya diskon apa. Baru saya sadar bahwa
beli singlet setengah lusin bagi saya adalah banyak namun bagi pelayan
hal itu adalah hal yang biasa.
Masuknya saya ke perkebunan bersamaan dengan lahirnya Orde Baru, yang
merobah kebijaksanaan �to hell with your aid� menjadi menerima bantuan
luar negeri asalkan tanpa ikatan, apalagi ikatan politik. Jauh kemudian
Dr Djisman Simanjuntak mengatakan mungkin ikatan politik bisa dicegah,
tetapi commitment tetap ada.
Istilah banutuan tidak mengikat ini selalu tercantum dalam GBHN,
walaupun hutang kita sudah menggunung dan menggelinding menimpa
perekonomian itu.
Bij gebrek aan beter, karena tidak ada yang lebih baik, kata prof.
Soepomo dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar menjelang Perang
dunia II, sebagai sindiran bahwa ia diangkat sebagai guru besar hanya
karena guru besar Belanda tertahan di negerinya akubat perang.
Demikian juga keadaan sarjana sarjana S1 (walaupun plus karena diterima
langsung jadi calon Doktor) bahkan beberapa orang tammatan MHS
(Middelbare Handels School) harus berhadapan dengan S2 dan S3 yang jadi
anggota team Bank Dunia, Bank Asia dan institusi keuangan lainnya yang
datang lapis demi lapis, mulai dari kunjungan pendahuluan, kunjungan
penyusunan proposal, kunjungan penanda tanganan perjanjian, kunjungan
evaluasi implementasi, disamping berhubungan dengan konsultan yang
ditugaskan bank bank pemberi dana untuk mendampingi dan mengawasi
penggunaan kredit dan mereka dapat penbayaran antara 10-20% dari nilai
kredit.
Dalam encounter ini timbullah suasana saling merendahkan, tahu apa bule
bule ini soal kebun, di negerinya kan tidak ada kebun.
Tahu apa inlander inlader ini, mereka kan pendidikannya rendah.
Pernah seorang anggota konsultan dari Sri Langka mulai dengan
ceramahnya: You know the management function are planning, organizing
....... namun sebelum diteruskannya saya sambung directing and
controlling.
Ia bertanya dimana kamu pelajari itu dan saya menjawab hal itu adalah
yang saya ajarkan pada mahasiswa saya.
Persoalan bahasa juga jadi masalah. Sebagai contoh, sudah terbiasa
diperkebunan sawit ada yang dinamakan lori alat pengangkut tandan buah
segar yang bisa langsung dimasukkan kedalam rebusan (sterilizer).
Sewaktu mereka menanyakan berapa jumlah lori yang ada dijawab dengan
sekian ribu, dan mereka sangat terkejut, karena bagi mereka lori (lorry)
adalah truk pengangkut.
Namun setelah unpleasant encounter ini, lama lama terjadi hubungan
saling menghargai.
Yang paling mereka utamakan adalah management information system, yang
menyampaikan laporan secara akurat dan tepat, yang disusun secara
berlapis tergantung pada para pemakai. Untuk direksi sudah condensed
namun bila perlu dapat di break down, yang lebih break down ini adalah
untuk para kepala bagian dan administrtur dan pada level yang lebih
bawah lebih terperinci lagi.
Saya terlibat dalam penyusunan management information system pada era
komputer masih merupakan alat yang langka.
Sekarang dengan adanya electronic data processing, sistem informasi
semestinya dapat lebih akurat, terpercaya dan tepat waktu.
Ada sepuluh tahun saya terlibat dalam penyempurnaan sistem informasi ini
dan merasakan nikmatnya bekerja dengan informasi yang dapat dipercaya
dan diterma tepat pada waktunya, pengambilan keputusan juga lebih mudah
karena gerakan angka angka (table talk) itu memberi arah pada keputusan
yang akan diambil.
