Sabar......
menurut saya nggak ada gunanya saling tuduh seperti ini.
Atau kita semua memang sudah "kemakan" benci dan prasangka (semoga kita
hanya
"korban" dan bukan "sang peniup" api kebencian di sini).
Kalau saya lihat di sini ada (minimal) dua permasalahan yang harus
diselesaikan dengan (minimal) dua solusi juga.
Pertama adalah soal prasangka. Ini adalah masalah klasik dan kurangnya
dialog.
Untuk diskusi yang "minimal" aja tentang tema ini, tentu akan meluberi ruang
forum. Maka dengan sengaja saya skip dulu tema ini.
Kedua adalah pengaturan "persamaan kesempatan". Implementasi dari kata ini
adalah sangat
luas. Di sini pelaku ekonomi, pemerintah dan UU sendiri harus mencapai titik
temu seadil-adilnya.
Jelas bahwa konflik kepentingan akan selalu muncul. Antara kapital kuat
melawan kapital lemah,
antara buruh dan pemilik modal, antara (kemungkinan) pusat dan daerah dsb.
Untuk saat ini jelas bahwa yang harus diutamakan ialah meminimalisasi
distorsi-distorsi ekonomi
yang banyak berupa KKN. Kemudian perlu suatu rumusan peran state dalam
menciptakan harmoni antara
ekonomi pasar dan intervensi pemerintah (dalam berbagai bentuk subsidi dan
bantuan) yang dapat
seluas mungkin melindungi berbagai kelompok kepentingan.
Redefinisi dari visi dan pelaksanaan "pembangunan" juga harus sesegera
mungkin
disosialisasikan, setelah langkah-langkah awal berupa undangan kembali modal
yang lari atau pemulihan kepercayaan para investor.
Yang harus dicatat adalah bahwa "sistem"pun harus dibuat sedemikianrupa
hingga mampu menjadi dinamis dan tanggap terhadap adanya berbagai
perkembangan.
Misalnya sistem perpajakan yang progresif akan
memihak kaum lemah, inipun dengan catatan bahwa pelaksanaan pajak harus
bebas dari tikus-tikus
pengemplang yang bila perlu dihukum seberat-beratnya. Sayang selama ini
"Ekonomi Kerakyatan" cuma dijadikan retorika murahan dengan tujuan politis.
Disadari bahwa kondisi saat ini adalah warisan Orde Baru dengan segala
aspeknya. Untuk itulah justru dibutuhkan "kepala yang lebih dingin" dalam
menyikapi berbagai
masukan. Ini demi kita semua. Saya pribadi menaruh harapan yang
besar pada rejim saat ini.
salam hangat dari Hannover
deddy priadi
----- Original Message -----
From: Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, December 02, 1999 2:15 PM
Subject: Re: (Mardhika-Jeffrey)Re: Puluhan Pengusaha Indonesia Jadi WN
Singapore]
> Come on, sekarang sibuk ikut bersuara tentang federalisme. Tentu saja
> sebagai kelompok yg tidak dapat mengklaim suatu wilayah akan lebih senang
> bentuk federal. Soalnya bisa memainkan kartu uang. Saya sudah mengendus
hal
> ini jauh-jauh hari waktu si Christianto Wibisono sibuk banget
gembar-gembor.
>
> Dengan memainkan kartu uang, maka dengan mudah dapat mempengaruhi negara
> bagian tertentu untuk melonggarkan segala macam aturan. Asalkan modal
masuk
> kan? Asalkan aliran barang dari LN bisa lancar kan? Jadilah kelompok ini
> menjadi kelompok eksklusif dengan aturan serba istimewa. Makanya itu saya
> selalu menentang penguasaan distribusi barang oleh kelompok-kelompok
> tertentu karena hal ini. Saya juga selalu menentang liberalisasi ekonomi
> tanpa batas karena hanya kelompok yang siap yang mampu mempergunakannya.
> Siapa lagi kalau bukan kelompok pemilik modal. Modal yang dikasih oleh
rejim
> Suharto? Yang disuruh dibagikan sedikit ke koperasi tidak mau karena konon
> hasil keringat sendiri. Kalau keringat hasil kolusi sih iya.
