Come on, sekarang sibuk ikut bersuara tentang federalisme. Tentu saja
sebagai kelompok yg tidak dapat mengklaim suatu wilayah akan lebih senang
bentuk federal. Soalnya bisa memainkan kartu uang. Saya sudah mengendus hal
ini jauh-jauh hari waktu si Christianto Wibisono sibuk banget gembar-gembor.

Dengan memainkan kartu uang, maka dengan mudah dapat mempengaruhi negara
bagian tertentu untuk melonggarkan segala macam aturan. Asalkan modal masuk
kan? Asalkan aliran barang dari LN bisa lancar kan? Jadilah kelompok ini
menjadi kelompok eksklusif dengan aturan serba istimewa. Makanya itu saya
selalu menentang penguasaan distribusi barang oleh kelompok-kelompok
tertentu karena hal ini. Saya juga selalu menentang liberalisasi ekonomi
tanpa batas karena hanya kelompok yang siap yang mampu mempergunakannya.
Siapa lagi kalau bukan kelompok pemilik modal. Modal yang dikasih oleh rejim
Suharto? Yang disuruh dibagikan sedikit ke koperasi tidak mau karena konon
hasil keringat sendiri. Kalau keringat hasil kolusi sih iya.

Okay sekarang terbuka saja deh. Kalau saluran distribusi tidak dikendalikan,
siapa yang punya saluran ke Singapura sang negara rasis itu. Atau ke Taiwan?
Hong Kong? Siapa lagi kalau bukan kelompok HUAREN? Kelompok melayu sih bakal
dicingcai. Kalau datang juga akan diberi harga lebih mahal. Persis dengan
praktek di Indonesia saat ini.
Mau buka-bukaan? Mari kita buka....:) Kalau mau tidak ada diskriminasi, maka
justru praktek-praktek ini yang harus dibumi-hanguskan. Ingat bung, kelompok
anda yang menikmati 80% uang kolusi, 20% dikuasai oleh pejabat yg kolusi
itu. Sementara 0% untuk pembangunan. Jadi orang seperti anda harus juga ikut
bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Indonesia. Saya terus terang
curiga jangan-jangan anda malah kegirangan dengan apa yang menimpa Indonesia
saat ini. Soalnya masyarakat luas menjadi lebih miskin, dan kelompok kecil
tetap kaya. Jadinya tindak kesewenangan ekonomi dapat makin menjadi seperti
jaman 1960-an dimana sistem ijon terhadap para petani merajalela. Ini
situasi dimana petani masih punya sawah tapi tidak punya modal. Sekarang
petani tidak punya sawah dan tidak punya modal. Nah, apa yg bakal terjadi?


Jeffrey Anjasmara

'-----------------------------------------
>From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: (Mardhika-Jeffrey)Re: Puluhan Pengusaha Indonesia Jadi WN
>     Singapore]
>Date: Wed, 1 Dec 1999 22:17:08 EST
>
>Jeff, biarkanlah anggota-anggota milis yang menilai:: Anda bukan Tuhan kan,
>Nabi pun bukan. Tulisan seperti ini yang dapat dikirim ke milis-milis aceh
>dan
>papua, supaya dapat terlihat kalau orang-orang Indonesia masih didominasi
>oleh
>anda-anda ini.
>
>Bang Amien, bagaimana janji Federalisme nya, Gus mana referendum yang
>dijanjikan sebelum menjadi presiden, Irian kapan merdekanya???
>
>Bersatu bukan berarti teguh, bercerai berai bukan berarti runtuh
>
>Mardhika Wisesa
>
>Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Makanya kalau begitu mending orang cina diusirin saja dari Indonesia
>termasuk anda. Terlalu banyak ambil keuntungan dari policy eknonomi
>Indonesia di masa lalu. Terlalu banyak komplain. Paling pintar mengambil
>keuntungan dari kolusi. Paling banyak membuat hutang luar negeri swasta
>yang
>kemudian harus ditanggung pemerintah. Nah, yang tidak tahu diri itu siapa?
>Jelas orang Cina dong! Emang dulu modalnya dari mana? Dari eyang Li Peng?
>
>See, memang sebutan binatang ekonomi oleh bekas PM Sinagpura geblek itu
>sudah tepat. Giliran satu orang saja yg mati terbunuh saja gegernya minta
>ampun. Sudah deh tuduhan rasis kemana-mana. Tapi giliran bikin pan-cina
>bersatu tidak merasa sedang melakukan praktek rasisme. Semua saluran
>ekonomi
>buat pengusaha non-cina ditutup sehingga tidak bisa berkembang. Giliran ada
>usaha koperasi untuk memberdayakan rakyat lalu ribut protes diskriminasi.
>Siapa yang diskriminasi sih?
>
>Hahaha......:) Memang melayu itu mental kampung. Persis ucapan anda yang
>selalu muncul di dalam percakapan orang-orang Cina di Indonesia. Oranbg
>melayu kan yg suka ngrusak telpon umum ya? Memang melayu goblok, sudah
>dikampung-kampungin masih saja mau berbaik-baik dengan cina-cina sok modern
>dan anasionalis kayak Mardika ini.
>
>Huh, ada-ada saja.....:) Coba aja tunggu, entar kan Mardika bilang kalau
>saya yang rasis. Dasar rasis!
>
>
>____________________________________________________________________
>Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke