Saya juga sangat menyesalkan perjalanan honeymoon dari
Presiden Gus Dur. Rasanya lebih bijaksana "menitipkan"
negosiasi urusan Aceh kepada Amien Rais saja (sbg
pribadi yang bisa diterima rakyat Aceh -- bukan
sebagai Ketua MPR), kalau masih ingin rakyat Aceh
tetap bersatu dengan RI. Ibunda "Cut Nya'" MS
tampaknya belum bisa diterima masyarakat Aceh.
Gus Presiden, pulanglah segera...urusan Aceh jauh
lebih penting dari urusan Israel.
Wassalam,
~yo
--- Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Geger Aceh adalah geger warisan ABRI. Yang repot
> bukannya Gus Dur mengurusi
> keadaan dalam negeri, malah pesiar keliling ASEAN.
> Kalau kondisi belum
> menguntungkan, mengapa pula mesti pergi-pergi dulu?
>
> Yang repot dari Aceh adalah adanya contoh soal dari
> Timtim. Inilah kalau RI
> punya presiden yang dapat bicara lebih cepat dari
> bayangannya. Bukannya
> dicerna dulu, eh, Habibie asal saja main celetuk
> kanan kiri. Keinginan
> daerah-daerah yg merasa kaya alamnya saat sekarang
> ini lebih didasari
> keinginan untuk cepat menjadi Brunei kedua. Ini
> terjadi pada Aceh dan Riau.
>
> Saat-saat ini adalah saat menentukan untuk
> berdirinya negara bernama
> Republik Indonesia. Kerikil Timtim yang jatuh di
> timbunan salju, saat ini
> hanya disangga oleh batu Aceh. Sekali Aceh diberi
> pilihan referendum, maka
> bola salju tak akan tertahankan lagi.
> Keretakan-keretakan berujud rasa
> KEAKUAN kedaerahan setiap saat dapat merubah RI
> menjadi kepingan-kepingan
> kecil tak berarti. Hai engkau Gus Dur, Wiranto, dan
> Widodo, siap-siap saja
> dengan avalanche yang akan datang. Lihat saja
> sekarang LSM-LSM eks Timtim
> telah bereorganisasi dan berganti nama.
>
> Presiden Gus Dur menciptakan lagi satu kesalahan
> fatal. Ajakan Gus Dur
> kepada Xanana untuk bergabung ke ASEAN adalah
> tindakan bodoh yang
> menyepelekan negara-negara tetangga yang was-was
> dengan kehadiran Aussie di
> Timtim (Singapura dan Malaysia pernah menyatakan
> demikian di harian nasional
> masing-masing). Keinginan Gus Dur yg sempat
> terlontar untuk bertemu dengan
> Anwar dan Auk juga merupakan kesalahan diplomasi
> luar negeri dari Gus Dur.
>
> Mengenai ajakan kepada Xanana, selain tidak
> strategis untuk kepentingan LN,
> juga tidak strategis untuk kepentingan ke dalam
> negeri. Gus Dur jelas-jelas
> tidak berpikir bahwa ini dapat menjadi senjata makan
> tuan buat
> kelompok-kelompok yg ingin memisahkan diri dari
> NKRI.
>
> Saya rasa, bila pemerintahan Gus Dur tidak mampu
> mengendalikan situasi di
> dalam negeri, maka militer akan turun tangan
> kembali. Kelihatannya, waktu
> untuk itu tidak akan lama lagi.
>
> Suatu perkembangan menarik terjadi pada Marwah Daud
> Ibrahim. Dapat dilihat
> bahwa Marwah ini juga tidak mempunyai rasa
> kebangsaan cukup kuat. Rasa
> kedaerahannya yang lebih besar. Bukti untuk itu
> adalah setelah kecewa dengan
> kekalahan Habibie, pemikiran federalisme tiba-tiba
> mencuat dari benak ibu
> satu ini. Marwah terlihat mempunyai keinginan
> terpendam untuk menjadi
> pejabat terpandang, bila tidak di dalam pemerintahan
> RI, maka dia punya
> harapan di negara Sulsel.
>
> Yang juga menarik adalah tuntutan mahasiswa Sulsel
> untuk membentuk negara
> federal atau merdeka. Kehendak mereka untuk
> membentuk Negara Indonesia Timur
> buat saya agak menggelikan. Orang-orang Makasar
> diusir dari Timtim, diusir
> dari Maluku, dan diusir dari Irja. Bagaimana mungkin
> mau mendirikan Negara
> Indonesia Timur?
>
> Bila mahasiswa Makasar memaksakan kehendaknya
> seperti mahasiswa Aceh, yang
> akan terjadi adalah negara Sulsel, negara Sultra,
> negara Irja, dan negara
> Maluku. Masing-masing berdiri sendiri, bukan
> merupakan negara federasi.
> Setelah satu atau dua tahun, maka negara Sulsel juga
> akan pecah menjadi
> negara Bugis, Negara Makasar, dan Negara Mandar.
> Sedangkan di Maluku akan
> muncul negara Maluku Selatan dan negara Maluku
> Utara.
>
> Bagaimana di wilayah Sumut? Sama juga. Akan jadi
> negara Sumut. Setelah itu
> orang melayu di Medan akan memisahkan diri untuk
> bergabung dengan Riau, atau
> mendirikan negara sendiri. Masyarakat Batak akan
> mengungsi ke wilayah
> Tapanuli kembali, dan akhirnya membentuk negara
> Batak. Berhubung rasa
> kedaerahan juga ada di kalangan orang Simalungun yg
> merasa menjadi orang
> sukses pertama di wilayah itu, maka akan terpisah
> lagi dari negara batak,
> menjadi negara Simalungun. Demikian pula dengan
> wilayah Dairi dan Sibolga yg
> punya karakteristik berbeda dengan yg di kawasan
> Toba.
>
> Bagaimana di Jawa? Mula-mula akan menjadi negara
> Jawa atau negara Indonesia
> Kecil dengan wilayah seluruh Jawa dan Madura, sampai
> NTT. Setelah itu akan
> muncul negara Pasundan karena merasa mereka terpisah
> dari orang Jawa bahkan
> jauh ke jaman Majapahit dulu. Setelah itu Madura
> menyusul, juga Bali, Sasak,
> Timor, dlsb. Setelah habis terbagi, maka Negara Jawa
> juga akan terpisah
> yaitu antara orang Jawa Timur yg merasa punya rasa
> egaliter lebih besar
> daripada orang di wilayah tengah yg banyak
> unggah-ungguh. Telah itu yg di
> Jateng akan terbagi lagi yg utara dan selatan.
>
> Apakah anda tertawa dengan tulisan saya? Pikirkan
> lagi deh. Permintaan saya
> terutama saya tujukan kepada mereka yg sibuk
> mendukung Timtim untuk
> berpisah.
>
>
> Jeffrey Anjasmara
>
>
______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at
> http://www.hotmail.com
>
=====
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com