Belajar menerima kekalahan adalah pelajaran politik pertama yang saya anggap penting.
Tanpa bisa menerima kekalahan dengan ikhlas atau bahkan melakukan kecurangan dalam
Pemilu, itu sama dengan mempermainkan rakyat atau malah mempermalukan bangsa sendiri
bahkan nenek moyang pejuang bangsa ini. Kok kita sudah merdeka tidak mau dewasa,
kasihan
pendahulu-pendahulu kita.
Amerika itu bangsa yang kritis, apa yang telah dilakukan disini mesti melalui ujian
dari
segalam macam lembaga bahkan lolos dari sosial kontrol masyarakat. Saya perhatikan
rakyat Amerika cerewet dan rewel untuk kepentingannya. Ini sangat positif karena dapat
memaksa pemerintah dan swasta untuk melakukan yang terbaik. Tetapi bukan cerewet dan
rewel iseng yang malah membingungkan, melainkan cerewet dan rewel untuk kepentingan
rakyat dan bangsa.
Andrew G. Pattiwael wrote:
> Tapi apakah kita sudah siap bung? Dalam arti apakah setiap elemen
> masyarakat kita sudah bisa menerima 'kekelahan' dan 'move on or life on'?
> di milist ini kita sudah bisa melihatnya kan...banyak yang tidak dapat
> menerima kekalahan.
> Sebentar ada lagi yang koment, jangan samakan Indonesia dengan Amerika
> atau jangan ngikut-ngikut gaya Amerika. Walau kadang saya ngeliat ini
> hanya sebagai trik untuk jangan membandingkan Indonesia karena memang
> Indonesia belum mampu.
> Dan sepertinya, kekalahan dalam Pemilu di Indonesia selalu diidentikan
> dengan 'Dendam' bukannya seperti kata bung itu 'Ikut Membangun'
> Semoga kita bisa menghapus tipikal diatas ini.
>
> Andrew Pattiwael
>