In a message dated 10/8/99 12:01:46 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Untuk Irwan...
> Yaaahhh segitu aja kemampuannya... di challange tuh sama KKG...
> kalau saya sih... udah bisa tulisan saya masuk koran, saya langsung
> bikin analisa baru deh yang menyokong pendapat saya. Hancurin KKG
> sekalian, liat sampai dimana dia bisa ber"argue"
Irwan:
KKG mengatakan "TIDAK MENJAMIN".
Siapapun akan maklum dalam floating system, apalagi free floating
system yg kita anut sekarang, pergerakan rupiah itu ditentukan
oleh kekuatan pasar. Sekali2 bisa saja digerakan dengan intervensi,
tapi buntut2nya ya kekuatan pasar lagi nanti yg akan lebih berperan.
Jadi jelas tidak ada yg bisa menjamin, kalau justru ada yg
berani bilang bisa menjamin, itu yg perlu dipertanyakan.
Bank sentral Jepang saja sering kewalahan menghadapi kekuatan
pasar seperti sempat 1-3 minggu terakhir ini menghadapi
penguatan Yen terlalu cepat buat mereka.
Saya pribadi juga tidak pernah mengeluarkan kata2 menjamin
karena memang kata2 "MENJAMIN" itu sangat diharamkan
dilingkungan trader. Yang saya berikan hanyalah sebuah prediksi
berdasarkan analisa2 yg saya lakukan. Silahkan mau
dipercayai atau tidak, tidak ada paksaan alias bebas karena
memang untung dan rugi ditanggung sendiri2....:)
Di milis [EMAIL PROTECTED] pun saya belum memberikan
rekomendasi borong rupiah seperti yg sudah2 saya lakukan bila
melihat sinyal kuat karena memang saya belum melihat sinyal
kuat tersebut baik secara situasi atau pun grafik. Dari secara grafik
saat ini sedang tahap konsolidasi untuk gerakan kencang berikutnya.
Tunggu tanggal mainnya, pada saatnya nanti saya akan lepaskan
rekomendasi (jual atau beli), bila sinyal itu sudah datang.
Sudah beberapa kali saya memberikan rekomendasi
borong rupiah di milis tersebut ketika rupiah beberapa kali
mencoba menyentuh 10 ribu beberapa waktu yg lalu dan
saat itu sudah beredar rumors kuat rupiah akan menembus
10 ribu bahkan bisa lebih parah lagi. Saya lemparkan rekomendasi
berikut analisa baik secara situasi dan juga grafik yg ada (para
trader/spekulan sering menggunakan grafik sebagai salah satu
pedoman gerakan). Faktanya? Beberapa kali rupiah gagal
dipaksa tembus 10 ribu dan malah menguat menembus 8000
dan bahkan pernah menembus 7000. Selain rekomendasi
borong rupiah, saya pun beberapa kali kasih rekomendasi
profit taking dan saat itu rupiah memang akhirnya melemah.
Apakah saya yg menggerakan rupiah? Jelas tidak, saya hanya
mencoba mengantisipasi gerakan rupiah ke depan berdasarkan
data2 yg saya miliki dan juga para trader lainnya miliki.
Saya sebagai trader memang terbiasa dalam analisa2
memberikan angka2 target. Ini yg tampaknya belum terbiasa
dikonsumsi oleh sebagian masyarakat.
Apakah di artikel tersebut KKG memberi jaminan bahwa rupiah
tidak akan ke Rp5000 bila kondisi yg saya sebutkan terpenuhi?
Tidak juga toh...:)
Di akhir paragraf KKG menambahkan komentarnya bahwa
rupiah saat ini undervalued. Dengan bahasa lain, KKG
mengatakan rupiah akan menguat di waktu mendatang hanya
saja dia tidak tahu bisa sampai berapa. Saya bisa menerima
pendapatnya sebagai suatu pendapat. Pendapat saya tidak
ditentukan atau pun dibatasi oleh pendapat orang lain.
Dari mana angka Rp5000 itu saya peroleh?
Perhatikan perhitungan dengan menggunakan asumsi situasi
dibawah ini. Saya kutipkan saja cuplikan dari tulisan susulan saya
ke detik.com untuk melengkapi yg kemarin itu, belum dimuat
sampai saat ini dan kemungkinan besar tampaknya tidak akan
dimuat seperti tanggapan saya atas komentar pembaca, Rizal,
di detik.com yg saya kirim pada hari yg sama ketika komentar
itu dimuat.
------cuplikan dari tulisan susulan------
Walau demikian, angka Rp5000 itu bukan lahir begitu saja.
Saya menggunakan ukuran perbandingan situasi dengan
negara Thailand dan Philipina.
Sebelum krisis Juli 1997 lalu per dolar AS, nilai kurs rupiah
adalah Rp2400, Baht Thailand 24 dan Peso Philipina 26.
