Waduh mas, kalau saya lagi mencela TNI mah nggak kurang membabi butanya
dengan urusan lainnya. Paling tidak jelas jauh lebih 'berani' dengan anda yg
boro-boro berani ngritik. Hanya saja kita mesti lihat duduk persoalannya
dong. Seperti persoalan Ambon misalnya. Penyelesaian tidak dapat dilakukan
dengan sekedar menyambangi kota Ambon. Wah, kalau urusan konflik dapat
diselesaikan dengan sekedar berkunjung sih enak sekali.
Setiap persoalan yang sudah berlangsung akut seperti Ambon harus
diselesaikan dengan dua cara sekaligus. Cara sipil harus tetap nomor satu.
Kalau tidak dapat diselesaikan, maka pemerintahan sipil mengirim polisi atau
tentara untuk mengamankan dan mendamaikan. Dengan demikian polisi dan
tentara juga tidak salah tingkah.
Saat ini, ibarat kita punya rumah diacak-acak maling. Kita punya anjing
herder, tetapi anjing herdernya boro-boro boleh unjuk hidung, tetapi malah
dikandangin. Kandangnya ditutup rapat, dipaku, lalu dimasukin gudang. Jelas
saja rumahnya makin acak-acakan.
Cara yang betul adalah pemerintah memanggil (atau menangkap juga boleh)
pimpinan kelompok yang bertikai. Dudukkan masalah dengan jelas. Kasih
konsekuensi kalau kalian masih bertikai, maka hukumnya adalah masuk penjara
atau ditembak mati. Ini penting karena pertikaian mereka membawa korban
orang-orang yg tak mampu membela diri. Jangan sampai pertikaian para gombal
yg rayahan kekuasaan ini membawa korban manusia tak berdosa (a.l. yg lagi
jalan sendiri diculik dan dibunuh, yg tinggal di atas membakari rumah yg ada
di bawah, tawuran tak tahu malu kayak anak ABG di Jakarta, dll.)
Yang terjadi sekarang ini adalah pemerintahan sipil Gus Dur terlalu lemah
dan takut menanggung konsekuensi dari kebijakan yg tegas. Harusnya Gus Dur
memerintahkan polisi untuk 'shoot to kill' setiap orang yang membakari,
membunuhi tetangga, termasuk oknum polisi/tentara yg ikut terbawa emosi SARA
itu. Kalau pemerintahan sipil cuma menunggu dan mengulur waktu saja, jelas
personil TNI dan polisi tidak dapat berbuat apa-apa. Melerai malah jadi
sasaran tembak. Bertindak tegas dibilang melanggar HAM. Nah, kapan coba
urusan Ambon selesai? Okay, anda bilang saya membabi buta membela TNI,
silakan rumuskan penyelesaian versi anda.
Sekarang ini terlalu banyak organisasi ini itu yang dengan gampang
menjatuhkan kesalahan ke militer. Ambon bunuh-bunuhan disebabkan militer
misalnya. Ini dapat kesimpulan dari mana? Apa motivasinya? Sekarang begini
deh. Kalau anda jadi presiden sipil, kan tinggal kirim pasukan pengamanan
baik polisi atau tentara. Kasih wewenang yang cukup. Sementara itu sipil
juga harus tetap memegang tanggung jawab. Beres tho? Lalu apa wewenang itu?
Ya menyelesaikan pertikaian kalau perlu dengan tangan besi agar mereka
terpaksa ngendon di rumah lalu mencelupkan kepalanya ke air. Deklarasikan
saja bahwa tidak perduli islam atau kristen kalau membakar mengeroyok akan
disapu habis. Mereka juga akan mikir.
Mungkin perlu dikasih contoh penindakan tegas. Kalau ada yg protes lalu
menyerang polres langsung masukkan sekalian ke sel. Kalau harus 500 orang
masuk sel, ya masukkan saja. 1000 orang ya masukkan semuanya. Daripada bikin
kisruh. Mau berapa ratus lagi yang mati gara-gara janggo-janggo kesiangan
ini? Nah, yang terpenting pemerintah juga jangan lepas tangan. Nanti giliran
nggak enaknya dibilang salah TNI lagi. Ini kan namanya mau enaknya doang.
Nah, setelah pentolan perusuh di-sel-kan, baru orang mau mikir. Nanti kan
secara perlahan law and order dapat pulih. Tidak perlu si Gus Dur ke Ambon.
Apalagi si MS yg tidak punya kapasitas. Masak tiap kali ada pertikaian
presiden mesti berkunjung. Lama-lama anak singkong di kampung pada berantem
rebutan mangga dapat nyolong di kebunnya wak haji juga memerlukan kunjungan
Gus Dur.
Tahu nggak sih, apa yang ada sekarang ini selalu dipolitisir orang para
politisi atau calon politisi kesiangan. Targetnya yang paling mudah saat ini
jelas TNI. Nanti kalau Gus Dur dianggap terlalu lama bertindak nanti kan
targetnya beralih ke Gus Dur. Mau taruhan?
Kesan lain yang saya tangkap dari orang-orang adalah militer sengaja bikin
rusuh agar dapat tempat lagi di posisi politik. Ini kan pandangan para
pandir. Kalau mau posisi politik mereka cukup kudeta. Siapa yang bisa
menghalangi? Anda, mahasiswa, IMF? Huh. Militer adalah alat negara. Jadi
seharusnya pemerintah menggunakan alat itu dengan semestinya. Kalau jaman
Suharto memang lain. Militer jadi majikan, alat, objek, sekaligus. Jaman Gus
Dur mestinya gampang dong menggunakan alat itu. Kalau sekedar menghindar
dari militer agar tidak gantian diperalat militer sih gampang dong. Kalau
nggak bisa biar saya saja jadi presiden atau gimana? Hehehe....:) Buat saya,
Ambon harusnya dapat diselesaikan dengan cepat. Ini beda dengan Aceh.
Nah, kenapa saya mempertanyakan Amien? Jelas Amien memang berlaku tidak
semestinya. Dia berkunjung dengan kapasitas pribadi, padahal Amien juga
sanggup menandatangi deklarasi ini itu selaku pribadi dan juga kadang selaku
ketua MPR. Ini kan nggak konsekuen. Amien secara sadar atau tidak sadar
telah bermuka ganda dalam memainkan peran politiknya. Ini yang saya
pertanyakan. Apalagi statement-statementnya sering dipangkas oleh wartawan.
Sudah tahu ucapannya sering dipangkas kenapa masih sembrono? Jelas saya
boleh menuduh bahwa Amien adalah tokoh yang kurang punya wisdom dong.....:)
Saya sungguh heran bin ajaib. Selama ini saya disebut pendukung fanatik
Amien lah, pentolan Raisisme lah, dlsb. Giliran saya nyela Amien semua pada
ribut deh. Hehehe.... mana ada yg mendoakan agar saya diterangi hatinya,
membusuk-busukkan saya, menuduh sebagai pendukung PDIP. Hehehe.....
bener-bener menggelikan.
Coba deh saya besok mengkritik kucing, mungkin dapat tuduhan sebagai pembela
anjing deh. Hehehe.... tobat....:) Sekian dulu deh uneg-uneg saya. Lagi
sibuk malah jadi mosting.....:)
Jeffrey Anjasmara
'------------------------------------------------
>From: Muhammad Nahar <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: Amien harus mengundurkan diri!
>Date: Wed, 1 Dec 1999 21:07:56 +0800
>
>Saya bingung dengan si mas yang satu ini. Kenapa membela TNI sampai membabi
>buta begitu ya? Padahal cuma dia lho yang berlaku seperti itu (paling tidak
>yang sudah ikut tukar pendapat di sini).
>
>Nggak percaya. nih buktinya kalau orang-orang pada melihat miring TNI :
>
>-----------------
>
>(http://www.kompas.com/kompas-cetak/9912/01/berita-terbaru/5635.html)
>
>......
>Serbu masuk
> Sebelum rapat Pansus DPR dimulai, ruang
>Pansus diserbu sejumlah
> massa yang tergabung dalam Forum
>Komunikasi Generasi Muda
> Indonesia Timur (FK GMIT). Selagi
>sejumlah anggota Pansus
> menunggu rapat dimulai, beberapa anggota
>FK GMIT berteriak-teriak,
> bahkan ada di antaranya menggebrak meja.
>
> "Jangan hanya membentuk Pansus DPR untuk
>urusan Aceh, Maluku
> dan Indonesia Timur juga memerlukan
>perhatian. Berapa ratus rakyat
> Maluku yang terbunuh? Ini semua akibat
>ulah militer," teriak seorang
> anggota FK GMIT.
>
> Sebelumnya, kelompok massa ini berunjuk
>rasa di depan
> Sekretariat Komisi I DPR. Tetapi karena
>tidak ada agenda sidang
> bagi Komisi I, maka kedatangan mereka
>yang mendadak tidak dapat
> dilayani.
>
> Aisyah Amini, anggota Komisi I, akhirnya
>memberi penjelasan, yang
> kemudian dapat memuaskan kelompok massa
>yang mengaku
> berasal dari 13 propinsi Indonesia Timur
>ini.
>
>----------
>
>Sekarang dia mulai menunjukkan permusuhan dengan Amin secara membabi buta
>juga. Alasannya simple, Amin Rais dianggap mencoba "meruntuhkan keutuhan
>bangsa" karena telah dengan suka hati mendatangi negeri-negeri yang sedang
>"memberontak", sementara orang yang berhak untuk itu saja tidak melakukan
>apa-apa (pst... Itu lho ibu MS kita itu)
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com