Buat Bung Pattiwael :
Saya sangat tertarik karena anda secara langsung menyimpulkan
"bagaimana manusia Indonesia yang sesungguhnya" cuma mau komentar,
bagaimana reaksi wanita itu bila yang datang adalah anak Irian
asli(katakanlah berumur 6 tahun)? Saya yakin wanita itu tidak akan
ketakutan. Mudah sekali, jelas wanita itu masih merasakan adanya
"ancaman" menurut versi dia sendiri. Jadi ini hanya masalah persepsi
karena dia belum yakin dengan siapa dia berhadapan, dan waktu akan
membuktikan apakah ancaman itu memang benar-benar ada; jadi saya yakin
untuk sementara waktu wanita itu "kompromi" dengan cara "menahan diri"
sambil mencari-cari posisi baru yang "aman".

Bung Pattiwael, senang juga bisa diskuis dan  menceritakan pengalaman
saya kepada rekan-rekan di Permias.
Sebenarnya Irian itu terkesan "sangat jauh" bagi rata-rata orang
Indonesia. Kalau bung Pattiwael menanyakan kepada rekan-rekan di
Permias, saya sangat yakin bahwa mayoritas dari mereka belum pernah
pergi ke Irian.
Karena kondisinya demikian, kita rata-rata orang Indonesia hanya dapat
berharap bahwa siapapun yang berbisnis di sana tidak "mentang-mentang"
dan tidak berlaku seperti penjajah.
Bung Pattiwael, saudara kita dari Irian memang agak berbeda dengan
saudara setanah air yang berasal dari Jawa. Sampai dengan saat ini
kualitas sumberdaya manusia asal Irian ini secara rata-rata memang
masih rendah. Kongkritnya kalau ada rekrutmen pegawai dan saudara kita
yang dari Irian ini bersaing dengan yang dari Jawa.....wah...susah
juga, dan itu yang terjadi di Tembagapura. Sementara ini saudara dari
Irian masih lebih banyak mengurusi pekerjaan yang membutuhkan fisik
yang prima, dalam hal ini saudara kita dari Irian (dan Maluku tentu
saja) memang lebih potensial daripada saudara kita dari suku lain.
Kemudian, seperti biasa, di dalam perusahaan itu kan selalu ada posisi
"manajemen", "supervisor" dan sebagainya yang singkat kata lebih
mengutamakan "pikir" daripada "otot", dan tentu saja posisi-posisi itu
dengan segera diisi oleh orang "non Irian". Apakah karena hal ini lalu
bung Pattiwael menyimpulkan saudara-saudara kita yang "non Irian" itu
adalah penjajah ?
Memang sulit untuk memakmurkan saudara yang ada di Irian, sebenarnya
sama saja dengan wilayah lain di Indonesia. Bung Pattiwael, apa
komentar anda tentang Aceh, Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur ?
Saya sangat setuju bila dikatakan bahwa usaha pemerintah kita itu
"keterlaluan sekali kurangnya".
3 tahun lalu saya makan bersama dengan para kepala suku di Tembagapura
dan saya sedih sekali karena yang namanya "kepala suku" saja
kesejahteraannya minim sekali, apalagi yang anggota suku biasa. Kalau
anda "jalan-jalan" di pagi hari antara Tembagapura dan Kuala Kencana,
anda masih banyak melihat wanita memakai noken di kepala dan membawa
panah kan ?
Saat ini kesejahteraan rakyat di Indonesia memang masih rendah, bung
Pattiwael, orang-orang seperti anda (yang punya perhatian kepada
rakyat) itu lah yang diharapkan menjadi pemimpin. Orang-orang yang anda
katakan "penjajah" itu era kepemimpinannya segera berlalu, oleh karena
itu saya masih optimis bahwa masa depan Indonesia itu bagus.

Bung Pattiwael, kita ini bukan generasi "perampok", dan kalaupun
sekarang ada "perampok" maka semoga para pemimpin kita yang sering
menyebut dirinya sendiri sebagai "kaum pro reformasi" itu agar segera
"memberesi" mereka.

Ngomong-ngomong, bung Pattiwael, "perampokan" itu bukannya lebih banyak
di Jakarta ? (termasuk yang diundang oleh BPPN ?).

Yah...sebagai selingan.....ada juga kok orang Irian yang tidak suka
mengurusi tanah leluhurnya dan malah senang jadi "pelindung" di
Mabes.....bukannya Mabes ABRI...tapi Mangga Besar....dan...anggota MPR
lagi...??
Anda tahu khan siapa orangnya ?

Terus berhubung bung Pattiwael menyebut-nyebut "penduduk asli Irian"
dirugikan....ada baiknya juga kita buka forum diskusi "penduduk asli
Betawi" banyak dirugikan...bahkan..sebagian tanah leluhur mereka
contohnya kawasan "Pantai Mutiara", Glodok dan Mangga Dua...telah
diduduki oleh "penjajah".....sampai-sampai suku Betawi terdesak
"mundur" ....dan bermukim di sekitar.....Depok......menarik ??

Salam dari rekan diskusi,
Dody



--- Andrew G Pattiwael <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Cerita anda menunjukan bagaimana manusia indonesia
> yang
> sesungguhnya.....masih belum bisa menerima perbedaan
> yang tampak dalam
> wujud fisik dan hanya dapat mengatakan bahwa dia
> bukan seseorang yang
> mempermasalahkan perbedaan. Apa yang dia ucapkan
> sungguh jauh berbeda
> dengan apa yang dia lakukan. Teman anda yang
> ketakutan dengan orang Irian
> ini banyak sekali dijumpai di Tembagapura. Anda
> kesana sekali-kali, lihat
> bagaimana kita, orang indonesia, sang penjajah,
> memperlakukan warga asli
> yang sudah lama tinggal disana, pemilik sah tanah
> papua, dan yang
> terus-terusan dirampok oleh kita.
> Apakah ini memang mental bangsa indonesia? yang
> hanya besar mulut tapi
> kalau diminta untuk memperlihatkanya tidak bisa...
> Seperti yang pernah saya tanyakan pada permias, yang
> akhirnya tidak
> pernah dijawab, dan sepertinya tidak mau dijawab.
> Bagaimana kita selama ini memperlakukan Irian Jaya?
> Kenapa orang
> Indonesia selalu tidak bisa melihat bahwa kita
> adalah penjajah di tanah
> Papua. Kenapa selalu Indonesia yang merasa dirugikan
> apabila kita
> berbicara ttg Freeport Indonesia, tanpa melihat
> bahwa yang dirugikan
> sebenarnya adalah penduduk asli Irian Jaya.
>
> Andrew Pattiwael
>
>
>
> On Sat, 5 Jun 1999, Nasrullah Idris wrote:
>
> >      Ada seorang wanita datang ke rumah saya. Ia
> banyak bercerita tentang
> > persamaan/keadilan. Katanya, setiap manusia itu
> mempunyai kedudukan yang
> > sama. Sambungnya lagi, kita tidak memperlihatkan
> perbedaan hanya karena ras,
> > suku, dan etnik.
> >      Saat ia begitu asyik beretorika, datanglah
> seorang teman saya asal
> > Irian Jaya mengetok pintu.  Lalu ia membuka pintu
> karena dekat dari pintu
> > masuk, Entah kenapa, ia seperti ketakutan.
> Ekspresi wajahnya jadi lain.
> > Pembicaraan pun jadi terhenti.
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Nasrullah Idris
> >
>

_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke