Tidak usahlah berpusing ria menuding militer. Pernyataan Gus Dur bahwa hanya
rakyat Ambon yang dapat menyelesaikan masalah di Ambon ternyata tidak
dibarengi sikap arif dari dewan gereja, yang kemudian menyebarkan konflik ke
Maluku Utara. Ini dulu saja deh yang perlu dilakukan oleh dewan gereja,
yaitu berusaha mencari jalan untuk rekonsiliasi. Apakah ada tanda-tanda
dewan gereja melontarkan ide rekonsiliasi? Never! Yang muncul adalah daftar
puluhan gereja yang dibakar! Yang ada adalah beberapa gelintir orang kristen
yg mati. Yang adalah adalah tuduhan TNI berpihak pada kaum muslim.
Sudah susah kalau pasukan yang melindungi kelompok lebih kecil dibilang
berpihak kan? Lalu mau bagaimana? Melindungi kelompok yang lebih besar? Dari
apa? Dari serangan nyamuk?
Langkah strategis harus muncul dari dewan gereja ini lah. Mereka harus sadar
bahwa merekalah yang menyebabkan pembunuhan ribuan muslim. Mereka juga harus
sadar bahwa provokasi mereka hanya akan berhasil dalam jangka pendek. Dalam
jangka panjang pembunuhan satu orang muslim akan mendatang 10 orang muslim
lainnya. Sudah susah kalau mau menerapkan sapu bersih seperti yg berhasil
dilakukan terhadap pendatang Bugis deh.
Bung Irwan juga harus benar-benar paham bahwa RMS telah secara aktif campur
tangan, yaitu dengan pernyataan seorang pemimpin kemarin. Karena kelompok
RMS sekaligus juga kelompok Kristen, maka keterlibatan mereka dilindungi
oleh dewan gereja.
Sudahlah dewan gerejanya mawas diri dulu deh.
JA
---------------------------
>From: Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: AMBON: Surat dari Australia: 'Segera Perjuangkan Embargo
> Internasional'
>Date: Thu, 6 Jan 2000 11:07:38 EST
>
>Mungkin bung Jeffrey bisa ikut menjelaskan apa sih yg
>sebenarnya sedang terjadi di TNI-Polri?
>
>Yang jelas, saya saat ini tidak sedang dalam memberikan
>dukungan atau pun menolak atas ajakan embargo internasional.
>Saya cenderung menunggu tindakan pro-aktif dari pemerintah
>pusat juga masyarakat Indonesia khususnya yg terlibat pada
>masalah Maluku ini.
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>
>
>--------
>FWD
>--------
>
>Segera Perjuangkan Embargo Internasional
> Untuk Hentikan Kebiadaban Militer Indonesia
>di
>Maluku
> oleh : Semmy Littik,
>Townsville
>(Australia)
>
> Kehancuran dan penghancuran sumberdaya alam dan manusia serta masa
>depan Maluku sudah mencapai titik yang sangat mengerikan setelah konflik
> sektarian periode ke-3 pecah dalam bulan Desember 1999 hingga awal
>minggu pertama di Millenium ke-3 ini. Seolah-olah sejarah masa lalu
> peperangan di Maluku yang pernah berlangsung selama hampir 600
>tahun
>(terakhir kasus RMS di awal 1950-an), kembali bangkit dari "tidur".
>
> Dalam perkembangan terakhir ini makin jelas terpantau adanya
>konspirasi kelompok-kelompok dalam tubuh militer (TNI dan POLRI) sebagai
>dalang,
> pemicu dan pelaksana rencana penghilangan (baca: genocide) suatu
>bangsa di belahan Timur Indonesia tersebut. Mulai dari LSM-LSM,
> pengacara-pengacara di Ambon, bahkan Wapres Megawati, Jaksa Agung
>RI
>Marzuki Darusman dan Ketua MPR RI Amien Rais terang-terangan
> menyesalkan permainan busuk khas militer Indonesia yang terus
>menghancurkan bangsanya sendiri di Maluku. Masyarakat luas juga makin
>menyadari
> bahwa dalam tubuh TNI dan Polri terdapat sempalan teroris yang
>siap
>menghancurkan siapa saja tanpa peri kemanusiaan dan bingkai hukum, seperti
> yang dipraktekkan di Aceh (DOM), Sumut (kasus gereja HKBP, dll.),
>Lampung
> (pembantaian sekelompok sekte Islam), Jakarta (Tanjung Priok,
>pembunuhan dan penculikan aktifis HAM, PAM Swakarsa, Ketapang, dll), Jabar,
>Jateng
> dan Jatim (pembunuhan wartawan, buruh dan kasus dukun santet),
>hingga
>Timtim, Kupang, Papua dan Maluku.
