Sdr. Efron

Mungkin karena pengaruh bahasa asing, -eur menjadi -ir dan -ur seperti
amateur menjadi amatir, formateur menjadi formatur. Kemudian -eur dan
-or menjadi -ur, seperti condecteur (conductor) menjadi kondektur,
directeur (director) menjadi direktur, inspecteur (inspector) menjadi
inspektur.

Saya masih bertanya-tanya tentang suffix -is dari kata "reformis".
Contoh-contoh yang ada seperti pelaku imperialisme disebut imperialis,
pelaku sosialisme disebut sosialis, pelaku terorisme disebut teroris,
pelaku kapitalisme disebut kapitalis, jadi pelaku kata berakhiran -isme
adalah -is. Suffix -is lain yang sering dijumpai antara lain: aktivis,
ektremis, jurnalis, resepsionis, pesimis, optimis, dsb. Mungkin
gara-gara "sudah diterima di kalangan intelektual" maka suffix itu tidak
dikaji lebih lanjut.

Regards.
Yohannes Yaali

On 04/06/1999 at 15:52:00 Efron wrote:
>Sdr. YY,

>Sebenarnya kata-kata ini tak perlu diperdebatkan lagi. Kata-kata ini sudah lama
ada di kosa kata Indonesia. Namun orang tak menyadarinya (baca: tak hirau).
Seperti "provokator" yang semestinya "provokatur" karena dari kata "provocateur"
sebenarnya sudah jelas bahasa Indonesianya yaitu "penghasut". Pelaku reformasi
dapat disebut "reformis" karena diserap dari "reformist" dan dapat juga kita
sebut "pembaharu". Istilah "reformatur"  tidak ada artinya karena bahasa asalnya
tidak ada istilah "reformator". Anehnya mengapa "director" menjadi "direktur?
Ini yang saya tak tahu.

>Efron

Kirim email ke