>
> Okay sekarang terbuka saja deh. Kalau saluran distribusi tidak
dikendalikan,
> siapa yang punya saluran ke Singapura sang negara rasis itu. Atau ke
Taiwan?
> Hong Kong? Siapa lagi kalau bukan kelompok HUAREN? Kelompok melayu sih
bakal
> dicingcai. Kalau datang juga akan diberi harga lebih mahal. Persis dengan
> praktek di Indonesia saat ini.
> Mau buka-bukaan? Mari kita buka....:) Kalau mau tidak ada diskriminasi,
maka
> justru praktek-praktek ini yang harus dibumi-hanguskan. Ingat bung,
kelompok
> anda yang menikmati 80% uang kolusi, 20% dikuasai oleh pejabat yg kolusi
> itu. Sementara 0% untuk pembangunan. Jadi orang seperti anda harus juga
ikut
> bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Indonesia. Saya terus terang
> curiga jangan-jangan anda malah kegirangan dengan apa yang menimpa
Indonesia
> saat ini. Soalnya masyarakat luas menjadi lebih miskin, dan kelompok kecil
> tetap kaya. Jadinya tindak kesewenangan ekonomi dapat makin menjadi
seperti
> jaman 1960-an dimana sistem ijon terhadap para petani merajalela. Ini
> situasi dimana petani masih punya sawah tapi tidak punya modal. Sekarang
> petani tidak punya sawah dan tidak punya modal. Nah, apa yg bakal terjadi?
>
>
> Jeffrey Anjasmara
>
> '-----------------------------------------
> >From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: (Mardhika-Jeffrey)Re: Puluhan Pengusaha Indonesia Jadi WN
> > Singapore]
> >Date: Wed, 1 Dec 1999 22:17:08 EST
> >
> >Jeff, biarkanlah anggota-anggota milis yang menilai:: Anda bukan Tuhan
kan,
> >Nabi pun bukan. Tulisan seperti ini yang dapat dikirim ke milis-milis
aceh
> >dan
> >papua, supaya dapat terlihat kalau orang-orang Indonesia masih didominasi
> >oleh
> >anda-anda ini.
> >
> >Bang Amien, bagaimana janji Federalisme nya, Gus mana referendum yang
> >dijanjikan sebelum menjadi presiden, Irian kapan merdekanya???
> >
> >Bersatu bukan berarti teguh, bercerai berai bukan berarti runtuh
> >
> >Mardhika Wisesa
> >
> >Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >Makanya kalau begitu mending orang cina diusirin saja dari Indonesia
> >termasuk anda. Terlalu banyak ambil keuntungan dari policy eknonomi
> >Indonesia di masa lalu. Terlalu banyak komplain. Paling pintar mengambil
> >keuntungan dari kolusi. Paling banyak membuat hutang luar negeri swasta
> >yang
> >kemudian harus ditanggung pemerintah. Nah, yang tidak tahu diri itu
siapa?
> >Jelas orang Cina dong! Emang dulu modalnya dari mana? Dari eyang Li Peng?
> >
> >See, memang sebutan binatang ekonomi oleh bekas PM Sinagpura geblek itu
> >sudah tepat. Giliran satu orang saja yg mati terbunuh saja gegernya minta
> >ampun. Sudah deh tuduhan rasis kemana-mana. Tapi giliran bikin pan-cina
> >bersatu tidak merasa sedang melakukan praktek rasisme. Semua saluran
> >ekonomi
> >buat pengusaha non-cina ditutup sehingga tidak bisa berkembang. Giliran
ada
> >usaha koperasi untuk memberdayakan rakyat lalu ribut protes diskriminasi.
> >Siapa yang diskriminasi sih?
> >
> >Hahaha......:) Memang melayu itu mental kampung. Persis ucapan anda yang
> >selalu muncul di dalam percakapan orang-orang Cina di Indonesia. Oranbg
> >melayu kan yg suka ngrusak telpon umum ya? Memang melayu goblok, sudah
> >dikampung-kampungin masih saja mau berbaik-baik dengan cina-cina sok
modern
> >dan anasionalis kayak Mardika ini.
> >
> >Huh, ada-ada saja.....:) Coba aja tunggu, entar kan Mardika bilang kalau
> >saya yang rasis. Dasar rasis!
> >
> >
> >____________________________________________________________________
> >Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
> >
>
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>