Salam!
Tampaknya rakyat  Acheh mulai merasa urusan Acheh diselesaikan oleh bangsa
Acheh sendiri dan dengan cara-cara acheh pula. Moral tentara dan meriam sudah
tidak mampu lagi membungkam semangat Acheh. Urat takut bangsa Acheh sudah
putus. Apalagi oleh sejuta kata hambar yang ditebar Jakarta!

Jika pun rakyat Acheh berpisah dari RI, sebaiknya mencontoh Slovenia ketika
lepas dari Yugoslavia dominasi Serbia dulu. Di mana, korbannya cuma puluhan
orang. Jangan sampai kayak Bosnia dan Kroasia deh , yang mati sampai ratusan
ribu.

Semua kukatakan dengan getir, walau aku tahu, sesungguhnya aku ingin tetap
bersaudara dengan bangsa Acheh, bersama-sama dalam federasi Indonesia Raya.
Tetapi keinginan itu bisa menjadi percuma melihat jutaan kalian tumpah ruah
di jalan-jalan peradaban.


salam,
ramadhan pohan
(penggemar pisang saleh dan ikan kayu)

######
In a message dated 11/9/99 2:12:13 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED]
writes:

<< Saya juga sangat menyesalkan perjalanan honeymoon dari
 Presiden Gus Dur. Rasanya lebih bijaksana "menitipkan"
 negosiasi urusan Aceh kepada Amien Rais saja (sbg
 pribadi yang bisa diterima rakyat Aceh -- bukan
 sebagai Ketua MPR), kalau masih ingin rakyat Aceh
 tetap bersatu dengan RI. Ibunda "Cut Nya'" MS
 tampaknya belum bisa diterima masyarakat Aceh.
 Gus Presiden, pulanglah segera...urusan Aceh jauh
 lebih penting dari urusan Israel.
 Wassalam,
 ~yo

 --- Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 > Geger Aceh adalah geger warisan ABRI. Yang repot
 > bukannya Gus Dur mengurusi
 > keadaan dalam negeri, malah pesiar keliling ASEAN.
 > Kalau kondisi belum
 > menguntungkan, mengapa pula mesti pergi-pergi dulu?
 > >>

Kirim email ke