...

>Ini namanya udah mulai udur-uduran. Mau menang sendiri....
>Money politics ya money politics.

Yw: Maksud saya: ada dua tingkatan!
    1. Yg pake duit sendiri -> melanggar etika/moral.
    2. Yg pake duit negara -> selain sama salahnya dg yg no. 1,
       ada unsur korupsinya/nyuri. Jadi kesalahan dobel, Pak.

    Jadi kalo yg melanggar no. 2 (misalnya (bila terjadi):
    Partai G, dan Partai 'DR'), dg yg melanggar no. 1 doang
    misalnya partai 'DIP'), ya nggak sama lah yauuuuuu....

    Tukang iseng sama tukang nyolong, sama-sama jelek,
    tapi ya nggak sama...

>Tinggal dipegang orang yg melakukannya.
>Pimpinannya perlu menjelaskan itu uang dari mana? Bisa dikejar lagi, bila
>milik organisasi berarti sudah ada restu partaikah?

Yw: Nah, coba sekarang kita analisis pernyataan anda:

    Buat apa diusut uang dari mana? Karena bila ternyata uang itu
    uang sendiri (bukan nyuri) beda 'tingkat kelirumologinya' dg kalo
    duitnya duit negara (nyuri). Iya, nggak? Otherwise, why bother
    (pake ngusut asal bin usulnya segala).

    Buat apa diusut restu partai? Karena yg dapet restu (sistemik)
    beda 'tingkat keplesetologinya' dg kalo dilakukan oknum.

    Dst.

    My point is: sama-sama salah, tingkat salahotologinya nggak sama.
    Dan akan lebih baik kalo yg nggak sama jangan dianggap sama.

>Kalo caranya kayak anda yg di bawah, lama-lama kita boleh
>nyolong ayam, toh ayam tetangga pribadi. Bukan ayam negara.
>Weleh..weleh....nama rakyat dicatut lagi.....tobat...tobat....

Yw: Lho, memang boleh kok nyolong ayam. Yg bilang nggak boleh siapa?
    Setahu saya tidak ada satu ayat hukum pun yg menyebutkan:
    tidak boleh nyolong ayam. ;-)

    Tapi resiko (digebukin orang sekelurahan, dihukum penjara
    etc) tanggung sendiri dan merupakan konsekuensinya. ;-)

    Dalam hal ini, sama-sama nyuri, nyuri ayam sama nyuri
    perhatian, kan nggak sama, Pak. Nyuri ayam itu nyuri 'milik
    orang lain'. Kalo nyuri perhatian itu nyuri milik orang
    lain juga (yg intangible sehingga 'un-curi-able').

>Kalo mau gitu cara mainnya, entar ada yg bilang Ghalib terima uang kan
>uang pribadi dari Prayogo dan The Ning King, bukan uang rakyat. Kalo
>kita minta duit lalu dikasih apa salahnya? Toh bukan uang rakyat?

Yw: Tepat sekali. Memang tidak ada yg mempermasalahkan 'nyuri milik
    orang lain' dalam kasus itu. Iya nggak? Karena memang tdk terjadi
    cur-curan di situ.

    Kasus itu masalahnya: ybs Gilab (or galib, whatever) sudah
    bersumpah (saat menerima jabatannya), lalu (diduga) melanggar
    sumpah itu.

    Jadi sama sekali bukan masalah curi-curian.
    Masalah nyuri jangan dicampur masalah melanggar kepercayaan
    (dan sumpah). Supaya clear... ;-)

Kirim email ke