Apapun yang kita omongkan di milist ini masyarakatlah yang menentukan.
Kita toh boleh-boleh saja berpendapat lain.Sebab itulah hakekat demokrasi.
Tak sabar rasanya menunggu hasil akhir keinginan rakyat.Ada sebersit
kebanggaan dan harapan rasanya setiap aku memandang ujung jariku yang
masih berwarna ungu.Lepas rasanya, sama seperti sewaktu meneriakkan
dengan
lantang reformasi walaupun bapak-bapak aparat siap sedia dengan
pentungan, perisai dan embel-embel simbol kekerasan lainnya pada saat mbah
belum lengser.Juga bangga sewaktu ikut kampanye di Bandung tanpa melihat
latarbelakang orang-orang disekelilingku. Semuanya menjadi satu dalam
lautan manusia yang meneriakkan satu cita-cita, Indonesia yg
lebih baik.Benar-benar pesta rakyat
yang jauh dari formal, kekakuan dan saling curiga satu sama lain.
Sehingga nantinya aku bisa berteriak bahwa aku turut ikut menentukan
pemerintahan yang baru.  Semoga kecintaan dan kerinduan rakyat akan
kedatangan satria pininggit yang sedikit mulai tersibak gambaran wajahnya
itu benar-benar juga mencintai rakyat dan kita tentunya berbuat yang nyata
untuk mewujudkannya.

Viva Liverpool
Ari Krisna

On Mon, 7 Jun 1999, Dody Ruliawan wrote:

> Saya kok menduga-duga keraguan atas kepemimpinan Megawati itu
> disebabkan mbak Mega ini tidak pernah ngomong tentang apa-apa yang akan
> dilakukan kalau memimpin nanti. Jadi kita sedih juga dan hanya bisa
> menebak-nebak pakai ilmu tokek.....membaik... memburuk..membaik
> ....memburuk....ngga' ada akhirnya.
>
> Bisa juga sih mbak Mega sekarang lagi merapal ilmu balas dendam (wong
> bapaknya meninggal dengan cara mengenaskan begitu)...dan kroninya baru
> sibuk berebut kursi......
>
> Yah....tinggal tunggu tanggal mainnya dah.....
> sambil komat-kamit :
> Semoga tidak disibukkan dengan acara balas dendam,
> Semoga semoga menteri pilihannya bener,
> Semoga ngga' ada menteri yang mengimpor B3 dari Singapura,
> Semoga menteri yang "ngurusin orang miskin" tidak lagi sibuk
> berpolitik....
> Semoga ketua DPR/MPR-nya yang "kuat"....
> Semoga ketua DPA-nya tidak "meracuni presiden"...
> Semoga Jaksa Agung-nya tidak sibuk menangkapi orang yang memberi
> informasi KKN...
> Semoga....presidennya...tidak "malu-malu" pergi ke Amerika untuk bicara
> masalah utang dan Timtim...
> Yah....banyak deh semoganya.....pokoknya boleh bebas komat-kamit sampai
> berbusa-busa....
>
> Salam,
> Dody
>
>
> --- yuni windarti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Saya turut berduka dengan kondisi Indonesia, setelah
> > membaca berita di bawah
> > ini. Ini jelas-jelas bukti yang menunjukkan bahwa
> > sebagian besar rakyat
> > Indonesia masih buta akan politik, mereka belum bisa
> > membaca apa yang terjadi
> > sebenarnya. Saa menyadari rakyat kita masih banyak
> > yang berpendidikan rendah
> > sehingga belum mampu berpikir panjang kecuali lebih
> > banyak terpengaruh oleh
> > nama besar seseorang.
> >
> > Saya tidak berani menyalahkan rakyat kalau sampai
> > kondisi tidak berubah atatu
> > memburuk dalam 5 tahun ini, tetapi Mega dan
> > pengikutnya lah yang patut diseret
> > kepengadilan (kalau ada pengadilan politik he..he..)
> > karena mereka memberikan
> > harapan yang palsu.
