Sejak Pemilihan Ketua MPR, sudah terlihat adanya permainan politik yang 'cantik' dari para politikus kita. Disebut cantik, karena kelihatannya masyarakat sampai tidak bisa mengikutinya. Bahkan sebahagian anggota MPR itu sendiripun agak bingung. Dalam suasana bermain cantik, kelihatan Gus Dur masih bisa (meskipun susah) untuk mengendalikan permainan. Dalam hal ini, saya kagum dengan AR dan AT, yg dengan situasi perolehan PAN 7% dan Hujatan kepada Golkar, mereka masih bisa tampil, dengan cantik pula...:) Selamat kepada Pak Amien dan Pak Akbar ! Nah, kini merekapun agak pusing, karena babak akhir ini akan semakin membingungkan dalam bermain. Termasuk Gus Dur pun ikut bingung nampaknya. Apalagi kita. Dalam babak akhir ini, kelompok Pendukung Habibie, yang notabene bukan hanya dari Golkar (hitam?) saja, akan tetapi kita juga tahu bahwa ada beberapa Partai yang sejak semula sudah jelas2 mendukung Habibie. Kelompok inilah yang akan mengacaukan suatu permainan yang telah dibina dengan cantik, dan akan membuat kejutan serta manuver yang sudah bisa diduga. Itulah sebabnya, terkesan PDI-P agak membelot dengan mengatakan cara musyawarah yang sebaiknya diambil. Kenapa ? Karena kalau diambil cara Voting, maka kans Habibie untuk menjadi Presiden-lah yang terbesar. Saya yakin bahwa Gus Dur sama sekali tidak interest untuk menjadi Presiden, dan beliau terlihat sangat mendukung Mega untuk menjadi Presiden dari awal. Pencalonan Gus Dur inipun cukup membuat beliau pusing nampaknya, karena ini akan merusak permainan yang tengah dikembangkan, atau bisa disebut sebagai suatu anti-klimaks. Konon ada skenario baru yang tengah digodok, dengan membuat alternatif baru yaitu duet Mega-Akbar. Namun bagaimana posisi Akbar yang telah menjadi Ketua DPR ? Ada yang bilang posisi ini akan diambil oleh Kiki. Caranya ? Nah, inilah pokok persoalannya. Kalau kita cermati permainan PBB dengan melakukan interupsi pada pemilihan Ketua DPR, nampak bahwa manuver ini sengaja dibuat untuk mengacaukan permainan, dan ingin memojokan Mega dengan "Mengadu-Domba" Mega dengan para pendukungnya. Terlihat bagaimana komentar PBB yang mengatakan bahwa Mega harus bisa menjelaskan kepada pendukung PDI-P mengapa mendukung Golkar pada waktu pemilihan Ketua DPR. Dan kalau dijalankan dengan musyawarah, agak susah manuver itu dijalankan, makanya mereka mati2an minta diadakan voting. Dan berhasil, dan besoknya keluarlah Pernyataan Ketua PBB dimass media. Indah bukan ? Kalau dipikir2, ngapain PBB capek capek mikirin pertanggungan jawab Mega kepada pendukung PDI-P ? Menurut saya, kita harus hati-hati dengan pencalonan Gus Dur, karena ini adalah bagian dari permainan. Pada waktu Gus Dur sudah diposisikan 'kuat' sebagai Capres, dan dianggap sudah siap diadu dengan Habibie, ketika itulah Gus Dur akan digoyang dengan issue-issue yang menyakitkan. Namun inipun tergantung pada Akbar, bagaiman dia bisa terampil 'bergoyang' dalam Rapim Golkar nanti. Ini hanya pemikiran orang awam yang rada 'bodoh' saja, tetapi ingin mengutarakan uneg-uneg nya. Boleh kan ? Mohon maaf saya mengcopy-kan kepada beberapa rekan di-millis lain, karena saya membutuhkan sanggahan pemikiran akan tulisan/uneg2 saya ini. Selamat Berakhir Pekan ! Salam, bRidWaN At 07:49 PM 10/7/99 +1000, P.Rahardjo wrote: >PKB Resmi Dukung Gus Dur Capres >Reporter: Hestiana Dharmastuti > >detikcom, Jakarta- Setelah F-Reformasi resmi mencapreskan >Gus Dur, F-PKB pun secara resmi juga mendukung pencapresan >itu. �Dukungan PKB bukan hanya didasari pada pencalonan >Poros Tengah, tapi dari NU dan PKB menilai sosok Gus Dur >cocok untuk menjadi presiden,� tegas Ketua PKB Alwi Shihab. >http://www.detik.com/berita/199910/19991007-1440.htm >-------------------------------------------------------- > >tamat sudah, Mega dan Habibie >Poros Tengah, PKB, sebagian partai lain akan ke Gus Dur > >rivalnya sebagian dari: >PDI-P (100an) >Golkar (80an) >UD (50an) >dan UG (30an) >----------------- > 260an > >Gus Dur akan dapat MPR (690) - 260 = 430an > >dan masuk ke Istana boleh pakai sarung :-) > >ada analisa lain ? > >pr-
