From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Saturday, December 18, 1999 11:21 PM
Subject: Re: Warning untuk Mahasiswa Kita di LN : Kendalikan Tradisi
Mengandalkan Text Book



*****Maaf, himbauan seperti yang tersebut dalam 'subject' di atas bagi saya
adalah sangat dangkal dan menyesatkan.
#####Saya kan hanya bilang untuk mengendalikan tradisi mengandalkan text
book.

***** Justru dengan melahap texbook sebanyak mungkin selama belajar di LN
(terutama buku-buku terbaru) akan menjadikan kita lebih 'melek' terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan yang telah terjadi selama ini.
#####Itu sih tidak salah. Sekali lagi,  kendalikan sehingga tidak didominasi
dengan cara gituan.
Bayangkan kalau kita ke LN belajar Windows 3,1 dengan biaya bea siswa Bank
Dunia. Lalu melahap berbagai Windows 3,1 dari berbagai textbook yang tebal,
sampai2 tebalnya ribuan halaman. Karena sifatnya hanya melahap text book,
sehingga pulang ke tanah air mendirikan pabrik software Windows 3,1 dengan
biaya pinjaman IMF. Satu tahun berhasil. Dua tahun berhasil. Eh ... tiga
tahun bangkrut karena sudah dilangkahi Windows 95. Siapa yang
bertanggungjawab atas hutang? Siapa lagi kalau bukan generasi mendatang.
     Jadi logikanya, kalau di USA belajar tentang Monyet, misalkan,, ke
Indonesia jangan hanya terpaku untuk membuat kebon binatang yang berisi
Monyet. Apa salahnya pikirkan juga untuk membuat mobil-mobilan yang wajahnya
seperti monyet, yakni Bemo-Bemoan.

*****Dengan mengkonsumsi buku-buku tsb kemudian mengendapkannya dan
menganalisisnya digabung dengan ide-ide kita (yang biasanya muncul setelah
membaca banyak), lalu melakukan thesis/study/experiment, maka kita akan
mendapatkan
'sesuatu' yang original produk dari pengembangan pemikiran kita.
#####Itu bisa terjadi kalau kita tidak hanya mengandalkan text book, dalam
artian, adanya keinginan untuk melakukan kombinasi, permutasi, atau
kompetitif. Ini berarti harus di sisihkan waktu untuk itu. Kecuali kalau
kita bisa melakukannya dalam waktu bersamaan. Artinya, sambil membaca,
langsung terbayang berbagai aplikasi, asosiasi, atau konversinya.

*****Dan  ini akan mendorong semakin banyaknya keinginan untuk
mengaplikasikan ide-ide di kepala, yang pada gilirannya menjadikan kita
matang teori dan aplikasi.
#####Untuk itu diperlukan juga kecepatan engineering, kecepatan kalkulasi,
dan kecepatan analisis. Kecuali kalau kita bisa melakukan ketiga ini sambil
membaca.

*****Kalau baca texbook dibatasi, pengetahuan yang kita dapat malah
sepotong-sepotong (tidak komprehensif), dan inilah yang menjadikan kita
sebagai ilmuwan 1/4 atau 1/2 mateng (persis kayak telor yang buat sarapan).
#####Untuk memperoleh sesuatu yang komprehensif itu, apakah kita hanya
sekedar penyontek, sementara bisa pula terlibat di dalamnya.


Salam,

Nasrullah Idris
===========
Bagaimana jadinya kalau Rendang Padang, Gudes Jogja, Sayur Lodeh, dll buatan
Jerman, misalkan, lebih enak, efisien, tahan lama, ketimbang buatan bangsa
Indonesia sendiri. Ini bisa saja terjadi kalau Kimia tidak dikaitkan dengan
urusan masakan. Apalagi tradisi masakan di Indonesia sifatnya masih
cemplang-cemplung.

Kirim email ke