FYI.

*********** FORWARD SEPARATOR  ***********

>> Subject: [iluni12] Melihat Indonesia di Tangan Mega
>>
>>-----Original Message-----
>>> >Lumayan mudah-mudahan posting ini bisa  untuk bahan diskusi ......
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>Melihat Indonesia di Tangan Mega
>>>>PERCAYA atau tidak, banyak orang mulai bertanya begini:
>>>>"Bagaimana ya nantinya Indonesia di tangan Mega?" Pertanyaan ini tidak
>>>>saja muncul dari luar kandang PDI Perjuangan (PDI-P), tapi juga dari
>>>>para pejuang banteng sendiri. Mengapa? Tentu saja karena Mega adalah
>>>>kandidat presiden yang paling diperhitungkan saat ini, dibanding
>>>>Wiranto, Amien Rais, atau Gus Dur sekalipun.  Satu lagi-ini yang
>>>>mengkhawatirkan--, lantaran konflik internal yang dahsyat sekaligus
>>>>ultrapelik di tubuh banteng bermulut putih itu disinyalir juga bakal
>>>>berimbas pada keutuhan bangsa ini. Itu sebabnya, nasib Indonesia dan
>>>>PDI-P sendiri bakal juga ditentukan performance pribadi serta politik
>>>>Mega. Apa maksudnya? DALAM sebuah percakapan di kafe hotel berbintang,
>>>>seorang pengurus teras PDI-P sempat berkeluh kesah kepada Surabaya Post.
>>>>Kata salah satu tokoh penting PDI-P ini, Mega sekarang sudah berubah,
>>>>tak seperti dulu lagi. Putri Bung Karno ini mengambil jarak dengan
>>>>banyak orang, bahkan yang dulu mendukungnya mati-matian dengan risiko
>>>>darah bahkan nyawa. "Saya dulu bebas masuk ke ruangan Mbak Mega. Ya
>>>>makan bersama, ngomong-ngomong enak. Jadi enak saja kalau mau ketemu
>>>>Mbak Mega. Tapi sekarang? Ibaratnya, makan semeja saja sudah nggak
>>>>bisa," ujarnya mengudar keluh.  Keluhan serupa juga datang dari seorang
>>>>kader PDI-P Surabaya, yang dua pekan lalu berangkat ke Jakarta hendak
>>>>menjumpai pemimpin besarnya. Tapi apa mau dikata, di sekitar Mega
>>>>ternyata berdiri pagar protokoler nan kukuh-ketat. "Begitu nyampai di
>>>>kantor, saya dicegat orang DPP. Saya tidak diizinkan bertemu Ibu Mega.
>>>>Katanya, pesan cukup disampaikan lewat dia...," ujarnya.  Walhasil, sang
>>>>kader musti menelan kecewa. Dia harus balik ke Surabaya tanpa sempat
>>>>sedetik pun bertemu Mega. "Kok begitu ya?  Perasaan, Ibu Mega dulu ndak
>>>>begitu?" katanya lagi dengan nada tanya. Ada apa memangnya dengan Mega?
>>>>Sebetulnya ini sudah rahasia umum dan terbeber jelas di media massa:
>>>>bahwa kandang banteng perjuangan itu tengah gelisah oleh konflik
>>>>internal.  Sudah banyak terdengar bagaimana Mega dikepung beragam kubu
>>>>yang diciptakan para pengikutnya. Sudah menjadi cerita lama pula
>>>>bagaimana sang suami, Taufik Kiemas, amat ketat mengawal segenap
>>>>kebijakan Mega. Begitu pula pertarungan klik Taufik dengan kelompok
>>>>Haryanto Taslam, Soetardjo Soerjogoeritno, dan kelompok ITB (Laksamana
>>>>Sukardi dan kawan-kawan). Belum lagi "pertarungan tradisional" unsur PNI
>
>>>>dan Parkindo akibat tak tuntasnya fusi.  Dan belakangan, seiring
>>>>keputusan Mega mengibarkan PDI-P sebagai partai terbuka dan kebutuhan
>>>>partai akan SDM yang siap pakai, datanglah rombongan pensiunan tentara
>>>>dan bekas Golkar.  Kedatangan para mantan pendukung gigih Orde Baru itu
>>>>membuat kandang PDI-P kian pengap. Apalagi, kafilah terakhir ini-yang
>>>>dimotori Mayjen Purn Theo Sjafei, Brigjen Purn Sembiring Meliala, Jakob
>>>>Tobing, dan Prof Dimyati Hartono-dinilai sukses mempengaruhi Mega,
>>>>sampai-sampai geng Taufik sendiri nyap-nyap.  Kubu-kubu itu saling
>>>>berebut pengaruh ke Mega. Dan repotnya, seperti diungkapkan pakar
>>>>politik dari UI, Eep Syaefulloh Fatah, Mega bukanlah manajer konflik
>>>>yang baik. Maka, jadilah Mega terpencil kesepian di tengah pusaran
>>>>konflik para pengikutnya.  "Akibatnya ya itu, Mbak Mega jadi menjaga
>>>>jarak dengan semua pihak. Sekarang ini, yang diajak omong Ibu Mega cuma
>>>>Kwik Kian Gie, karena dia dinilai paling netral dan jernih. Nggak punya
>>>>ambisi apa pun, kepingin jadi menteri saja tidak, apalagi cuma caleg,"
>>>>kata kader PDI-P yang tak mau disebut namanya. Ini diperparah oleh gaya
>>>>masing-masing kubu yang di mana-mana mengklaim paling dekat dengan Mega.
>>>>"Mereka memagari Ibu Mega sedemikian ketat, sehingga kami-kami ini nggak
>>>>bisa lagi leluasa bertemu beliau," ujar kader itu lagi. Pertarungan
>>>>Intern Yang jadi persoalan, menjelang proses pemilu-terutama masa
>>>>penyusunan caleg-pertempuran itu menjadi kian sengit dan cenderung susah
>>>>dikontrol. Masing-masing kubu, melalui kaki tangannya di daerah-daerah,
>>>>saling melakukan gerilya dalam penentuan caleg. Tak heran kalau kemudian
>>>>meruyak banyak protes dari daerah. Sebabnya macam-macam, tapi menjurus
>>>>ke satu arah: distribusi kue kekuasaan yang tak merata dan cenderung
>>>>meninggalkan kader-kader lama yang telah berjuang sekian tahun di sisi
>>>>Mega. Dalam penyusunan caleg misalnya. Banyak kader lawas yang militan
>>>>tersingkir. Sementara pendatang baru dari eks tentara-Golkar merajalela.
>>>>Tercatat, paling tidak 28 eks tentara-Golkar yang ada di DPP-terutama di
>>>>Litbang-sukses menjadi caleg. Belum lagi di daerah-daerah. Belum lagi
>>>>kasus money politics atau nepotisme. Pencantuman sejumlah kerabat Taufik
>>>>Kiemas, Yahya Nasution, atau Sabam Sirait sebagai caleg membuahkan
>>>>belasan protes dari daerah pemilihannya. Namun apa daya, ketidakpuasan
>>>>itu rontok terpangkas dengan berlindung di balik otoritas Mega. "Tapi
>>>>beberapa protes itu juga tak lagi murni. Mereka memang kecewa, lalu
>>>>dikompori salah satu kubu elite sebagai alat menyerang lawan kubunya,"
>>>>kata sumber Surabaya Post.  Dan ini lagi. Diam-diam, yang sekarang
>>>>dibidik bukan cuma kursi dewan, tapi sudah kabinet. Sejumlah elite PDI-P
>>>>mulai kasak-kusuk membicarakan peluang masuk kabinet. "Sudah bukan
>>>>rahasia lagi. Ke mana-mana sejumlah elite partai sudah berani mengaku
>>>>akan masuk kabinet," kata sumber Surabaya Post sembari menyebut beberapa
>>>>nama. Mengapa pertarungan kian mengeras? Ternyata bukan melulu lantaran
>>>>fenomena rutin menjelang pemilu. Ada sebab lain yang cukup mengejutkan.
>
>>>>Seorang fungsionaris PDI-P, dengan wanti-wanti agar tak disebut
>>>>identitasnya, mengatakan, perebutan kursi (baik caleg maupun kabinet)
>>>>menjadi kian panas lantaran lima tahun pascapemilu mendatang adalah saat
>>>>yang amat menentukan, baik untuk PDI-P maupun karier politik mereka
>>>>sendiri. "Entah lima tahun lagi setelah itu, keadaan bisa berubah.
>>>>Karena itu, mereka sedapat mungkin memetik buahnya sekarang, mumpung
>>>>masih ada," katanya. Apa artinya ini? Ada semacam kegamangan dalam
>>>>melihat masa depan PDI-P. Lebih jelasnya, seperti diungkapkan
>>>>fungsionaris tadi, ada semacam pesimisme di kalangan elite PDI-P apakah
>>>>lima tahun mendatang partai ini akan tetap sebesar sekarang.
>>>>Masing-masing kubu agaknya sama-sama mafhum, Mega bakal kesulitan
>>>>mengemudikan partainya jika kondisi internal berantakan. Implikasinya,
>>>>agak susah mempertahankan simpati massa yang pada lima tahun mendatang
>>>>sangat boleh jadi sudah berubah orientasi politiknya. "Karena itu,
>>>>royokan jabatan dan pengaruh juga makin menjadi-jadi. Istilahnya, kapan
>>>>lagi kalau bukan sekarang?" ujarnya dengan wajah sedih. Disintegrasi
>>>>Bangsa Pakar politik dari UGM Dr Riswandha Imawan menjelaskannya dengan
>>>>pas.  Kalau kondisi ini dibiarkan terus dan Mega tak segera mampu
>>>>menyembuhkan penyakit internal ini, menurut Riswandha, harga paling
>>>>murah yang harus dibayar PDI-P adalah ditinggalkan pemilihnya pada
>>>>pemilu lima tahun mendatang. Tapi, lanjut dia, ongkos yang mutlak
>>>>diperhatikan adalah yang harus dibayar bangsa ini jika Mega terpilih
>>>>menjadi presiden. Dengan belitan konflik intern para pengikutnya yang
>>>>separah itu, kata Riswandha, bisa-bisa seluruh bangsa ini harus ikut
>>>>membayarnya. Dan harganya, duh, teramat mahal: disintegrasi bangsa.
