>Menurut YS penyebabnya adalah Provokator.

>Pertanyaannya adalah :
>Provokator yang mana ya ?
>Kira - kira tujuan Provokator itu apa ya ?
>Koq ya hebat sekali "pekerjaan" Provokator itu hingga saat ini sampai pada

>tahap perang antara orang Kristen lawan orang Muslim (sudah bukan parsial
>lagi)
>


Wah, anda menarik sekali nih.
Semua pikiran positif yang harusnya dibina kok dibalikkan
begini.... hmmm..... dibulan puasa lagi....

Bukannya di bulan puasa ini kaum Muslim perlu menyingkirkan
segala pikiran yang penuh angkara murka dan berusaha mendekatkan
diri kepada Allah? Di bulan puasa juga bukannya merupakan saat
untuk menyucikan diri dan berhati-hati akibat godaan iblis?
Atau adakah makna puasa lain yang saya tak tahu?

Begitu juga di hari Natal umat Kristen mengingat kedatangan
Tuhan Yesus sebagai penyelamat dan berusaha menjadi terang
di dunia dan berusaha menjadi pendamai? (Mungkin saya paranoid,
tapi saya yakin M. Soehendri akan menjelek-jelekkan paragraf
ini).

Justru dengan hari keagamaan yang sama seperti ini, umat
Kristen dan Islam ditantang sebagai pendamai, tapi kok anda
memikirkannya perang terus? Dari gaya bahasa anda kok
terlihatnya anda senang sekali menjelek-jelekkan umat Kristen
di Maluku? Saya justru jadi berpikir apa anda yang sebetulnya
provokator?

Yang lebih aneh lagi, dari semua yang saya tulis, yang dibalas
itu hanya provokatornya. Tapi soal perdamaian itu ditolak
mentah-mentah.

Mungkin anda yang perlu memikirkan ulang tema Natal dan makna
puasa kepada diri anda pribadi.

>Kalau memang kaum Kristen (sebagai mayoritas) menginginkan perdamain dan
>persatuan, mestinya mudah saja perang di Ambon dan Maluku selesai.

Apa anda punya ide yang menarik? Tentunya yang tak bersifat
asbun atau menjelek-jelekkan kaum Muslim dan Kristen.

YS

Kirim email ke