Nasrullah Idris wrote:
Itu sih tidak salah. Sekali lagi, kendalikan sehingga tidak didominasi
dengan cara gituan. Bayangkan kalau kita ke LN belajar Windows 3,1
dengan biaya bea siswa Bank Dunia. Lalu melahap berbagai Windows 3,1
dari berbagai textbook yang tebal, sampai2 tebalnya ribuan halaman.
Karena sifatnya hanya melahap text book, sehingga pulang ke tanah air
mendirikan pabrik software Windows 3,1 dengan biaya pinjaman IMF. Satu
tahun berhasil. Dua tahun berhasil. Eh ... tiga tahun bangkrut karena
sudah dilangkahi Windows 95. Siapa yang bertanggungjawab atas hutang?
Siapa lagi kalau bukan generasi mendatang.
Budi:
Anda tentu pernah mendengar bahwa pendidikan bisa dikategorikan dalam
dua jalur besar, yaitu jalur profesional dan jalur riset. Dua jalur ini
mempunyai perangkat kurikulum yang berbeda karena memang keluarannya
harus berbeda. Barangkali akan lebih mengarah kalau dalam diskusi ini
anda bisa kategorikan di jalur mana yang kita diskusikan, karena, cara
melahap texbook-nya pun orientasinya bisa berbeda.
Anda terlalu mendramatisir besaran pinjaman dari Bank Dunia untuk biaya
tugas belajar. Bisa sebutkan nggak berapa rasio dana pinjaman Bank Dunia
dan biaya dari sumber lain bagi mereka yang sekolah di AS saja? Saya
yakin bahwa itu tidak akan lebih dari 3%.
Saya yakin bahwa mereka yang belajar di AS tentu diajari untuk
menghormati hak paten dan bagaimana menghindari menjadi plagiator. Jadi,
kalau sudah ada yang bikin Windows 3.1, asumsi saya, kemungkinan besar
tidak akan lulusan AS membuat hal yang sama di Indonesia.
Saya sarankan anda tidak usah terlalu pening mikirin utang negara.
Percayakan itu kepada pemerintah untuk mengatasinya. Kalau ada ide cara
pemecahannya, berikan itu kepada yang berwenang menjalankannya. Kalau
anda orang pemerintahan yang berhubungan dengan hal ini, anda berada
pada posisi yang tepat untuk memusingkannya.
Nasrullah:
Jadi logikanya, kalau di USA belajar tentang Monyet, misalkan,, ke
Indonesia jangan hanya terpaku untuk membuat kebon binatang yang berisi
Monyet. Apa salahnya pikirkan juga untuk membuat mobil-mobilan yang
wajahnya seperti monyet, yakni Bemo-Bemoan.
Budi:
Saya bingung di sini. Kalau belajar tentang monyet, maka rumah monyet
adalah hanya bagian yang sangat kecil dari aspek monyet itu sendiri dan
dibanding dengan aspek lainnya, rumah monyet kurang begitu penting.
Apalagi kalau anda coba kaitkan dengan membuat mobil-mobilan berwajah
monyet. Ini yang dipelajari monyet atau mobil-mobilan?
Nasrullah:
Untuk itu diperlukan juga kecepatan engineering, kecepatan kalkulasi,
dan kecepatan analisis. Kecuali kalau kita bisa melakukan ketiga ini
sambil membaca.
Budi:
Bagi saya, tiga hal yang anda sebutkan ini cukup dijadikan satu sebagai
kemampuan analisis, karena kecepatan sifatnya adalah relatif, sedangkan
rekayasa adalah bagian dari proses analisa. Lalu, kalkulasi ini yang
saya bingung. Kalau kita bicara general, kalkulasi ini bisa ada bisa
tidak dalam proses analisa. Apakah dalam hal yang sifatnya kualitatif
kita memerlukan pendekatan kalkulasi? Tolong didefinisikan dulu
kalkulasi ini.
Nasrullah:
Untuk memperoleh sesuatu yang komprehensif itu, apakah kita hanya
sekedar penyontek, sementara bisa pula terlibat di dalamnya.
Budi:
Terus terang saya nggak ngerti kalimat ini. Bisa lebih diperjelas?
Karena kalau dibalik kalimatnya, apakah penyontek namanya kalau kita
mempelajari sesuatu secara komprehensif? Apa sih definisinya penyontek
menurut anda?
Salam,
Nasrullah Idris
===========
Bagaimana jadinya kalau Rendang Padang, Gudes Jogja, Sayur Lodeh, dll
buatan Jerman, misalkan, lebih enak, efisien, tahan lama, ketimbang
buatan bangsa Indonesia sendiri. Ini bisa saja terjadi kalau Kimia tidak
dikaitkan dengan urusan masakan. Apalagi tradisi masakan di Indonesia
sifatnya masih cemplang-cemplung.
Budi:
Yang namanya memasak, cemplang-cemplung adalah salah satu caranya. Lihat
saja nyate yang nggak perlu harus nyemplung.
Kenapa harus takut kalau banyak masakan Indonesia lebih enak buatan
Jerman? Khan enak, kalau ada kesempatan ke Jerman nantinya bisa makan
pagi dengan Gudeg, terus makan siang Sayur lodeh + rendang, sementara
makan malemnya bikin indomie saja biar ngirit. Toh orang Jerman tentu
akan menghormati originalitas dari masakan tersebut, misalnya saja
dengan menyebut 'Rendang Padang-Indonesia' di menu-nya. Sama halnya
seperti Thai-noodle, Columbian BBQ, dll yang telah banyak kita ketahui
saat ini.
Saya rasa kalau meramu masakan-masakan tsb dari kandungan unsur kimianya
justru malah tidak efisien dan mungkin tidak akan ada yang beli. Bisa
bayangkan nggak kalau ada yang jual tablet atau kapsul rendang Padang,
atau Gudeg Jogja? Siapa yang mau beli?
Salam,
Budi