|
Saudara-saudara Permias,
Saya menyadari bahwa banyak dari anggota DPR dan MPR kita yang
mungkin tidak memiliki kualifikasi, terutama tingkat pendidikan, sesuai dengan
harapan kita. Namun demikian, saya kurang setuju kalau hal itu dijadikan alasan
untuk meremehkan mereka. Setiap anggota tersebut perlu dan harus kita nilai dari
kinerjanya nanti sewaktu mulai bertugas sebagai wakil rakyat, bukan dari latar
belakang pendidikan atau pengalamannya.
Mengenai sopan-santun dan etika, saya samasekali tidak
mendukung anggota MPR itu menyoraki Presiden kita. Namun demikian, saya juga
pernah melihat langsung bagaimana para anggota Parlemen Inggris dan Australia
yang berteriak-teriak pada saat Perdana Menteri mereka sedang pidato. Anda
sendiri tentu masih ingat melihat dalam tayangan TV perkelahian semacam tawuran
yang terjadi diantara anggota Parlemen Taiwan dan negara Amerika Latin (saya
agak lupa persisnya) pada saat sidang dilakukan. Alasan saya menyampaikan
hal-hal ini bukan suatu "excuse" bhw kita perlu meniru cara-cara
negara-negara lain itu, namun sekedar menyampaikan bhw kelakuan yg
"aneh-aneh" dari anggota Parlemen itu terjadi dimana-mana, bukan
monopoli Indonesia, dan bukan cerminan tingkat pendidikan yg rendah.
Untuk Pemilu yang akan datang, banyak pihak mengusulkan agar
sistem Pemilihan mengikuti Sistem Distrik, bukan lagi Proportional
Representation seperti sekarang ini. Dengan sistem pemilihan distrik itu, maka
setiap daerah pemilihan dapat mengenal lebih baik calon-calon wakilnya di DPR,
sehingga tidak seperti membeli kucing dalam karung. Untuk
sementara ini, marilah kita memberikan masukan dan saran kepada para anggota DPR
dan MPR itu, sehingga mereka benar-benar dapat memberikan sumbangsihnya secara
optimal.
Disamping cara demikian, kenapa kita tidak mulai berpikir
untuk menjadi staf DPR yang profesional seperti di Amerika Serikat. Seperti anda
ketahui, "kehebatan" dari anggota Kongres AS, Gubernur maupun Presiden
sekalipun bukanlah karena mereka itu superman, tetapi karena didukung oleh suatu
tim staf yang kuat. Para staf inilah yang memberikan masukan mulai dari
pengetahuan umum, poleksosbud, sampai public speaking dsb. Makanya jangan heran,
kalau dari sekitar 540 anggota Kongres AS (Senator + House Members) banyak yang
tidak memiliki paspor yang berarti tidak pernah ke luar negeri, namun dapat
menyampaikan pandangan dan pidato mengenai masalah internasional dengan begitu
fasihnya. Sebagian besar tugas itu dikerjakan oleh para staf mereka.
Salam
Mahendra
|
- Re: Bantu Anggota MPR Mahendra Siregar
- Re: Bantu Anggota MPR Budi Haryanto
- Re: Bantu Anggota MPR Jeffrey Anjasmara