>>>>"Selama ini, pendukung PDI-P banyak menaruh harapan pada partai ini
>>>>untuk mengentas rakyat dari jurang krisis yang sudah sampai ke leher.
>>>>Kalau ternyata nanti Mega nggak mampu memenuhi harapan itu, kemarahan
>>>>rakyat akan memuncak. Akibatnya, apalagi kalau bukan disintegrasi
>>>>bangsa, sesuatu yang justru ditentang Mega habis-habisan," ujar
>>>>Riswandha. Mengapa Riswandha memberi sinyal yang begitu mendebarkan?
>>>>"Bagaimana Mega mampu memimpin bangsa ini kalau menuntaskan problem
>>>>partainya sendiri saja nggak mampu?  Bagaimana Mega mampu mengurusi
>>>>bangsa ini kalau dia tetap saja direcoki pertikaian para pendukungnya
>>>>yang pada rebutan kekuasaan itu? Inilah ujian Mega yang sesungguhnya
>>>>sebelum menjadi presiden," kata pengamat kelahiran Madura itu. Lalu apa
>>>>yang harus dilakukan Mega? "Mega ndak boleh lagi diam. Kepemimpinannya
>>>>harus dibuktikan sekarang untuk mencegah konflik internal yang bisa
>>>>membesar ke arah disintegrasi," tegas Riswandha lagi. Di sisi lain,
>>>>seperti sempat diungkapkan beberapa kader PDI-P, di antaranya kader yang
>>>>gagal bertemu Mega tadi, muncul kekhawatiran di kalangan PDI-P sendiri.
>>>>Dengan gaya politik Mega yang susah ditebak dan tipologi konflik intern
>>>>yang mirip-mirip zaman Orba (Soeharto) itu, jika berkuasa Mega
>>>>dikhawatirkan akan terjebak menjadi Orba Jilid II. Bagaimana tidak?
>
>>>>Dengan merendahkan nada bicaranya, kader itu mengatakan, Soeharto dulu
>>>>juga melakukan hal yang sama dengan Mega. Di antaranya, enggan terbuka
>>>>dan cenderung membangun lingkaran pengikut yang kekuasaannya mengatasi
>>>>struktur organisasi resmi. Dia menunjuk contoh aspri Soeharto (Ali
>>>>Moertopo, Soedjono Humardani dkk.) yang kekuasaannya melebihi para
>>>>menteri. Dan cara-cara seperti itu tetap digunakan Soeharto hingga
>>>>menjelang lengser. Belum lagi tipologi konflik intern PDI-P, seperti
>>>>gejala nepotisme, dugaan money politics, serta fenomena top down dalam
>>>>membagi kue kekuasaan, yang lagi-lagi merupakan gaya Soeharto yang
>>>>diterapkan di semua bidang, mulai Golkar, birokrasi, sampai ABRI. "Ya
>>>>kalau nggak ada perubahan, kayaknya sih bisa-bisa seperti Orde Baru.
>>>>Tapi semoga saja tidak," kata kader PDI-P itu. Sekarang, ancaman itu
>>>>memang belum terasa. Mega masih belum jelas akan terpilih menjadi
>>>>presiden atau tidak. Ia juga masih mampu menyamarkan konflik internal
>>>>itu dengan kharisma dan pengaruhnya. Sebagaimana diakui Ir Heri Akhmadi,
>>>>mantan aktivis mahasiswa Angkatan 1978 yang kini menjadi caleg PDI-P
>>>>untuk DPR RI dari daerah pemilihan Ponorogo, persoalan dalam tubuh elite
>>>>PDI-P akan mudah diselesaikan karena figur Mega. "Kalau ada persoalan,
>>>>tinggal diserahkan ke Ibu Mega.  Semua akan beres jika Bu Mega yang
>>>>membuat keputusan. Kalau mau, Bu Mega tinggal mencopot orang-orang itu
>>>>dan permasalahan segera selesai," katanya. Tapi, sampai kapan semuanya
>>>>digantungkan hanya pada seorang Mega? Tidakkah ongkosnya terlalu mahal,
>>>>karena menyangkut nasib bangsa jika Mega benar-benar terpilih menjadi
>>>>presiden? (Nanang Krisdinanto, Sunudyantoro, Dwi Eko Lokononto, Budi
>>>>Hendrarto)
>>>>
>>>>
>>>>Surabaya Post Daily Newspaper
>>>>

Kirim email ke