Rekan Yth.,
Saya teruskan berita detikcom dibawah ini,
sekedar untuk informasi saja.

Salam,
bRidWaN

=================================

Skenario Sidang Umum Golkar Bocor
Hitungan Golkar Kalahkan Mega
Reporter:Sigit Widodo

detikcom, Jakarta - Di kalangan wartawan peliput masalah-masalah politik
diJakarta, beredar berkas yang disebutkan sebagai bocoran laporan Badan
Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golongan Karya. Berkas ini memuat
perhitungan perolehan kursi, skenario koalisi dan otak-atik kursi dalam
menggolkan Calon Presiden Golkar dalam Sidang Umum MPR mendatang.

Berkas tersebut diteken oleh Laode M Kamaluddin, salah satu fungsionaris
DPP Partai Golkar yang juga anggota FKP dari Komisi VIII DPR. Berkas
bocoran skenario Golkar ini, Jumat (25/06/1999) kian beredar luas.
Sebenarnya berkas "bocoran" ini sudah beredar sejak Kamis (24/06/1999).
Dan sayangnya Laode belum berhasil dikonfirmasi, benarkah ia yang
membikin berkas tersebut.

Namun Wakil Sekjen DPP Golkar, Mahadi Sinambela, kepada detikcom, Jumat
(25/06/1999) pukul 10.30 WIB di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) di
Jl.Imam Bonjol, Jakarta Pusat, menyatakan, bisa saja berkas yang beredar
itu memang dibuat oleh Bappilu Golkar. "Soalnya Bappilu kan juga membuat
perhitungan suara sendiri. Dan perhitungan Bappilu sudah hampir final,"
kata Mahadi.

Ketika berkas yang disebut-sebut bocoran skenario Golkar itu ditunjukan
kepada Mahadi, ia pun membenarkan bahwa perhitungan suara yang
dilakukan Bappilu Golkar memang sudah pada posisi 99,57%.
"Angka itu benar kok,"kata Mahadi.

Berkas "bocoran" itu sendiri bertajuk "Laporan hasil analisa perolehan
kursi DPR-RI partai peserta Pemilu 1999". Di dalam berkas yang tidak
jelas bagaimana asal-usulnya hingga bisa beredar luas itu, disebutkan ,
dari 99,57% total penghitungan suara yang telah masuk, PDI Perjuangan
ternyata hanya mengalahkan Golkar 25 kursi saja.

Lalu muncul pula tiga skenario koalisi Partai Golkar dengan partai-
partai lain dalam DPR RI, dan tiga skenario untuk koalisi dalam MPR,
khususnya dalam SU untuk menggolkan Habibie sebagai Presiden. Ketiga
skenario itu semuanya menghasilkan keunggulan jumlah suara bagi Golkar
dibanding PDI Perjuangan.

Tak tanggung-tanggung. Dengan skenario tersebut, Golkar bakal mampu
mengungguli PDI Perjuangan antara 37 sampai 107 kursi di DPR RI.
Bahkan Bappilu Golkar dalam berkas itu menilai, perbedaan kursi
yang hanya 25 kursi atau 5,41% adalah perbedaan yang tidak cukup
significant atau tidak terlalu jauh.

Jumlah 99,57% suara yang tercantum dalam berkas tersebut menyisakan
0,43% suara yang belum dihitung karena adanya penundaan penghitungan
suara di Sulawesi Utara. Itu berarti dari 462 kursi yang tersedia,
masih ada dua kursi sisa yang belum dapat dihitung peruntukannya.

"Dari matrik ini, dapat dibaca bahwa dari 48 partai peserta Pemilu hanya
17 partai yang beruntung memperoleh minimal satu kursi. Sisanya tidak
memperoleh kursi dan suara pemilihannya diabaikan atau dianggap gugur
demi sistem," begitu tertulis dalam berkas itu.

