Rekan Nasrullah dan teman-teman lain,

Maaf, himbauan seperti yang tersebut dalam 'subject' di atas bagi saya
adalah sangat dangkal dan menyesatkan.
Justru dengan melahap texbook sebanyak mungkin selama belajar di LN
(terutama buku-buku terbaru) akan menjadikan kita lebih 'melek' terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan yang telah terjadi selama ini. Dengan
mengkonsumsi buku-buku tsb kemudian mengendapkannya dan menganalisisnya
digabung dengan ide-ide kita (yang biasanya muncul setelah membaca banyak),
lalu melakukan thesis/study/experiment, maka kita akan mendapatkan
'sesuatu' yang original produk dari pengembangan pemikiran kita. Dan ini
akan mendorong semakin banyaknya keinginan untuk mengaplikasikan ide-ide di
kepala, yang pada gilirannya menjadikan kita matang teori dan aplikasi.

Kalau baca texbook dibatasi, pengetahuan yang kita dapat malah
sepotong-sepotong (tidak komprehensif), dan inilah yang menjadikan kita
sebagai ilmuwan 1/4 atau 1/2 mateng (persis kayak telor yang buat sarapan).

Salam,
Budi




At 09:30 PM 12/18/99 +0700, you wrote:
>Rekan-Rekan Mahasiswa di Luar Negeri
>------------------------------------------
>     Untuk menghadapi era globalisasi, seorang Mahasiswa (kelompok Sains
>Matematika Teknologi) yang belajar di LN tidak bisa lagi hanya mengandalkan
>kemampuan melahap berbagai text book. Kenapa? Karena ketika sebuah materi
>diuraikan dalam sebuah buku, maka dalam waktu bersamaan, bisa saja muncul
>fenomena yang terkait dengan materi itu, tetapi mempunai nilai kompleksitas,
>efisiensi, efektivitas, sampai permasalahan yang jauh lebih baik. Akhirnya,
>apa yang dipelajari itu ditinjau dari puncak prestasi secara global, sudah
>merupakan materi yang tidak mempunyai kekuatan untuk bersaing di kancah
>perdagangan bebas.
>    Pada era globalisasi, kita akan tertinggal kalau hanya berpikir : Re
>Engineering, Re Kalkulasi, dan Re Analisis. Yang kita perlukan adalah
>Kecepatan Engineering, Kecepatan Analisis, dan Kecepatan Kalkulasi.
>    Bagaimana pintarnya seorang profesor akan bisa dikalahkan kalau otaknya
>bak PENTIUM I, sementara pesaingnya yang juga profesor untuk bidang yang
>sama mempunyai otak bak PENTIUM III.
>    Buat apa kita belajar ke luar negeri untuk mempelajari produksi gula
>sebesar X KILOGRAM per detik, sementara setelah kembali ke tanah air, sudah
>muncul teori produksi gula 2X KILOGRAM per detik. Jelas kita akan mengalami
>kalah dalam perlombaan tender produksi gula.
>
>
>Salam,
>
>Nasrullah Idris
>

Kirim email ke