Sesudah saya pensiun, surat kabar dihiasi dengan berita berita
manipulasi, saya sulit membayangkannya bagaimana bisa terjadi justru
pada masa komputer sudah jauh lebih canggih kapasitasnya dan harganya
juga lebih murah.
Kesimpulannya adalah semua itu terjadi karena manusianya yang tidak
seimbang.
Manusia yang seimbang adalah yang inteligent quotient, emotional
quotient dan spiritual quotientnya seimbang.
Ada atau tidak adanya keseimbangan itu terlihat antara lain dari kata
yang bermakna.
Harian Kompas pada tanggal 22 April 1999 memuat berita yang bagi saya
cukup menarik. Dengan judul Melempari Polisi Saat Tawuran, Sembilan
Pelajar Ditembak, diceritakan tawuran antara pelajar SMU Tamansiswa
dengan pelajar SMU Muhammadiyah.
Yang menarik adalah dua nama besar yang dijadikan nama perguruan itu,
Tamansiswa dan Muhammadiayah seolah olah tidak memberi kesan apa apa
pada pelajarnya, sehingga sanggup tawuran. Keunggulan manusia terhadap
malaikat adalah pengenalannya terhadap nama dan dalam nama itu
terkandung makna telah terlupakan.
Tidaklah mengherankan kalau dalam surat kabar disorot mengenai
pendidikan, misalnya artikel dalam Kompas pada tanggal 15 April 1999
dengan judul Pendidikan sebagai Korban Politik dan pada tanggal 20 April
1999 dengan judul Pendidikan sebagai Terdakwa.
Bahkan para pakar membahasnya dan kumpulan pembahasan itu diterbitkan
dalam bentuk buku yang berjudul Bahasa dan Kekuasaan.
Sesuai dengan kutipan pidato Alfian diatas saya baru cerita tentang masa
lalu, dan masa sekarang saya adalah sebagai pensiunan yang frustasi,
saya merasakan manisnya ilmu yang membuat saya maju dalam pekerjaan,
namun saya merasa sangat kecewa, ilmu itu menjadi tidak berdaya. Dan
ketidak berdayaan ilmu itu karena ia jatuh ditangan orang yang tidak
seimbang.
Lihatlah menjamurnya gelar PhD, MBA dan rata rata itu digondol oleh
orang yang punya uang, sehingga dalam masyrakat ada dua golongan PhD,
PhD jalur lambat dan PhD jalur cepat yang sanggup membayar tarip toll.
Mula mula terlampau mendewakan intelek, ratio yang tinggi, kemudian
diyakini perlunya emotional quotient dan itupun kurang tanpa adanya
spiritual quotients.
Pada dasarnya pemikiran mendirikan negara sosialisme religius yang
dicita citakan Hatta mengandung pentingnya spiritual quotient itu.
Tiga puluh tahun kita terjerembab karena ketiadaan keseimbangan itu dan
pada awal orde reformasi ini sisa sisa ketidak keseimbangan itu masih
terus menghias media cetak dan elektronik, berita tentang penyalah
gunaan JPS dan upaya menutupinya, usaha usaha kotor dalam pencetakan
formulir pemilu, adanya money politics.
Tugas sejarah terakhir adalah pointing the road to the future, kata
pepatah yang yang dikutip Alfian seperti yang ditulis diawal tulisan
ini.
Masa lalu menunjukkan kerinduan pada supremasi ilmu dan penggunaan ilmu,
kemudian supremasi ilmu hilang bahkan disadari adanya trilogi
inteligent-emotional- spiritual quotient telah terpinggir selama Orde
Baru dan the future kita adalah mengembalikan hegemoni ilmu dengan
membina keseimbangan tri quotient yang disebutkan diatas.
Jelas ini bukan suatu barang baru, cipta-karsa-rasa yang berketuhanan
adalah istilah lain untuk tri quotient itu.
Inilah sosok manusia Indonesia baru, sosok manusia seutuhnya yang
sangkut diujung bibir selama tiga puluh tahun lebih,
dan sekarang tiba masanya untuk kita coba kembali mengaktualisasikannya.
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)