Kalau kita mau maju, seraplah Kritik sebanyak mungkin,
karena dengan kritik-lah kita akan 'improve'.....

(hehheee......*sok-tau*...: easy to say, hard to prove it)


Salam,
bRidWaN

At 10:06 AM 6/9/99 +0700, Frarev Sitorus wrote:
>Sangat baik tulisan Surabaya Post yang dapat memberi masukan bagi PDI-P
>sekarang ini.
>Perjuangan PDI-P masih panjang untuk yang akan datang.
>
>jabat erat
>FRAREV SITORUS
>On Mon, 7 Jun 1999, yuni windarti wrote:
> Saya turut berduka dengan kondisi Indonesia, setelah membaca berita di bawah
> ini. Ini jelas-jelas bukti yang menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat
> Indonesia masih buta akan politik, mereka belum bisa membaca apa yang
terjadi
> sebenarnya. Saa menyadari rakyat kita masih banyak yang berpendidikan rendah
> sehingga belum mampu berpikir panjang kecuali lebih banyak terpengaruh oleh
> nama besar seseorang.
>
> Saya tidak berani menyalahkan rakyat kalau sampai kondisi tidak berubah
atatu
> memburuk dalam 5 tahun ini, tetapi Mega dan pengikutnya lah yang patut
diseret
> kepengadilan (kalau ada pengadilan politik he..he..) karena mereka
memberikan
> harapan yang palsu.
>
> Saya kira kegigihan Mega untuk menjadi Presiden tidak berlandaskan
> keinginginannya untuk kemakmuran banga atau untuk demokrasi, akan tetapi
untuk
> membalas dendam suharto atas perlakuan yang diterima oleh bapaknya Sukarno.
> Kebetulan Suharto bertindak negatif terhadap bangsa Indonesia maka Mega
> mendapat angin.
>
> Semoga rakyat segera terbuka matanya dan dapat melihat sosok apa yang
> sebenarnya bersembunyi dibalik kesahajaan (menurut orang PDIP) saha maha
besar
> Mega. Saya tidak pernah bisa membayangkan apa jadinya Mega jika Mega bukan
> anak Sukarno, mungkinkah  dia dengan kemampuannya sekarang ini menjadi
> pemimpin bangsa??? Mungkin saja bagi negara yang semua rakyatnya buta dan
dia
> sendiri yang melek..........hm........itu bisa jadi
>
> oppppppssssss sorry mbak Mega, kritikku keterlaluan, habis anda juga
> keterlaluan sih.
>
> Kalau Mega jadi presiden gue kena cekal nggak ya????????
>
>
> Salam hangat Yuni
>
> On Sat, 5 Jun 1999, A. Syamil wrote:
>
> Salam Permias,
>
> Saya sampaikan berita dari Surabaya Pos.
> Selamat menyimak.
>
> Jabat erat,
>
> Ahmad Syamil
> Toledo, OH
>
> *********************************************
> Melihat Indonesia di Tangan Mega
>> >
>> >
>> >      PERCAYA atau tidak, banyak orang mulai bertanya begini:
>> >      "Bagaimana ya nantinya Indonesia di tangan Mega?" Pertanyaan ini
>> >      tidak saja muncul dari luar kandang PDI Perjuangan (PDI-P), tapi
>> >      juga dari para pejuang banteng sendiri. Mengapa? Tentu saja
>> >      karena Mega adalah kandidat presiden yang paling diperhitungkan
>> >      saat ini, dibanding Wiranto, Amien Rais, atau Gus Dur sekalipun.
>> >      Satu lagi --ini yang mengkhawatirkan--, lantaran konflik internal
>> >      yang dahsyat sekaligus ultrapelik di tubuh banteng bermulut putih
>> >      itu disinyalir juga bakal berimbas pada keutuhan bangsa ini. Itu
>> >      sebabnya, nasib Indonesia dan PDI-P sendiri bakal juga ditentukan
>> >      performance pribadi serta politik Mega. Apa maksudnya? DALAM
>> >      sebuah percakapan di kafe hotel berbintang, seorang pengurus
>> >      teras PDI-P sempat berkeluh kesah kepada Surabaya Post. Kata
>> >      salah satu tokoh penting PDI-P ini, Mega sekarang sudah berubah,
>> >      tak seperti dulu lagi. Putri Bung Karno ini mengambil jarak
>> >      dengan banyak orang, bahkan yang dulu mendukungnya mati-matian
>> >      dengan risiko darah bahkan nyawa. "Saya dulu bebas masuk ke
>> >      ruangan Mbak Mega. Ya makan bersama, ngomong-ngomong enak. Jadi
>> >      enak saja kalau mau ketemu Mbak Mega. Tapi sekarang? Ibaratnya,
>> >      makan semeja saja sudah nggak bisa," ujarnya mengudar keluh.