> >
> > Saya kira kegigihan Mega untuk menjadi Presiden
> > tidak berlandaskan
> > keinginginannya untuk kemakmuran banga atau untuk
> > demokrasi, akan tetapi untuk
> > membalas dendam suharto atas perlakuan yang diterima
> > oleh bapaknya Sukarno.
> > Kebetulan Suharto bertindak negatif terhadap bangsa
> > Indonesia maka Mega
> > mendapat angin.
> >
> > Semoga rakyat segera terbuka matanya dan dapat
> > melihat sosok apa yang
> > sebenarnya bersembunyi dibalik kesahajaan (menurut
> > orang PDIP) saha maha besar
> > Mega. Saya tidak pernah bisa membayangkan apa
> > jadinya Mega jika Mega bukan
> > anak Sukarno, mungkinkah  dia dengan kemampuannya
> > sekarang ini menjadi
> > pemimpin bangsa??? Mungkin saja bagi negara yang
> > semua rakyatnya buta dan dia
> > sendiri yang melek..........hm........itu bisa jadi
> >
> > oppppppssssss sorry mbak Mega, kritikku keterlaluan,
> > habis anda juga
> > keterlaluan sih.
> >
> > Kalau Mega jadi presiden gue kena cekal nggak
> > ya????????
> >
> >
> > Salam hangat Yuni
> >
> > On Sat, 5 Jun 1999, A. Syamil wrote:
> >
> > > Salam Permias,
> > >
> > > Saya sampaikan berita dari Surabaya Pos.
> > > Selamat menyimak.
> > >
> > > Jabat erat,
> > >
> > > Ahmad Syamil
> > > Toledo, OH
> > >
> > > *********************************************
> > >
> > > Melihat Indonesia di Tangan Mega
> > >
> > >
> > >      PERCAYA atau tidak, banyak orang mulai
> > bertanya begini:
> > >      "Bagaimana ya nantinya Indonesia di tangan
> > Mega?" Pertanyaan ini
> > >      tidak saja muncul dari luar kandang PDI
> > Perjuangan (PDI-P), tapi
> > >      juga dari para pejuang banteng sendiri.
> > Mengapa? Tentu saja
> > >      karena Mega adalah kandidat presiden yang
> > paling diperhitungkan
> > >      saat ini, dibanding Wiranto, Amien Rais, atau
> > Gus Dur sekalipun.
> > >      Satu lagi --ini yang mengkhawatirkan--,
> > lantaran konflik internal
> > >      yang dahsyat sekaligus ultrapelik di tubuh
> > banteng bermulut putih
> > >      itu disinyalir juga bakal berimbas pada
> > keutuhan bangsa ini. Itu
> > >      sebabnya, nasib Indonesia dan PDI-P sendiri
> > bakal juga ditentukan
> > >      performance pribadi serta politik Mega. Apa
> > maksudnya? DALAM
> > >      sebuah percakapan di kafe hotel berbintang,
> > seorang pengurus
> > >      teras PDI-P sempat berkeluh kesah kepada
> > Surabaya Post. Kata
> > >      salah satu tokoh penting PDI-P ini, Mega
> > sekarang sudah berubah,
> > >      tak seperti dulu lagi. Putri Bung Karno ini
> > mengambil jarak
> > >      dengan banyak orang, bahkan yang dulu
> > mendukungnya mati-matian
> > >      dengan risiko darah bahkan nyawa. "Saya dulu
> > bebas masuk ke
> > >      ruangan Mbak Mega. Ya makan bersama,
> > ngomong-ngomong enak. Jadi
> > >      enak saja kalau mau ketemu Mbak Mega. Tapi
> > sekarang? Ibaratnya,
> > >      makan semeja saja sudah nggak bisa," ujarnya
> > mengudar keluh.
> > >      Keluhan serupa juga datang dari seorang kader
> > PDI-P Surabaya,
> > >      yang dua pekan lalu berangkat ke Jakarta
> > hendak menjumpai
> > >      pemimpin besarnya. Tapi apa mau dikata, di
> > sekitar Mega ternyata
> > >      berdiri pagar protokoler nan kukuh-ketat.
