Rekan-rekan sekalian, apakah tidak mungkin pernyataan ini ada udang di balik
batunya.  Yang saya khawatirkan adalah perselisihan antar agama yang di
dalangi oknum-oknum tertentu seperti peristiwa Ambon akan terjadi lagi.
Pertama-tama pernyataan MUI dan saat ini adalah pernyataan rencana hubungan
diplomatik RI-Israel (saya tidak menuduh, hanya agak khawatir).

Saran saya berhati-hatilah dengan permainan politik.



> -----Original Message-----
> From: Nasrullah Idris [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Thursday, June 10, 1999 5:25 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Re: Rencana Hubungan  Diplomatik RI-Israel melukai Ummat
> Islam di ...
>
> -----Original Message-----
> From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Friday, June 11, 1999 8:58 AM
> Subject: Re: Rencana Hubungan Diplomatik RI-Israel melukai Ummat Islam di
> ...
>
>
> Rekan2 disini mungkin bisa saling melengkapi kira2 apa permasalahan yg
> menjadikan Indonesia belum saatnya
> membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Lalu pula, bagaimana dengan
> adanya negara Arah yg
> telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kira2 alasan apa mereka
> membuka hubungan tersebut.
>
>
> Nasrullah Idris :
> ---------------
> Peta politik luar negeri Indonesia sekarang ini ibarat peta ajaib 101
> kotak
> kali 101 kotak. Setiap kotak berisi bilangan bulat dari 1 sampai 10201.
> Nah
> jumlah bilangan setiap baris maupun setiap kolom adalah sama. Ini vital
> harus dimiliki (simbol keseimbangan)
>
> Jadi dengan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, berarti ada salah
> satu angka atau lebih yang berubah, sehingga jumlah bilangan setiap
> baris/setiap tidak lagi sama. Untuk bisa kembali sama ya harus mutar otak
> lagi. Apa mungkin ini bisa berlangsung segera? Jangan2 ketika sedang
> memutar
> otak - gejolak muncul di banyak tempat. Akhirnya ya mandeg.
>
> Apakah dengan membuka hubungan diplomatik dengan Israel, posisi Indonesia
> akan semakin menguntungkan di kalangan :
> Negara2 Non Blok, anggota Organisasi Konfrensi Islam, ASEAN, APEC, dll?
> Ini
> pun  harus diperhatikan. Bagaimana pula dilihat dari sisi pragmatis,
> bebas,
> aktif, dan realistis? Suka nggak suka adanya perubahan di sini jelas akan
> mempengaruhi politik dalam negeri. Bukankah politik dalam negeri
> tercerminkan dari politik luar negeri.
>
> Jadi kalau ingin pakai logika, pakailah logika dari berbagai aspek.
> Miriplah
> dengan logika dalam memprediksi kurs valuta asing di mana faktor rumor,
> disain operasional informasi, pokoknya yang terkait perlu dilibatkan.
>
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris

Kirim email ke