>> >      Keluhan serupa juga datang dari seorang kader PDI-P Surabaya,
>> >      yang dua pekan lalu berangkat ke Jakarta hendak menjumpai
>> >      pemimpin besarnya. Tapi apa mau dikata, di sekitar Mega ternyata
>> >      berdiri pagar protokoler nan kukuh-ketat. "Begitu nyampai di
>> >      kantor, saya dicegat orang DPP. Saya tidak diizinkan bertemu Ibu
>> >      Mega. Katanya, pesan cukup disampaikan lewat dia...," ujarnya.
>> >      Walhasil, sang kader musti menelan kecewa. Dia harus balik ke
>> >      Surabaya tanpa sempat sedetik pun bertemu Mega. "Kok begitu ya?
>> >      Perasaan, Ibu Mega dulu ndak begitu?" katanya lagi dengan nada
>> >      tanya. Ada apa memangnya dengan Mega? Sebetulnya ini sudah
>> >      rahasia umum dan terbeber jelas di media massa: bahwa kandang
>> >      banteng perjuangan itu tengah gelisah oleh konflik internal.
>> >      Sudah banyak terdengar bagaimana Mega dikepung beragam kubu yang
>> >      diciptakan para pengikutnya. Sudah menjadi cerita lama pula
>> >      bagaimana sang suami, Taufik Kiemas, amat ketat mengawal segenap
>> >      kebijakan Mega. Begitu pula pertarungan klik Taufik dengan
>> >      kelompok Haryanto Taslam, Soetardjo Soerjogoeritno, dan kelompok
>> >      ITB (Laksamana Sukardi dan kawan-kawan). Belum lagi "pertarungan
>> >      tradisional" unsur PNI dan Parkindo akibat tak tuntasnya fusi.
>> >      Dan belakangan, seiring keputusan Mega mengibarkan PDI-P sebagai
>> >      partai terbuka dan kebutuhan partai akan SDM yang siap pakai,
>> >      datanglah rombongan pensiunan tentara dan bekas Golkar.
>> >      Kedatangan para mantan pendukung gigih Orde Baru itu membuat
>> >      kandang PDI-P kian pengap. Apalagi, kafilah terakhir ini --yang
>> >      dimotori Mayjen Purn Theo Sjafei, Brigjen Purn Sembiring Meliala,
>> >      Jakob Tobing, dan Prof Dimyati Hartono-- dinilai sukses
>> >      mempengaruhi Mega, sampai-sampai geng Taufik sendiri nyap-nyap.
>> >      Kubu-kubu itu saling berebut pengaruh ke Mega. Dan repotnya,
>> >      seperti diungkapkan pakar politik dari UI, Eep Syaefulloh Fatah,
>> >      Mega bukanlah manajer konflik yang baik. Maka, jadilah Mega
>> >      terpencil kesepian di tengah pusaran konflik para pengikutnya.