Pagi tadi jam 9:43 AM waktu Jakarta, kurs Rupiah 7825,
Baht Thailand 40.05, Peso Philipina 40.5.
Dari angka2 di atas kita ketahui nilai Baht Thailand merosot 40%
dan Peso Philipina 35.8% sejak sebelum krisis terjadi.
Bila kita ambil penurunan yang terburuk saja, maka penurunan
40% dari Rp2400 itu adalah Rp4000. Karenanya angka Rp5000
yang saya berikan itu adalah angka konservatif yang sebenarnya
sudah pernah diberikan oleh Stanley Fischer pada bulan Juni lalu.
Saat ini rupiah berada di sekitar Rp7800 menurut saya karena
pasar masih mendiskon negatif unsur kepercayaan yang memang
saat ini sangat rendah. Seperti kita ketahui, krisis yang terjadi
di Indonesia selama ini sumbernya karena krisis kepercayaan.
Karenanya bagi saya, untuk bisa memulihkan segera krisis
yang bekepanjangan ini mau tidak mau unsur kepercayaan tersebut
baik dari investor lokal, luar negeri atau pun masyarakat luas harus
segera dikembalikan.
Indonesia jelas tidak bisa dibandingkan dengan Thailand dan Philipina.
Tidak bisa dibandingkan disini bukan dalam artian lebih buruk tapi
malah lebih baik karena memang potensi ekonomi Indonesia jauh
di atas Thailand dan Philipina. Karenanya jangan heran nanti bila
dalam 2-4 tahun mendatang rupiah kembali ke Rp2500. Saya pun
kini sedang mempersiapkan tulisan yang bisa membantu mempercepat
pulihnya perekonomian kita. Mudah-mudahan bisa kelar dalam
beberapa hari mendatang.
-----akhir cuplikan------
Walau demikian harus kita ingat, seberapa besar pun potensi
yg dimiliki oleh suatu negara, tapi kalau tidak dikelola dengan
baik oleh pemerintahan yg bersih (tidak korup), potensi tersebut
tidak akan terlalu banyak berarti dan jangan terlalu diharapkan.
Kalau anda punya copy The Wall Street Journal tanggal 30
Desember 1997, disana anda akan melihat apa yg dilakukan
oleh para fund manager asing pada pertengahan
tahun 1997 atas portfolio yg mereka miliki atas saham2 di BEJ.
Saya pernah tulis ini dalam analisa panjang saya bulan
Februari 1998.
Nilai suatu kepercayaan itu tidak bisa dibeli dengan janji2.
Kepercayaan akan tumbuh dan hilang sejalan dengan
berjalannya waktu. Di milis rupiah dan saham, saya memerlukan
waktu yg tidak sebentar sebelum sampai tahap analisa2
saya bisa cukup mendapat tempat di para anggota,
bahkan terkadang dijadikan salah satu pertimbangan
untuk menentukan posisi. Bahkan ada beberapa yg
menghubungi via japri saya meminta masukan atas
dana 100 ribu USD yg dia miliki atau pun ratusan juta
rupiah portfolio dalam saham yg dia miliki. Tapi karena
saya melakukan semua ini bukan atas pekerjaan profesional,
karenanya saya lebih sering cenderung untuk meminta mengikuti
analisa2 lewat kedua milis tersebut.
Demikian juga dengan Megawati. Saya yakini, kepercayaan
rakyat yg diberikan padanya tidak datang begitu saja tapi
melalui proses yg tidak sebentar waktunya.
Mari kita renungkan, AR yg partainya hanya mendapat
kepercayaan rakyat 7% saja menduduki posisi ketua MPR.
AT yg partainya mendapat sekitar 20% kepercayaan rakyat
saja menduduki posisi ketua DPR. Bagaimana
mempertanggung-jawabkan hasil pemilu lalu kepada rakyat
bila capres pemenang pemilu yg notabene paling
dipercayai oleh rakyat yg mendapat 35% suara itu tidak
dapat menduduki jabatan presiden hanya karena dampak
dari demokrasi arisan?
Amerika bisa maju seperti sekarang karena mereka menempatkan
suara rakyat pada posisi yg tertinggi.
Bila kita lihat kasus Clinton-Monica, dari sudut manapun
jelas Clinton salah secara hukum dan cukup untuk membuatnya
mundur dari jabatan presiden. Tapi rakyat AS telah bersuara
bahwa mereka akui Clinton bersalah, tapi mereka meminta
para wakilnya untuk mempertahankan Clinton di White House
karena mereka masih butuh tenaganya untuk memimpin AS.
Memang ada sebagian masyarakat yg menginkan Clinton mundur
atau didepak dari WH, tapi karena di AS berlaku demokrasi
rakyat dimana suara terbanyaklah yg dijadikan keputusan.
Inilah yg saya impikan bisa ada di bumi Indonesia dimana
suara rakyat (bukan suara wakil yg duduk di MPR) mendapat
tempat paling atas.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu