In a message dated 6/11/99 1:35:42 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Apakah yang memilih PDIP tahu benar siapa Mega????
> Apakah yang mati karena peristiwa kerusuhan beberapa tahun lalu, karena
> membela PDIP tahu siapa Mega??
Irwan:
Mbak Yuni, tidak ada seorang pun yg tahu 100% tentang
orang lain, termasuk anda tidak terkecuali. Got it?
Silahkan anda mengomentari tentang Mega, tapi jangan
bilang orang lain yg mendukung Mega itu ngga tahu tentang
Mega seperti anda.
Apakah menurut anda, anda lebih tahu tentang Mega ketimbang
si Roni (anak mana pula ini...heheh), anda lebih tahu Mega
ketimbang Haryanto Taslam, Kwik Kian Gie, Gus Dur, Ali Sadikin,
Wimar Witoelar, Bono, Desi, Dian, Lita, Bejo, Iyem, Tuminjem,
Paijo, dll?
Coba deh direnungin lagi sikap anda.
Saya tidak melarang anda mengomentari tentang Mega,
silahkan saja. Tapi menganggap diri yg paling tahu tentang
Mega itu yg menurut saya ngga bener.
Yuni:
> Di email ku yang lain sudah aku katakan bahwa aku melihat dengan mata dan
> kepalaku sendiri Mega sewaktu jadi pemimpin resmi PDI sudah sebar sebar
> tanda
> tangan untuk minta proyek, untuk partai.Apapun alasannya, hal hal seperti
> ini
> yang saya tidak suka dari seorang pemimpin. Mungkin itu bukan Mega, mungkin
> itu perbuatan oknum, mudah mudahan.
Irwan:
Tuh khan, lihat lagi deh tulisan anda di atas.
Diawal anda katakan anda melihat dengan mata kepala
sendiri kelakuan Mega. Tapi dikalimat berikutnya anda
memberikan keraguan bahwa itu PASTI tindakan Mega.
Semoga anda menyadarinya.
Yuni:
> Tetapi tampaknya arahnya waktu itu jelas
> menunjukkan Mega tidak ubahnya anak anak pejabat lainnya yang suka
> memanfaatkan kesempatan bapaknya jadinya penggede. Seperti halnya Bambang
> Sulistomo, anaknya bung Tomo, yang memanfaatkan nama bapaknya yang sudah
> meninggal untuk mendapatkan proyek di PLN.
Irwan:
Dari data yg anda tidak yakin tersebut lalu anda lompat
ke kesimpulan. Nah, ini khan namanya ngga bener.
Coba lihat lagi deh kelakuan anak2nya Soekarno waktu
Soekarno menjadi presiden. Apa ada yg memanfaatkan
kedudukan bapaknya secara berlebihan?
Coba lihat fakta ini, please.
Yuni:
> Saya tahu hal hal seperti ini karena saya suka iseng ingin tahu bagaimana
> kehidupan orang orang gede, saya dulu terlibat dengan mereka untuk memenuhi
> rasa keingin tahuan. Setelah tahu kehidupan mereka saya jadi ngeri.Memang
> benar firman Allah bahwa harta dan kedudukan bisa melupakan seseorang akan
> dirinya sendiri dan sekitarnya.
Irwan:
Jangan sampai karena ulah beberapa anak penggede,
anda langsung mengeneralisir semua anak penggede
pasti rusak semuanya. Pernyataan seperti ini bagi saya
kurang bijaksana. Memang banyak anak penggede
yg rusak, yg menyelewengkan jabatan ortunya. Tapi tidak
sedikit pula anak penggede yg berkelakuan baik.
Mbak Yuni, jangankan orang besar, orang kecil yg terlalu
menderita dan ditekan terkadang ada juga yg sampai
khilaf. Lihat deh kembali peristiwa penjarahan tahun lalu.
Intinya, ngga peduli dia itu penggede atau rakyat jelata,
orang pintar atau tidak pintar, Islam atau Kristen, semuanya
mempunyai resiko berbuat jahat atau tidak benar selain
pula beresiko berkelakuan baik. Semoga ini anda sadari.
Yuni:
> Oke saya akui demi Allah saya menginginkan agar Indonesia dipimpin oleh
> seorang pria muslim yang arif bijaksana dan tahu kepemimpinan secara
Islam.
Irwan:
Anda bebas menyatakan keingingan dan pilihan anda
sebebas orang lain pula dan rakyat Indonesia menyatakan
pilihannya. Harga itu, please.
> Udah deh gue nanti dikira sok tahu lagi
> n
>
> Yuni
Irwan:
Hal tersebut ada prosesnya. Selama anda berusaha
untuk tidak sok tahu, itu saya hargai. Tidak ada manusia
yg sempurna. Mari kita sama2 belajar dan saling
mengingatkan.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu