Itulah kebanyakan tokoh di sini asbun dan carmuk sehingga omongannya
kebat-kliwat. Hal yang mendasar dan yang nyata menjadi terlupakan. Lha wong
namanya agama itu 'kan biar dibagaimanapun juga tak mempan dengan
pornografi. Yang terkena efek buruknya 'kan bukan agama atau budaya, tapi
anak-anak di bawah umur.
Cara mengatasinya? Yang pertama adalah peran orangtua yang punya anak (di
bawah umur) agar memberi penerangan yang benar soal seks dan pornografi.
Pemerintah atau lembaga tinggal mengatur prosedur peredarannya.
Barangkali mbak Yuni punya tips lain dengan pengalaman di sono?
Wassalam,
Efron
-----Original Message-----
From: Yuni Wilcox [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, 12 July, 1999 22:26 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kasus pornografi]
Setuju bung Efron. Lagian budaya timur sendiri juga nggak begitu nggak
berarti
murni nggak buka bukaan. Buktinya wanita jaman dulu di Bali khan dianggap
wajar tanpa memakai baju atasan, dan saya kira juga beberapa tempat lainnya.
Nah ini khan salah satu budaya Timur.
Begitu pula dengan orang dewasa, mau dikasih nasehat entek ngamek kurang
nggolek kalau dasarnya memang seperti itu ya nggak bakalan berhenti.
Nah memang tanggung jawab kita pada generasi muda. Kalau generasi tua dan
setengah tuanya sudah teler dan setengah teler, ya paling tidak generasi
mudanya dijaga agar tidak terlalu teler dimasa mendatang.
Tapi ini semua nggak akan gampang, karena ada lembaga kebebasan bicara yang
menentang adanya berbabagai macam sensor terutama di Internet.dan kalau
pemerintah sampai turun tangan memberikan larangan resmi untuk pornografi,
maka lembaga ini akan cari cari alasan untuk menentangnya. Selama ini mereka
sudah berusaha menitik beratkan ke beberapa negara Asia termasuk Indonesia.
Saya dukung deh "bebas pornografi" demi anak anak.
yuni
"Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Selain soal KPU, Ghalib, dan isu politik lainnya, saat ini sedang marak
perdebatan soal pornografi di media. Herannya di sini orang-orang menyerang
"pornografi" dengan alasan ini-itu seperti misalnya agama, etika, budaya
Timur (Indonesia), moral, dll. Bahkan Gubernur DKI bisa "belekan" kalau
melihat pose-pose itu (yang bener aja Bang Yos). Mungkin maksud Bang Yos
bisa belekan kalau memandang tanpa terus-menerus tanpa mengedipkan mata.
Para tokoh agama pun tak ketinggalan mengomentari (baca: membeli) media
"porno" itu sambil berkomentar macam-macam.
Anehnya, mereka yang lantang menentang pornografi tidak menitik-beratkan
ketidaksetujuan mereka terhadap bahaya kepada anak-anak di bawah umur.
Alasan klise (moral, etika, dll.) sangat tak paut bila yang dinasehati
adalah orang dewasa. Yang namanya orang dewasa tentu sudah tahu
baik-buruknya sebuah pose seronok di media. Mengapa orang-orang itu tak
menuntut/mengkritik media itu akan merusak anak-anak di bawah umur? Justru
anak-anaklah yang mestinya kita lindungi dari bahaya "pornografi" bukan
budaya Timur kita atau yang sejenisnya.
Bagaimana kawan-kawan?
Wassalam,
Efron
____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.