Saya bukan ahli sejarah dan bukan pula ahli politik, tetapi mendengar Indonesia
dibagi-bagi dan dipotong-potong bagaikan kue tart saya terpanggil juga untuk
menyampaikan kekesalan saya akan hal ini. Tahukah anda bahwa Indonesia dibentuk
dalam sejarah yang panjang dan pengorbanan yang besar. Negara Indonesia adalah
milik bangsa Indonesia, siapakah mereka ini? Mereka bukan orang yang berkulit sawo
matang atau orang yang "babaknya!" warga negara Indonesia, tetapi orang yang
merasa Indonesia adalah "Tanah Airnya". Untuk itu tidak dipermasalahkan apakah
mereka suku Jawa, Bugis, Padang , Cina, Portugis, Arab, Spanyol dan lain-lain.
Saya kenal seorang bintara yang cina tulen di Tanjung Pinang, sampai meninggalnya
beliau adalah prajurit yang setia kepada tanah airnya. Dari orang Aceh yang saya
kenal saya diberi tahu bahwa Daud Breueh adalah keturunan cina. Di suatu daerah di
Aceh ada orang-orang yang berperawakan bule karena masih keturunan spanyol kalau
tidak salah.
Dilihat dari sejarah hijrahnya manusia ke wilayah Nusantara sekitar beberapa ribu
tahun yang lalu, tidak satu orang pun yang dapat mengclaim diri mereka sebagai
orang "pribumi". Dari semua ini cita-cita untuk membentuk "Bangsa Indonesia" telah
dipupuk beratus-ratus tahun dan pengorbanan yang besar. Kalau hari ini kita buang
saudara kita di Irian dan menyerahkan mereka kepada Yoris bekas preman "tanah
abang" atau Aceh kepada GAM, penghianatan macam apakah yang telah kita lakukan
kepada bangsa ini dan kepada saudara-saudara kita didaerah tersebut. Lagi pula
siapa pula kita ini (Bakti belum ada tapi ngomong besar) dan certifikat dari mana
yang memberikan hak kepada kita untuk melakukan hal itu. 28 Oktober merupakan
"ikrar" kita bersama. Bakti yang tulus dari pahlawan-pahlawan bangsa yang tidak
pernah padam sampai hari ini adalah jiwa dari "Bangsa Indonesia". Tanyakan dulu
kepada mereka dan bangkitkan juga mereka-mereka yang didalam kubur.
Negara Indonesia bukan milik pemerintahan Soekarno atau pemerintahan Soeharto,
sehingga berdasarkan kesalahan-kesalahan mereka kita dapat menghukum "Bangsa
Indonesia". Kembalikan negara ini kepada "Rakyat Indonesia", karena kemerdakaan
adalah rahmat Allah melalui perjuangan "seluruh Rakyat Indonesia". Laksanakan
amanat proklamasi yang tercantum pada pembukaan UUD 45.
Wassalam,
Agus
Mardhika Wisesa wrote:
> Jeff, biarkanlah anggota-anggota milis yang menilai:: Anda bukan Tuhan kan,
> Nabi pun bukan. Tulisan seperti ini yang dapat dikirim ke milis-milis aceh dan
> papua, supaya dapat terlihat kalau orang-orang Indonesia masih didominasi oleh
> anda-anda ini.
>
> Bang Amien, bagaimana janji Federalisme nya, Gus mana referendum yang
> dijanjikan sebelum menjadi presiden, Irian kapan merdekanya???
>
> Bersatu bukan berarti teguh, bercerai berai bukan berarti runtuh
>
> Mardhika Wisesa
>
> Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Makanya kalau begitu mending orang cina diusirin saja dari Indonesia
> termasuk anda. Terlalu banyak ambil keuntungan dari policy eknonomi
> Indonesia di masa lalu. Terlalu banyak komplain. Paling pintar mengambil
> keuntungan dari kolusi. Paling banyak membuat hutang luar negeri swasta yang
> kemudian harus ditanggung pemerintah. Nah, yang tidak tahu diri itu siapa?
> Jelas orang Cina dong! Emang dulu modalnya dari mana? Dari eyang Li Peng?
>
> See, memang sebutan binatang ekonomi oleh bekas PM Sinagpura geblek itu
> sudah tepat. Giliran satu orang saja yg mati terbunuh saja gegernya minta
> ampun. Sudah deh tuduhan rasis kemana-mana. Tapi giliran bikin pan-cina
> bersatu tidak merasa sedang melakukan praktek rasisme. Semua saluran ekonomi
> buat pengusaha non-cina ditutup sehingga tidak bisa berkembang. Giliran ada
> usaha koperasi untuk memberdayakan rakyat lalu ribut protes diskriminasi.
> Siapa yang diskriminasi sih?
>
> Hahaha......:) Memang melayu itu mental kampung. Persis ucapan anda yang
> selalu muncul di dalam percakapan orang-orang Cina di Indonesia. Oranbg
> melayu kan yg suka ngrusak telpon umum ya? Memang melayu goblok, sudah
> dikampung-kampungin masih saja mau berbaik-baik dengan cina-cina sok modern
> dan anasionalis kayak Mardika ini.
>
> Huh, ada-ada saja.....:) Coba aja tunggu, entar kan Mardika bilang kalau
> saya yang rasis. Dasar rasis!
>
> ____________________________________________________________________
> Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1