Priyo Pujiwasono <[EMAIL PROTECTED]>:
...
>Budi,
>saya setuju kalau yang di "daerah"kan juga tenaga2
>perencana/planning. Otonomi Daerah akan perlu banyak
>orang yang tahu persis masalah planning ini. Sementara
>di daerah saya yakin masih kurang SDM yang menguasai
>planning dengan baik.
Yw: Saya setuju juga, dan UU-nya sekarang juga mendukung,
kan ada UU perimbangan pusat daerah (eh, tapi kalo
'gak salah berlakunya baru 2 th lagi).
>Mungkin banyak staf dari SETJEN Departemen2, juga
>staf-staf Bappenas harus dikirim ke daerah saja, biar
>lebih efektif kerjanya.
Yw: Dan Jakarta biar 'gak nyumpel.
>Bappenas & Depkeu baiknya digabung aja jadi satu, biar
>lebih ramping dan nggak terlalu memperpanjang
>birokrasi. Wong Bappenas kebanyakan juga cuma bagi2
>plafon APBN, dan bukan planning....;-)))
Yw: Dan Bappenasnya bubar total, sekalian gedung2nya
dijual aja. ;-) Lumayan, kan dapet duit tambahan
dan juga ngurang-ngurangin property cost (and
mengoptimalkan opportunity cost of that property).
>BTW, soal nama kabinet, kami dari kelompok MADANI
>usul, kalo boleh, namanya: Kabinet Madani aja....;-))
>http://www.republika.co.id/9910/22/28472.htm
>Wassalam,
>~yo
Yw: Nha, ini menarik. Soal nama. Usul tandingan.
Nama kabinetnya, jangan Kabinet Madani Bocah.
Mendingan:
1. Kabinet Yen Obah (atau lengkapnya:
Kabinet Yen Obah Madani Bocah ... ;-)
Usul lain nama kabinet (yg agak serius):
2. Kabinet Wahid-Mega
dari sisi logis, ini logis, karena duet itu
adalah pemimpinnya; dari sisi makna, ini
sip. Wahid itu kan artinya nomer satu,
sedangkah Mega itu artinya akbar/besar/agung.