Mungkin bung Jeffrey bisa ikut menjelaskan apa sih yg
sebenarnya sedang terjadi di TNI-Polri?
Yang jelas, saya saat ini tidak sedang dalam memberikan
dukungan atau pun menolak atas ajakan embargo internasional.
Saya cenderung menunggu tindakan pro-aktif dari pemerintah
pusat juga masyarakat Indonesia khususnya yg terlibat pada
masalah Maluku ini.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
--------
FWD
--------
Segera Perjuangkan Embargo Internasional
Untuk Hentikan Kebiadaban Militer Indonesia di
Maluku
oleh : Semmy Littik, Townsville
(Australia)
Kehancuran dan penghancuran sumberdaya alam dan manusia serta masa
depan Maluku sudah mencapai titik yang sangat mengerikan setelah konflik
sektarian periode ke-3 pecah dalam bulan Desember 1999 hingga awal
minggu pertama di Millenium ke-3 ini. Seolah-olah sejarah masa lalu
peperangan di Maluku yang pernah berlangsung selama hampir 600 tahun
(terakhir kasus RMS di awal 1950-an), kembali bangkit dari "tidur".
Dalam perkembangan terakhir ini makin jelas terpantau adanya
konspirasi kelompok-kelompok dalam tubuh militer (TNI dan POLRI) sebagai
dalang,
pemicu dan pelaksana rencana penghilangan (baca: genocide) suatu
bangsa di belahan Timur Indonesia tersebut. Mulai dari LSM-LSM,
pengacara-pengacara di Ambon, bahkan Wapres Megawati, Jaksa Agung RI
Marzuki Darusman dan Ketua MPR RI Amien Rais terang-terangan
menyesalkan permainan busuk khas militer Indonesia yang terus
menghancurkan bangsanya sendiri di Maluku. Masyarakat luas juga makin
menyadari
bahwa dalam tubuh TNI dan Polri terdapat sempalan teroris yang siap
menghancurkan siapa saja tanpa peri kemanusiaan dan bingkai hukum, seperti
yang dipraktekkan di Aceh (DOM), Sumut (kasus gereja HKBP, dll.),
Lampung
(pembantaian sekelompok sekte Islam), Jakarta (Tanjung Priok,
pembunuhan dan penculikan aktifis HAM, PAM Swakarsa, Ketapang, dll), Jabar,
Jateng
dan Jatim (pembunuhan wartawan, buruh dan kasus dukun santet), hingga
Timtim, Kupang, Papua dan Maluku.
Jika pada awal kerusuhan pada bulan Januari 1999 masih banyak orang
segan menunjuk hidung para penjahat militer, maka sejak kerusuhan periode
ke-2 bulan Juli 1999 lalu, makin terbuka tuduhan dan bukti
keterlibatan aktif militer sebagai dalang (atau dalam istilah militer
Indonesia :
PROVOKATOR) kerusuhan Maluku. Maka tidak perlu heran kalau hingga
saat ini tidak ada satupun provokator yang tertangkap. Tujuan sempalan teroris
dalam tubuh TNI dan Polri tersebut sudah jelas, yakni ingin
mempertahankan status quo (baca: keistimewaan) yang dirasakan oleh segelintir
elit militer
selama Soeharto berkuasa. Filosofi Maciaveli dan pendekatan sapu
jagat ala Pengeran Mas Said terus dimainkan oleh sempalan teroris tersebut
dengan
memakai baju seragam resmi TNI dan Polri.
Sialnya, masih banyak rakyat Maluku yang belum menyadari bahwa mereka
sedang jadi korban bulan-bulanan para iblis teroris militer yang kali ini
memakai isu agama sebagai pembenaran atas pembunuhan, perampokan dan
penghancuran sesama manusia. Lebih sakit lagi, rakyat Maluku telah
terang-terangan dikhianati oleh pemerintah Gus Dur yang bertindak
seperti Pilatus dimana dengan enteng mencuci-tangan dari tanggung jawab
terhadap pembantaian rakyat Maluku oleh militer. Sikap Gus Dur yang
seenak mulutnya menyuruh rakyat Maluku mengatasi sendiri urusan genocide di
Maluku dan sikap Wapres Megawati yang mengunci mulutnya seperti
boneka Barbie, sungguh bertolak belakang dengan aspirasi rakyat Maluku yang
mengharapkan mereka sebagai pembela rakyat yang diobok-obok oleh
ketamakan dan kebuasan sempalan teroris TNI dan Polri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :
1.Sempalan teroris dalam tubuh TNI dan Polri telah dengan sengaja
meneruskan penghancuran rakyat Maluku.
2.Pemerintahan Wahid tidak mampu dan takut menjinakkan gerombolan
iblis teroris tersebut, bahkan terkesan melindungi mereka.
3.Pemerintahan Wahid telah mengkhianati kepercayaan rakyat Maluku.
Salah satu usul pemecahan masalah yang kini santer dikedepankan oleh
kalangan LSM, pimpinan agama dan masyarakat Maluku di dalam dan luar
negeri adalah menghadirkan militer dan polisi internasional untuk
menggantikan semua kekuatan TNI dan Polri di bumi Maluku. Terlepas dari pro
dan
kontra, ide tersebut merupakan jawaban rakyat Maluku terhadap sikap
pemerintah Wahid yang menyerahkan penyelesaian masalah Maluku pada rakyat
Maluku sendiri. Pemerintah Wahid boleh kehilangan akal menghadapi
sempalan teroris TNI dan Polri, namun rakyat Maluku yang sudah eksis sebagai
bangsa berbudaya tinggi sejak ribuan tahun silam TIDAK KEHILANGAN
IMAN, DAYA, KEBERANIAN, KETAHANAN MENTAL dan AKAL SEHAT mereka.
Mereka ternyata siap menyelesaikan masalah tersebut dengan cara-cara
yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab di dunia.
Anehnya, usul tersebut ditolak oleh pemerintah (lihat sikap Alwi
Sihab dan Marzuki Darusman) dan sempalan teroris yang diwakili oleh terduga
teroris
militer berwajah beku, Wiranto.
Untuk mendesak pemerintah Wahid dan sempalan teroris militer
Indonesia, diperlukan tekanan internasional seperti pada kasus Timtim. Sudah
saatnya
suara orang Maluku di manapun berada menyatu dalam tuntutan agar
semua bantuan internasional (kecuali humanitarian aids) untuk Indonesia
ditunda
atau dibatalkan sebab bantuan itu tidak ada artinya untuk rakyat
Maluku yang sedang dibiarkan mati seperti binatang. Ketika segerombol hewan
liar
berseragam TNI dan Polri mengamuk di Timtim, ternyata tekanan ekonomi
sangat efektif menghentikan kebuasan maniak-maniak teroris yang
berseragam itu. Kenapa dalam kasus Maluku tidak diusahakan hal yang
sama??? Titik mati para teroris militer itu adalah pada uang dan senjata.
Apalagi negara Indonesia sudah bangkrut setelah uangnya dicuri oleh
birokrat elit di Jakarta dan roda ekonomi makin enggan berputar. Jadi, sudah
saatnya perjuangan untuk menghentikan kegiatan terorisme dan
barbarisme dari segerombolan teroris TNI dan Polri di Maluku diarahkan pada
EMBARGO EKONOMI dan MILITER, kalau perlu EMBARGO DAGANG terhadap
Indonesia. Tuntutan harus disuarakan sampai Wahid setuju pengiriman
pasukan perdamaian internasional dan menarik semua teroris TNI dan
Polri dari Maluku.
Mari meneruskan doa dan perjuangan kita!!!