Rekan-rekan yth.,

Coba kalau kita lihat dari sudut yang lain lagi.
Kalau (asumsinya) para anggota MPR yang neriakin presiden tsb betul-betul spontan tindakannya, kemungkinan mereka-mereka ini sudah sangat 'eneg' dan memendam lama perasaan nggak sukanya ke presiden. Bisa saja khan kejadian-kejadian yang banyak negatifnya di Indonesia sejak kepemimpinan Habibie tsb dianggap hampir semuanya karena kesalahan Habibie bagi mereka-mereka yang sangat concern terhadap negaranya ini. Namun, diluaran mereka khan nggak bisa nglakuin apapun untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya. Apalagi ditambah dengan mahasiswa dan masyarakat yang sudah 'eneg' malah ditembaki. Belum lagi kasus Bank Bali, dll.

Jadi, kalau dugaan ini benar, mereka hanya 'tidak mampu menahan' gejolak kekecewaannya yang tertekan selama ini. Di MPR ini dianggap akan bebas dari penembakan kalau sedikit mengungkapkan kekecewaan (barangkali...). Untuk yang ini saya kira manusiawi.

Justru mereka-mereka yang sok sopan, sok santun, sok pinterlah yang sebenarnya penuh muslihat licik dan tidak jujur.

Selamat bekerja MPR, semoga hati nurani anda sekalian diterangi oleh Yang Maha Kuasa.

Salam,
Budi

At 04:54 PM 10/1/99 -0400, you wrote:
>>>>
Saudara-saudara Permias,

Saya menyadari bahwa banyak dari anggota DPR dan MPR kita yang mungkin tidak memiliki kualifikasi, terutama tingkat pendidikan, sesuai dengan harapan kita. Namun demikian, saya kurang setuju kalau hal itu dijadikan alasan untuk meremehkan mereka. Setiap anggota tersebut perlu dan harus kita nilai dari kinerjanya nanti sewaktu mulai bertugas sebagai wakil rakyat, bukan dari latar belakang pendidikan atau pengalamannya.

Mengenai sopan-santun dan etika, saya samasekali tidak mendukung anggota MPR itu menyoraki Presiden kita. Namun demikian, saya juga pernah melihat langsung bagaimana para anggota Parlemen Inggris dan Australia yang berteriak-teriak pada saat Perdana Menteri mereka sedang pidato. Anda sendiri tentu masih ingat melihat dalam tayangan TV perkelahian semacam tawuran yang terjadi diantara anggota Parlemen Taiwan dan negara Amerika Latin (saya agak lupa persisnya) pada saat sidang dilakukan. Alasan saya menyampaikan hal-hal ini bukan suatu "excuse" bhw kita perlu meniru cara-cara negara-negara lain itu, namun sekedar menyampaikan bhw kelakuan yg "aneh-aneh" dari anggota Parlemen itu terjadi dimana-mana, bukan monopoli Indonesia, dan bukan cerminan tingkat pendidikan yg rendah.

Untuk Pemilu yang akan datang, banyak pihak mengusulkan agar sistem Pemilihan mengikuti Sistem Distrik, bukan lagi Proportional Representation seperti sekarang ini. Dengan sistem pemilihan distrik itu, maka setiap daerah pemilihan dapat mengenal lebih baik calon-calon wakilnya di DPR, sehingga tidak seperti membeli kucing dalam karung. Untuk sementara ini, marilah kita memberikan masukan dan saran kepada para anggota DPR dan MPR itu, sehingga mereka benar-benar dapat memberikan sumbangsihnya secara optimal.

Disamping cara demikian, kenapa kita tidak mulai berpikir untuk menjadi staf DPR yang profesional seperti di Amerika Serikat. Seperti anda ketahui, "kehebatan" dari anggota Kongres AS, Gubernur maupun Presiden sekalipun bukanlah karena mereka itu superman, tetapi karena didukung oleh suatu tim staf yang kuat. Para staf inilah yang memberikan masukan mulai dari pengetahuan umum, poleksosbud, sampai public speaking dsb. Makanya jangan heran, kalau dari sekitar 540 anggota Kongres AS (Senator + House Members) banyak yang tidak memiliki paspor yang berarti tidak pernah ke luar negeri, namun dapat menyampaikan pandangan dan pidato mengenai masalah internasional dengan begitu fasihnya. Sebagian besar tugas itu dikerjakan oleh para staf mereka.

Salam
Mahendra



<<<<

Kirim email ke