>
> Jika pada awal kerusuhan pada bulan Januari 1999 masih banyak
>orang
>segan menunjuk hidung para penjahat militer, maka sejak kerusuhan periode
> ke-2 bulan Juli 1999 lalu, makin terbuka tuduhan dan bukti
>keterlibatan aktif militer sebagai dalang (atau dalam istilah militer
>Indonesia :
> PROVOKATOR) kerusuhan Maluku. Maka tidak perlu heran kalau hingga
>saat ini tidak ada satupun provokator yang tertangkap. Tujuan sempalan
>teroris
> dalam tubuh TNI dan Polri tersebut sudah jelas, yakni ingin
>mempertahankan status quo (baca: keistimewaan) yang dirasakan oleh
>segelintir
>elit militer
> selama Soeharto berkuasa. Filosofi Maciaveli dan pendekatan sapu
>jagat ala Pengeran Mas Said terus dimainkan oleh sempalan teroris tersebut
>dengan
> memakai baju seragam resmi TNI dan Polri.
>
> Sialnya, masih banyak rakyat Maluku yang belum menyadari bahwa
>mereka
>sedang jadi korban bulan-bulanan para iblis teroris militer yang kali ini
> memakai isu agama sebagai pembenaran atas pembunuhan, perampokan
>dan
>penghancuran sesama manusia. Lebih sakit lagi, rakyat Maluku telah
> terang-terangan dikhianati oleh pemerintah Gus Dur yang bertindak
>seperti Pilatus dimana dengan enteng mencuci-tangan dari tanggung jawab
> terhadap pembantaian rakyat Maluku oleh militer. Sikap Gus Dur
>yang
>seenak mulutnya menyuruh rakyat Maluku mengatasi sendiri urusan genocide di
> Maluku dan sikap Wapres Megawati yang mengunci mulutnya seperti
>boneka Barbie, sungguh bertolak belakang dengan aspirasi rakyat Maluku yang
> mengharapkan mereka sebagai pembela rakyat yang diobok-obok oleh
>ketamakan dan kebuasan sempalan teroris TNI dan Polri.
>
> Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :
>
>
> 1.Sempalan teroris dalam tubuh TNI dan Polri telah dengan
>sengaja
>meneruskan penghancuran rakyat Maluku.
> 2.Pemerintahan Wahid tidak mampu dan takut menjinakkan
>gerombolan
>iblis teroris tersebut, bahkan terkesan melindungi mereka.
> 3.Pemerintahan Wahid telah mengkhianati kepercayaan rakyat
>Maluku.
>
> Salah satu usul pemecahan masalah yang kini santer dikedepankan
>oleh
>kalangan LSM, pimpinan agama dan masyarakat Maluku di dalam dan luar
> negeri adalah menghadirkan militer dan polisi internasional untuk
>menggantikan semua kekuatan TNI dan Polri di bumi Maluku. Terlepas dari pro
>dan
> kontra, ide tersebut merupakan jawaban rakyat Maluku terhadap
>sikap
>pemerintah Wahid yang menyerahkan penyelesaian masalah Maluku pada rakyat
> Maluku sendiri. Pemerintah Wahid boleh kehilangan akal menghadapi
>sempalan teroris TNI dan Polri, namun rakyat Maluku yang sudah eksis
>sebagai
> bangsa berbudaya tinggi sejak ribuan tahun silam TIDAK KEHILANGAN
>IMAN, DAYA, KEBERANIAN, KETAHANAN MENTAL dan AKAL SEHAT mereka.
> Mereka ternyata siap menyelesaikan masalah tersebut dengan
>cara-cara
>yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradab di dunia.
>
> Anehnya, usul tersebut ditolak oleh pemerintah (lihat sikap Alwi
>Sihab dan Marzuki Darusman) dan sempalan teroris yang diwakili oleh terduga
>teroris
> militer berwajah beku, Wiranto.
>
> Untuk mendesak pemerintah Wahid dan sempalan teroris militer
>Indonesia, diperlukan tekanan internasional seperti pada kasus Timtim.
>Sudah
>saatnya
> suara orang Maluku di manapun berada menyatu dalam tuntutan agar
>semua bantuan internasional (kecuali humanitarian aids) untuk Indonesia
>ditunda
> atau dibatalkan sebab bantuan itu tidak ada artinya untuk rakyat
>Maluku yang sedang dibiarkan mati seperti binatang. Ketika segerombol
>hewan
>liar
> berseragam TNI dan Polri mengamuk di Timtim, ternyata tekanan
>ekonomi
>sangat efektif menghentikan kebuasan maniak-maniak teroris yang
> berseragam itu. Kenapa dalam kasus Maluku tidak diusahakan hal
>yang
>sama??? Titik mati para teroris militer itu adalah pada uang dan senjata.
> Apalagi negara Indonesia sudah bangkrut setelah uangnya dicuri
>oleh
>birokrat elit di Jakarta dan roda ekonomi makin enggan berputar. Jadi,
>sudah
> saatnya perjuangan untuk menghentikan kegiatan terorisme dan
>barbarisme dari segerombolan teroris TNI dan Polri di Maluku diarahkan pada
> EMBARGO EKONOMI dan MILITER, kalau perlu EMBARGO DAGANG terhadap
>Indonesia. Tuntutan harus disuarakan sampai Wahid setuju pengiriman
> pasukan perdamaian internasional dan menarik semua teroris TNI dan
>Polri dari Maluku.
>
> Mari meneruskan doa dan perjuangan kita!!!
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com