Wah, perasaan semua tokoh yang diwawancara meliputi semua perwakilan partai,
baik dari PDIP (tak kurang dari KKG), PAN, Golkar, PPP, dan semuanya
menyatakan prihatin atas kelakuan para penyorak ini. Tidak ada excuse atas
tindak kekanak-kanakan ini, tidak juga contoh-contoh yang diberikan Bung
Mahendra (di Taiwan, Amerika Selatan, dlsb). Masak kita mencontoh yang
jelek-jelek yang ada di dunia ini?

Kita saat ini sedang berusaha meniru yang terbaik. Nah saat ini yang secara
terbuka ditayangkan, sehingga terbukti terbaik adalah Konggres AS. Saya
justru berharap, nanti di Indonesia ada channel TV khusus yang menyiarkan
setiap persidangan yang berlangsung. Setiap tingkah laku wakil rakyat akan
selalu disorot oleh seluruh rakyat Indonesia. Jadi tidak hanya sekedar
datang, makan, molor, lalu mundur (pulang). Rasanya dengan cara ini para
wakil rakyat dapat terpacu untuk bekerja keras untuk rakyat yang
diwakilinya. Bukan sekedar sebagai simbol perwakilan rakyat doang.

Dengan demikian, untuk menuju kepada arahan Bung Mahendra (pembentukan staf
profesional anggota MPR), cara paling gampang adalah liberalisasi penyiaran
televisi ke seluruh acara persidangan. Saya rasa ini adalah langkah paling
konkrit untuk memaksa wakil rakyat bersikap profesional. Kalau satu-dua
orang membantu satu orang wakil, wah, it will take forever mas.....;)

+jeffrey anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke