Seattle Rusuh, Darurat Sipil DiberlakukanSEATTLE - Ribuan demonstran bentrok sengit dengan polisi Rabu kemarin (Selasa waktu setempat) di Seattle, AS. Para pengunjuk rasa menentang sidang World Trade Organisation (WTO) di kota itu. Wali Kota Seattle Paul Schell terpaksa memberlakukan UU darurat sipil dan jam malam di kawasan pusat kota. Para aktivis antiperdagangan bentrok dengan polisi yang berusaha mengamankan pusat kota. Situasi demonstrasi itu bagai aksi-aksi protes keras pada 1960-an dan 1970-an, saat masyarakat AS gencar menyuarakan gerakan antiperang dan penegakan hak sipil. Pasukan polisi mengerahkan kekuatan penuh, menggunakan gas air mata dan peluru karet. Unit penembak tepat juga dikerahkan untuk membubarkan para demonstran di jalan-jalan. Pengunjuk rasa memblokade jalan menuju gedung pertemuan tempat sidang WTO digelar. Dengan bertopeng atau masker, mereka memecahi jendela-jendela toko, membakar tempat-tempat sampah, dan melemparkan kaleng gas air mata ke arah polisi. Di Westin Hotel, tempat Perwakilan Dagang AS Charlene Barshefsky dan mitranya dari Jepang menginap, para tamu diminta tidak keluar kamar, karena dikhawatirkan demonstran menyerbu ke dalam hotel. Namun seolah-olah tak terpengaruh aksi demonstrasi, para menteri dari 135 negara anggota WTO tetap melanjutkan agenda pertemuan mereka dan berpidato panjang lebar soal visi tentang sistem perdagangan global. Wali Kota Paul Schell menyatakan akan memberlakukan jam malam mulai pukul 19.00 sampai fajar di kawasan pusat kota. Polisi langsung mengamankan seluruh kota agar aksi demonstrasi tidak meluas. Hak Pekerja Gubernur Negara Bagian Washington, Gary Locke, meminta Pasukan Nasional Khusus Pengendalian Massa didatangkan dan memerintah mereka terjun ke Seattle untuk membantu pasukan polisi setempat yang sudah siaga lebih dulu di lokasi kejadian. Polisi terlibat bentrok sepanjang hari dengan para aktivis antiperdagangan. Sekitar 16.000 anggota serikat pekerja menggelar pawai damai untuk menyuarakan tuntutan mereka, agar hak-hak pekerja diakui dan dimasukkan sebagai bagian dalam setiap perjanjian dagang di masa depan. ''Saya tidak percaya WTO mewakili pekerja,'' kata Donnie Gili (29), pekerja dari Tacoma, yang ikut demo. ''Dalam upaya mereka mewujudkan ekonomi global, mereka makin menurunkan standar hidup setiap orang. Cuma soal waktu, ketika mereka meninggalkan kami.'' Para aktivis melantunkan slogan ''Whose world? Our world. Whose streets? Out streets? (Dunia siapa? Dunia kami. Jalanan siapa? Jalanan kami).'' Spanduk-spanduk menentang WTO dibentangkan di berbagai sudut kota. Mereka menuduh WTO hanya memperkaya pengusaha besar dengan mengorbankan lingkungan, lapangan kerja, dan masyarakat. Ketua WTO Mike Moore, dengan suara bergetar penuh emosi, membela mati-matian keberadaan organisasi itu. Dia menyatakan para demonstran yang menuntut pembubaran organisasi itu sesungguhnya sedang bertindak melawan rakyat miskin dan negara-negara sedang berkembang. ''Kepada mereka yang berpendapat kami seharusnya berhenti saja, saya katakan, katakan itu kepada rakyat miskin, kepada kaum marjinal di seluruh dunia yang berharap kepada kami untuk membantu mereka,'' kata Moore, mantan PM Selandia Baru.(rtr-gn-52g) |
- Re: aksi anti WTO priadi
- Re: aksi anti WTO Jeffrey Anjasmara
- Re: aksi anti WTO Muhammad Nahar
- Guyonan GusDur! Igg Adiwijaya