Di antara 17 Parpol tersebut, berkas Golkar itu menyebutkan adanya enam
Parpol yang perolehannya cukup menyakinkan dan melampaui 2% persyaratan
UU Pemilu. Ke-6 partai tersebut adalah PDI Perjuangan memperoleh
151 kursi (32,68%), Partai Golkar 126 kursi (27,27%), Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) 56 kursi (12,12%), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
48 kursi (10,39%), Partai Amanat Nasional (PAN) 34 kursi (7,36%) dan
Partai Bulan Bintang (PBB) 14 (3,03%).

Disebutkan pula, 4 kursi PBB di antara 14 itu dimenangkan dengan
penggabungan sisa suara stembus accoord. di Sumatera Utara, Sumatera
Barat, Riau dan Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian, total perolehan
kursi ke-6 Parpol tersebut adalah 429 kursi atau 92,85% dari total
462 kursi yang diperebutkan hingga hasil penghitungan suara versi
Partai Golkar pada 18 Juni lalu.

Distribusi perolehan 11 kursi di luar enam Parpol besar, menurut
Bappilu Golkar dalam berkas laporan itu adalah Partai Keadilan yang
mendapatkan 8 kursi atau 1,73% bagian. Partai Keadilan disebutkan
nyaris lolos seleksi yang ditentukan Undang-undang Pemilu.
Selanjutnya Partai Nahdlatul Umat (PNU) 5 kursi (1,08%).

Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) dan Partai Demokrasi Kasih
Bangsa mendapat masing-masing 4 kursi (0,87%). Kemudian Partai
Demokrasi Indonesia 3 kursi (0,65%) dan Partai Persatuan 2 kursi
(0,43%). Sementara itu Partai Nasional Indonesia, Partai Syarikat
Islam Indonesia, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi, Partai
Bhineka Tunggal Ika Indonesia dan Partai Kristen Demokrat berbagi
rata masing-masing satu kursi.

Masih tertulis dalam berkas Golkar itu, 1 dari 8 kursi Partai
Keadilan diperoleh dari penggabungan sisa suara di Kalimantan
Timur. Sedangkan 1 dari 5 kursi PNU dan kursi semata wayang
Partai Nasional Indonesia diperoleh dari stembus accoord di
Jawa Tengah.

Pada bagian skenario koalisi untuk DPR, disebutkan kemungkinan
koalisi Golkar dengan PPP, PBB, gabungan partai Islam, PDI Budi
Harjono dan TNI yang mampu mengumpulkan 254 kursi. Sebagai
tandingannya PDI Perjuangan diperkirakan Bappilu Golkar akan
menghimpun kekuatan dengan PKB, PAN, PKP serta gabungan partai
sekuler lain. Dalam hitungan ini, Partai Golkar masih akan unggul
dengan 10 kursi dibanding koalisi PDI Perjuangan yang hanya
akan mampu menggabungkan 244 kursi saja.

Skenario kedua juga menempatkan PDI Perjuangan sebagai pihak kalah.
Bila PDI Perjuangan berkoalisi dengan PKB, PKP, TNI dan partai-partai
sekuler lain, maka akan mampu memiliki 248 kursi. Tetapi Golkar akan
merangkul PPP, PBB, PAN, PDI Budi Harjono dan gabungan partai Islam
sehingga mampu memperoleh 250 kursi atau unggul dua kursi dibanding
PDI Perjuangan.

Ketiga, kalau PDI Perjuangan hanya mampu merangkul PKB, PKP dan gabungan
partai sekuler saja, maka itu hanya akan terhimpun 216 kursi. Sedangkan
koalisi yang dihimpun Partai Golkar bersama PPP, PAN, PBB, ABRI, PDI
dan gabungan partai Islam bakal menggelembung dengan 288 kursi atau
melebihi 72 kursi di atas PDI Perjuangan.