>> >      "Akibatnya ya itu, Mbak Mega jadi menjaga jarak dengan semua
>> >      pihak. Sekarang ini, yang diajak omong Ibu Mega cuma Kwik Kian
>> >      Gie, karena dia dinilai paling netral dan jernih. Nggak punya
>> >      ambisi apa pun, kepingin jadi menteri saja tidak, apalagi cuma
>> >      caleg," kata kader PDI-P yang tak mau disebut namanya. Ini
>> >      diperparah oleh gaya masing-masing kubu yang di mana-mana
>> >      mengklaim paling dekat dengan Mega. "Mereka memagari Ibu Mega
>> >      sedemikian ketat, sehingga kami-kami ini nggak bisa lagi leluasa
>> >      bertemu beliau," ujar kader itu lagi. Pertarungan Intern Yang
>> >      jadi persoalan, menjelang proses pemilu --terutama masa
>> >      penyusunan caleg-- pertempuran itu menjadi kian sengit dan
>> >      cenderung susah dikontrol. Masing-masing kubu, melalui kaki
>> >      tangannya di daerah-daerah, saling melakukan gerilya dalam
>> >      penentuan caleg. Tak heran kalau kemudian meruyak banyak protes
>> >      dari daerah. Sebabnya macam-macam, tapi menjurus ke satu arah:
>> >      distribusi kue kekuasaan yang tak merata dan cenderung
>> >      meninggalkan kader-kader lama yang telah berjuang sekian tahun di
>> >      sisi Mega. Dalam penyusunan caleg misalnya. Banyak kader lawas
>> >      yang militan tersingkir. Sementara pendatang baru dari eks
>> >      tentara-Golkar merajalela. Tercatat, paling tidak 28 eks
>> >      tentara-Golkar yang ada di DPP --terutama di Litbang-- sukses
>> >      menjadi caleg. Belum lagi di daerah-daerah. Belum lagi kasus
>> >      money politics atau nepotisme. Pencantuman sejumlah kerabat
>> >      Taufik Kiemas, Yahya Nasution, atau Sabam Sirait sebagai caleg
>> >      membuahkan belasan protes dari daerah pemilihannya. Namun apa
>> >      daya, ketidakpuasan itu rontok terpangkas dengan berlindung di
>> >      balik otoritas Mega. "Tapi beberapa protes itu juga tak lagi
>> >      murni. Mereka memang kecewa, lalu dikompori salah satu kubu elite
>> >      sebagai alat menyerang lawan kubunya," kata sumber Surabaya Post.
>> >      Dan ini lagi. Diam-diam, yang sekarang dibidik bukan cuma kursi
>> >      dewan, tapi sudah kabinet. Sejumlah elite PDI-P mulai kasak-kusuk
>> >      membicarakan peluang masuk kabinet. "Sudah bukan rahasia lagi. Ke
>> >      mana-mana sejumlah elite partai sudah berani mengaku akan masuk
>> >      kabinet," kata sumber Surabaya Post sembari menyebut beberapa
>> >      nama. Mengapa pertarungan kian mengeras? Ternyata bukan melulu
>> >      lantaran fenomena rutin menjelang pemilu. Ada sebab lain yang
>> >      cukup mengejutkan. Seorang fungsionaris PDI-P, dengan wanti-wanti
>> >      agar tak disebut identitasnya, mengatakan, perebutan kursi (baik
>> >      caleg maupun kabinet) menjadi kian panas lantaran lima tahun
>> >      pascapemilu mendatang adalah saat yang amat menentukan, baik
>> >      untuk PDI-P maupun karier politik mereka sendiri. "Entah lima
>> >      tahun lagi setelah itu, keadaan bisa berubah. Karena itu, mereka
>> >      sedapat mungkin memetik buahnya sekarang, mumpung masih ada,"
>> >      katanya. Apa artinya ini? Ada semacam kegamangan dalam melihat
>> >      masa depan PDI-P. Lebih jelasnya, seperti diungkapkan
>> >      fungsionaris tadi, ada semacam pesimisme di kalangan elite PDI-P
>> >      apakah lima tahun mendatang partai ini akan tetap sebesar
>> >      sekarang. Masing-masing kubu agaknya sama-sama mafhum, Mega bakal
>> >      kesulitan mengemudikan partainya jika kondisi internal
>> >      berantakan. Implikasinya, agak susah mempertahankan simpati massa
>> >      yang pada lima tahun mendatang sangat boleh jadi sudah berubah
>> >      orientasi politiknya. "Karena itu, royokan jabatan dan pengaruh
>> >      juga makin menjadi-jadi. Istilahnya, kapan lagi kalau bukan
>> >      sekarang?" ujarnya dengan wajah sedih. Disintegrasi Bangsa Pakar
>> >      politik dari UGM Dr Riswandha Imawan menjelaskannya dengan pas.
>> >      Kalau kondisi ini dibiarkan terus dan Mega tak segera mampu
>> >      menyembuhkan penyakit internal ini, menurut Riswandha, harga
>> >      paling murah yang harus dibayar PDI-P adalah ditinggalkan
>> >      pemilihnya pada pemilu lima tahun mendatang. Tapi, lanjut dia,
>> >      ongkos yang mutlak diperhatikan adalah yang harus dibayar bangsa
>> >      ini jika Mega terpilih menjadi presiden. Dengan belitan konflik
>> >      intern para pengikutnya yang separah itu, kata Riswandha,
>> >      bisa-bisa seluruh bangsa ini harus ikut membayarnya. Dan
>> >      harganya, duh, teramat mahal: disintegrasi bangsa. "Selama ini,
>> >      pendukung PDI-P banyak menaruh harapan pada partai ini untuk
>> >      mengentas rakyat dari jurang krisis yang sudah sampai ke leher.
