Nah, ada beberapa point yg perlu kita cermati:
(1) Kok pengerahan pasukan pengamanan dan penembak tepat tidak
dibilang melanggar HAM? Itu pasukan nasional khusus kan lebih
nakutin dibandingkan PPRM soalnya lebih ke tentara dibanding
sebagai polisi.
(2) Baru ada demo segitu sudah ada darurat sipil, pas jaman Si Harto
darurat sipil baru diadakan setelah korban jiwa/material banyak
muncul.
(3) Semua sudah kebalik-balik. WTO jelas lebih menguntungkan
negara-negara maju karena prasarana, informasi, modal, SDM, dan
jenis dagangannya lebih menguntungkan dalam posisi tawarnya.
(4) AS jelas langsung kebakaran jenggot karena yg menentang WTO justru
rakyatnya sendiri. Coba Indonesia menentang WTO kalau nggak
dikucilkan sih hebat. Belum polisi dunia IMF akan menghentikan
dana hutangannya. Sebagai info, Cina tidak mampu digoyang dengan
senjata Soros. Tapi Cina sampai ngemis-ngemis untk menjadi negara
anggota WTO. Soalnya takut sih....:)
'--------------------
>From: priadi <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: aksi anti WTO
>Date: Wed, 1 Dec 1999 23:15:14 +0100
>
>Seattle Rusuh, Darurat Sipil Diberlakukan
>SEATTLE - Ribuan demonstran bentrok sengit dengan polisi Rabu kemarin
>(Selasa waktu setempat) di Seattle, AS. Para pengunjuk rasa menentang
>sidang World Trade Organisation (WTO) di kota itu.
>
>Wali Kota Seattle Paul Schell terpaksa memberlakukan UU darurat sipil dan
>jam malam di kawasan pusat kota. Para aktivis antiperdagangan bentrok
>dengan polisi yang berusaha mengamankan pusat kota.
>
>Situasi demonstrasi itu bagai aksi-aksi protes keras pada 1960-an dan
>1970-an, saat masyarakat AS gencar menyuarakan gerakan antiperang dan
>penegakan hak sipil.
>
>Pasukan polisi mengerahkan kekuatan penuh, menggunakan gas air mata dan
>peluru karet. Unit penembak tepat juga dikerahkan untuk membubarkan para
>demonstran di jalan-jalan.
>
>Pengunjuk rasa memblokade jalan menuju gedung pertemuan tempat sidang WTO
>digelar. Dengan bertopeng atau masker, mereka memecahi jendela-jendela
>toko, membakar tempat-tempat sampah, dan melemparkan kaleng gas air mata ke
>arah polisi.
>
>Di Westin Hotel, tempat Perwakilan Dagang AS Charlene Barshefsky dan
>mitranya dari Jepang menginap, para tamu diminta tidak keluar kamar, karena
>dikhawatirkan demonstran menyerbu ke dalam hotel.
>
>Namun seolah-olah tak terpengaruh aksi demonstrasi, para menteri dari 135
>negara anggota WTO tetap melanjutkan agenda pertemuan mereka dan berpidato
>panjang lebar soal visi tentang sistem perdagangan global.
>
>Wali Kota Paul Schell menyatakan akan memberlakukan jam malam mulai pukul
>19.00 sampai fajar di kawasan pusat kota. Polisi langsung mengamankan
>seluruh kota agar aksi demonstrasi tidak meluas.
>
>Hak Pekerja
>
>Gubernur Negara Bagian Washington, Gary Locke, meminta Pasukan Nasional
>Khusus Pengendalian Massa didatangkan dan memerintah mereka terjun ke
>Seattle untuk membantu pasukan polisi setempat yang sudah siaga lebih dulu
>di lokasi kejadian.
>
>Polisi terlibat bentrok sepanjang hari dengan para aktivis antiperdagangan.
>Sekitar 16.000 anggota serikat pekerja menggelar pawai damai untuk
>menyuarakan tuntutan mereka, agar hak-hak pekerja diakui dan dimasukkan
>sebagai bagian dalam setiap perjanjian dagang di masa depan.
>
>''Saya tidak percaya WTO mewakili pekerja,'' kata Donnie Gili (29), pekerja
>dari Tacoma, yang ikut demo. ''Dalam upaya mereka mewujudkan ekonomi
>global, mereka makin menurunkan standar hidup setiap orang. Cuma soal
>waktu, ketika mereka meninggalkan kami.''
>
>Para aktivis melantunkan slogan ''Whose world? Our world. Whose streets?
>Out streets? (Dunia siapa? Dunia kami. Jalanan siapa? Jalanan kami).''
>Spanduk-spanduk menentang WTO dibentangkan di berbagai sudut kota.
>
>Mereka menuduh WTO hanya memperkaya pengusaha besar dengan mengorbankan
>lingkungan, lapangan kerja, dan masyarakat. Ketua WTO Mike Moore, dengan
>suara bergetar penuh emosi, membela mati-matian keberadaan organisasi itu.
>
>Dia menyatakan para demonstran yang menuntut pembubaran organisasi itu
>sesungguhnya sedang bertindak melawan rakyat miskin dan negara-negara
>sedang berkembang.
>
>''Kepada mereka yang berpendapat kami seharusnya berhenti saja, saya
>katakan, katakan itu kepada rakyat miskin, kepada kaum marjinal di seluruh
>dunia yang berharap kepada kami untuk membantu mereka,'' kata Moore, mantan
>PM Selandia Baru.(rtr-gn-52g)
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com