> > "Begitu nyampai di
> > >      kantor, saya dicegat orang DPP. Saya tidak
> > diizinkan bertemu Ibu
> > >      Mega. Katanya, pesan cukup disampaikan lewat
> > dia...," ujarnya.
> > >      Walhasil, sang kader musti menelan kecewa.
> > Dia harus balik ke
> > >      Surabaya tanpa sempat sedetik pun bertemu
> > Mega. "Kok begitu ya?
> > >      Perasaan, Ibu Mega dulu ndak begitu?" katanya
> > lagi dengan nada
> > >      tanya. Ada apa memangnya dengan Mega?
> > Sebetulnya ini sudah
> > >      rahasia umum dan terbeber jelas di media
> > massa: bahwa kandang
> > >      banteng perjuangan itu tengah gelisah oleh
> > konflik internal.
> > >      Sudah banyak terdengar bagaimana Mega
> > dikepung beragam kubu yang
> > >      diciptakan para pengikutnya. Sudah menjadi
> > cerita lama pula
> > >      bagaimana sang suami, Taufik Kiemas, amat
> > ketat mengawal segenap
> > >      kebijakan Mega. Begitu pula pertarungan klik
> > Taufik dengan
> > >      kelompok Haryanto Taslam, Soetardjo
> > Soerjogoeritno, dan kelompok
> > >      ITB (Laksamana Sukardi dan kawan-kawan).
> > Belum lagi "pertarungan
> > >      tradisional" unsur PNI dan Parkindo akibat
> > tak tuntasnya fusi.
> > >      Dan belakangan, seiring keputusan Mega
> > mengibarkan PDI-P sebagai
> > >      partai terbuka dan kebutuhan partai akan SDM
> > yang siap pakai,
> > >      datanglah rombongan pensiunan tentara dan
> > bekas Golkar.
> > >      Kedatangan para mantan pendukung gigih Orde
> > Baru itu membuat
> > >      kandang PDI-P kian pengap. Apalagi, kafilah
> > terakhir ini --yang
> > >      dimotori Mayjen Purn Theo Sjafei, Brigjen
> > Purn Sembiring Meliala,
> > >      Jakob Tobing, dan Prof Dimyati Hartono--
> > dinilai sukses
> > >      mempengaruhi Mega, sampai-sampai geng Taufik
> > sendiri nyap-nyap.
> > >      Kubu-kubu itu saling berebut pengaruh ke
> > Mega. Dan repotnya,
> > >      seperti diungkapkan pakar politik dari UI,
> > Eep Syaefulloh Fatah,
> > >      Mega bukanlah manajer konflik yang baik.
> > Maka, jadilah Mega
> > >      terpencil kesepian di tengah pusaran konflik
> > para pengikutnya.
> > >      "Akibatnya ya itu, Mbak Mega jadi menjaga
> > jarak dengan semua
> > >      pihak. Sekarang ini, yang diajak omong Ibu
> > Mega cuma Kwik Kian
> > >      Gie, karena dia dinilai paling netral dan
> > jernih. Nggak punya
> > >      ambisi apa pun, kepingin jadi menteri saja
> > tidak, apalagi cuma
> > >      caleg," kata kader PDI-P yang tak mau disebut
> > namanya. Ini
> > >      diperparah oleh gaya masing-masing kubu yang
> > di mana-mana
> > >      mengklaim paling dekat dengan Mega. "Mereka
> > memagari Ibu Mega
> > >      sedemikian ketat, sehingga kami-kami ini
> > nggak bisa lagi leluasa
> > >      bertemu beliau," ujar kader itu lagi.
> > Pertarungan Intern Yang
> > >      jadi persoalan, menjelang proses pemilu
> > --terutama masa
> > >      penyusunan caleg-- pertempuran itu menjadi
> > kian sengit dan
> > >      cenderung susah dikontrol. Masing-masing
> > kubu, melalui kaki
> > >      tangannya di daerah-daerah, saling melakukan
> > gerilya dalam
> > >      penentuan caleg. Tak heran kalau kemudian
> > meruyak banyak protes
> > >      dari daerah. Sebabnya macam-macam, tapi
> > menjurus ke satu arah:
> >
> === message truncated ===
>
> _________________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
>

Kirim email ke