Sedangkan skenario koalisi untuk MPR, Bappilu Golkar dalam berkas itu
menyebutkan, skenario tersebut disusun berdasarkan asumsi bahwa Parpol
yang menang pada suatu provinsi akan diambil semua. Sedangkan bila
perolehan suaranya sama kuat diperoleh dua parpol, maka kursi utusan
daerah akan dibagi dua. Dengan demikian dari 14 propinsi yang
dimenangkan Golkar, bakal menggaet 70 kursi.

PDI Perjuangan yang hanya unggul di 9 propinsi dengan cara semacam
itu hanya bakal mendapat tambahan 45 kursi. Sedangkan pada empat
propinsi yang PDI Perjuangan dan Partai Golkarnya sama kuat, bakal
berbagai masing-masing 20 kursi.

Untuk utusan golongan, Bappilu Golkar berasumsi , Golkar bakal mampu
mendapatkan 30 kursi dari 65 kursi yang tersedia. Sedangkan PDI
Perjuangan diduga bakal meraup 35 kursi sisanya. Dalam skenario
koalisi pertama yang melibatkan utusan golongan, utusan daerah dan
sisa pembagian kursi utusan daerah di provinsi yang sama kuat itu
Partai Golkar bakal mendapat 364 kursi DPR atau 54,43% suara.

Melalui cara koalisi sama yang disebut skenario konservatif itu,
PDI Perjuangan hanya akan mendapat 319 kursi atau 45,57% suara.
Itu berati Golkar unggul 45 kursi dari partai pimpinan Megawati
Soekarnoputri yang merupakan saingan terdekatnya itu. Sedangkan
dalam paparan skenario kedua Partai Golkar tetap unggul dengan
37 kursi. Dan skenario ketiga, Partai Golkar unggul 107 kursi.
Jadi mulus sudah Habibie jadi Presiden lagi?

==========================================
At 07:22 AM 6/25/99 +0700, bRidWaN wrote:
>Dear Rekan,
>
>Saya tidak menuduh adanya suatu Rekayasa,
>tetapi saya melihat adanya kemungkinan ini.
>
>Penggalangan opini publik yang dilakukan oleh
>sekelompok pihak tentang calon Presiden telah
>sampai pada objective-nya ; dimana telah terbentuk
>dengan sukses 2 kelompok pendukung calon Presiden ;
>Kelompok Megawati dan kelompok Non-Megawati, dalam
>hal ini direpresentasikan oleh Habibie.
>
>Banyak orang yang mengeluarkan pendapatnya, terutama
>dalam hal perdebatan dikaitkan dengan 'agama'.
>Hal kelihatannya tidak disadari oleh rekan-rekan
>yang asyik menggulir berita mengenai Megawati,
>dengan melupakan prioritas untuk menghadang laju
>kelompok pro-status quo. Komunike PDI-P, PKB dan PAN
>telah berhasil dipecah dengan issue Agama.
>
>Padahal dengan segala kebesarannya, masih ada kemungkinan
>bagi pihak Koalisi untuk mencari jalan keluarnya,
>khususnya mengenai strategi pencalonan Presiden serta
>pembentukan Pemerintahan yang baru dan bersih.
>
>Kini issue Agama telah sukses melebar, dan slogan tentang
>calon Presiden yang beragama Islam, Laki-Laki, dll
>telah terpatri dalam benak hati sebahagian masyarakat.
>
>Hal ini akan menyulitkan wakil Rakyat di-MPR dalam
>memilih calon Presiden, karena bila memilih Megawati,
>ada kemungkinan akan dianggap anti Islam.
>
>Nah, siapakah pilihan lainnya ?
>Jawabannya telah kelihatan saat ini, yaitu : HABIBIE.
>
>Kecuali bila pihak PAN bersama PKB dan PDI-P mau
>untuk kembali kepada Komunike Paso tentang Koalisi,
>dan memikirkan langkah baru menjelang SU-MPR.
>
>
>Salam,
>bRidWaN
>
>

Kirim email ke