>> >      Kalau ternyata nanti Mega nggak mampu memenuhi harapan itu,
>> >      kemarahan rakyat akan memuncak. Akibatnya, apalagi kalau bukan
>> >      disintegrasi bangsa, sesuatu yang justru ditentang Mega
>> >      habis-habisan," ujar Riswandha. Mengapa Riswandha memberi sinyal
>> >      yang begitu mendebarkan? "Bagaimana Mega mampu memimpin bangsa
>> >      ini kalau menuntaskan problem partainya sendiri saja nggak mampu?
>> >      Bagaimana Mega mampu mengurusi bangsa ini kalau dia tetap saja
>> >      direcoki pertikaian para pendukungnya yang pada rebutan kekuasaan
>> >      itu? Inilah ujian Mega yang sesungguhnya sebelum menjadi
>> >      presiden," kata pengamat kelahiran Madura itu. Lalu apa yang
>> >      harus dilakukan Mega? "Mega ndak boleh lagi diam. Kepemimpinannya
>> >      harus dibuktikan sekarang untuk mencegah konflik internal yang
>> >      bisa membesar ke arah disintegrasi," tegas Riswandha lagi. Di
>> >      sisi lain, seperti sempat diungkapkan beberapa kader PDI-P, di
>> >      antaranya kader yang gagal bertemu Mega tadi, muncul kekhawatiran
>> >      di kalangan PDI-P sendiri. Dengan gaya politik Mega yang susah
>> >      ditebak dan tipologi konflik intern yang mirip-mirip zaman Orba
>> >      (Soeharto) itu, jika berkuasa Mega dikhawatirkan akan terjebak
>> >      menjadi Orba Jilid II. Bagaimana tidak? Dengan merendahkan nada
>> >      bicaranya, kader itu mengatakan, Soeharto dulu juga melakukan hal
>> >      yang sama dengan Mega. Di antaranya, enggan terbuka dan cenderung
>> >      membangun lingkaran pengikut yang kekuasaannya mengatasi struktur
>> >      organisasi resmi. Dia menunjuk contoh aspri Soeharto (Ali
>> >      Moertopo, Soedjono Humardani dkk.) yang kekuasaannya melebihi
>> >      para menteri. Dan cara-cara seperti itu tetap digunakan Soeharto
>> >      hingga menjelang lengser. Belum lagi tipologi konflik intern
>> >      PDI-P, seperti gejala nepotisme, dugaan money politics, serta
>> >      fenomena top down dalam membagi kue kekuasaan, yang lagi-lagi
>> >      merupakan gaya Soeharto yang diterapkan di semua bidang, mulai
>> >      Golkar, birokrasi, sampai ABRI. "Ya kalau nggak ada perubahan,
>> >      kayaknya sih bisa-bisa seperti Orde Baru. Tapi semoga saja
>> >      tidak," kata kader PDI-P itu. Sekarang, ancaman itu memang belum
>> >      terasa. Mega masih belum jelas akan terpilih menjadi presiden
>> >      atau tidak. Ia juga masih mampu menyamarkan konflik internal itu
>> >      dengan kharisma dan pengaruhnya. Sebagaimana diakui Ir Heri
>> >      Akhmadi, mantan aktivis mahasiswa Angkatan 1978 yang kini menjadi
>> >      caleg PDI-P untuk DPR RI dari daerah pemilihan Ponorogo,
>> >      persoalan dalam tubuh elite PDI-P akan mudah diselesaikan karena
>> >      figur Mega. "Kalau ada persoalan, tinggal diserahkan ke Ibu Mega.
>> >      Semua akan beres jika Bu Mega yang membuat keputusan. Kalau mau,
>> >      Bu Mega tinggal mencopot orang-orang itu dan permasalahan segera
>> >      selesai," katanya. Tapi, sampai kapan semuanya digantungkan hanya
>> >      pada seorang Mega? Tidakkah ongkosnya terlalu mahal, karena
>> >      menyangkut nasib bangsa jika Mega benar-benar terpilih menjadi
>> >      presiden? (Nanang Krisdinanto, Sunudyantoro, Dwi Eko Lokononto,
>> >      Budi Hendrarto)
>> >
>> >            Surabaya Post Daily Newspaper
>> >
>>
>>
>> ____________________________________________________________________
>> Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.
>>
>
>

Kirim email ke