Sdr. Efron,

Terima kasih. Saya belum dapat mengomentari alasan Tim Penyusun Bahasa
seperti yang Anda tuliskan. Hanya mungkin ada kekeliruan saya dalam
tulisan terdahulu. Saya menulis pelaku provokasi sebagai "provokatur"
dan pelaku reformasi sebagai "reformatur", demikian juga pelaku
proklamasi sebagai "proklamator", padahal pelaku reformasi sedang
getol-getolnya disebut "reformis".

Apakah benar saya keliru?

Regards,
Yohannes Yaali

On 04/06/1999 at 07:35:10 Efron wrote:

>Sdr. YY,

>============
>Catatan: ralat pada baris terakhir tertulis "...."provokator" yang ada
maknanya" yang semestinya "......."provokator" yang TAK ada maknanya".
>Demikian ralat disampaikan.
>============

>Saya masih tak menerima alasan Tim Penyusun Bahasa (TPB) untuk memperkosa suatu
istilah yang katanya "sudah diterima masyarakat". Sesuatu yang sudah salah
kaprah oleh masyarakat tidak diusahakan untuk dibenahi dengan bahasa yang benar.
Jadi TPB juga mesti direformasi.

>Namun demikian bahasa bukan sekadar asal komunikatif atau bukan asal orang lain
tahu. Terutama yang lewat tulisan. Kalau hanya berdasarkan "asal orang lain
tahu" maka tak perlu kita berpayah-payah menulis. Cukup dengan "nuding-nuding"
seperti Tarzan. Bahasa dapat dijadikan dokumentasi lewat karya tulis.

>Mengapa Anda ragu menulis "pelipuran" dan "peliputan"? Pelipuran adalah hal
melipur/menghibur, sedang "pelipur" adalah orang/alat/sarana untuk menghibur.
"Peliputan" adalah hal meliput, sedang "liputan" adalah hasil meliput (sama
seperti yang Anda tulis).

>TPB terbukti juga tak panggah (inconsistent). Contohnya, mereka menulis
"nomina" yang padahal memang sudah ada "kata benda" (noun). Contoh lagi "verba"
yang sudah lama kita mengenal dengan "kata kerja" dan itu adalah istilah yang
benar. Dalam bahasa Jawa gejala ini disebut "RURA BASA" (baca: ruro boso).
Maksudnya ialah membenarkan suatu istilah namun akhirnya terpeleset. Contoh:
"menek klapa" (memanjat kelapa). Mana ada sih orang "memanjat kelapa"? Contoh
lain: "ngliwet sega" (baca: ngliwet sego) yang artinya "menanak nasi". Kalau
dipikir-pikir kok kurang kerjaan sekali sudah jadi "nasi" kok mesti dimasak
(lagi).

>Menyoal "ngliwet" tadi saya jadi ingat lagu Bee Gees yang judulnya "Words".
Dalam "ref."-nya mereka menyisipi bahasa Jawa. Tidak percaya? Coba nyanyikan
"ref."-nya berikut ini ".....iso ngliwet" yang diterjemahkan menjadi "....it's
only words...." He...he...he....

>Salam,
>Efron

>NB: Saya tak membahas istilah "provokator" yang tak bermakna itu karena saya
sudah pernah membahasnya di sini beberapa waktu yang lalu (saya lupa).

Kirim email ke