Rekan Budi,
Pertanyaan anda sangat mendasar. Jika ditilik dari cerita
rakyat/fiction/literature di negeri kita, kebanyakan tentang pembunuhan,
abandonment, frustasi, dan penganiyaan. Dan yang paling menyedihkan
endingnya selalu dengan kematian bagi kebenaran dan kemenangan bagi yang
bersalah. Tak ada kata maaf di ujung cerita. Biasanya yang tertindas duduk
dan berdoa kehadapan Tuhan meminta belas kasih namun tak ada sambutan
berarti dari manusia akan doa orang-orang yang tertindas.
Misalnya cerita "Tangkuban Perahu," "Malinkundang anak durhaka," "Ramayana,"
"Siti Nurbaya," etc. Suatu hari rekan saya, anak Anthropology, Julie,
(American yang belajar Indonesian as a minor), bingung tentang literature
cerita rakyat yang dibacanya. Dia bilang bahwa kebanyakan cerita rakyat
yang dia baca sangat menyeramkan. Misalnya, si A mencongkel mata si B,
kemudian si C, adik si B membakar seluruh kampung si A, membalas dendam
kakaknya. Ada juga cerita tentang anak pangeran yang dibakar untuk sesajen
dan sang raja harus mengorbankan anaknya etc. Atau tentang petani yang
membawa golok hendak membunuh tetangganya yang menerima air lebih banyak.
Sepertinya culture yang kita tumbuhkan dibangun dengan ilusi 'keperkasaan,'
'kesetiaan, ' dan 'belas kasih' namun semua itu harus dibayar dengan
'nyawa.' Tidak kita sadari bahwa esensi cerita tertinggal di benak kita dan
berkembang sedemikian rupa. Atau serupa dengan pertanyaan anda, "apakah
cerita-cerita itu menggambarkan akar budaya community kita?"
salam,
ida
> > >From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
> > >To: [EMAIL PROTECTED]
> > >Subject: Keberingasan vs pendidikan dasar
> > >Date: Wed, 12 Jan 2000 11:17:27 -0800
> > >
> > >Rekan-rekan yth.,
> > >
> > >Melihat begitu beringasnya sebagian masyarakat Indonesia saat ini,
> > >sampai-sampai tidak kasihan dan tidak segan-segan untuk menganiaya
> > >bahkan sampai membunuh orang lain, teman, dan bahkan famili sendiri,
> > >apakah semua ini ada kaitannya dengan sistem pendidikan dasar di negara
> > >kita?
> > >
> > >Lihat saja lagu taman kanak-kanak seperti:
> > >
> > >Potong bebek angsa
> > >masak di kuali
> > >....
> > >
> > >Lalu,
> > >
> > >Si Kancil anak nakal
> > >suka mencuri ketimun
> > >ayo lekas ditangkap
> > >jangan diberi ampun
> > >
> > >See......
> > >Bayangkan, anak TK saja sudah sejak awal diajari atau dibiasakan bahwa
> > >motong bebek/angsa adalah hal yang biasa. Lalu, seolah-olah mencuri itu
> > >hanya perbuatan berkategori nakal saja, dan terhadap mereka yang suka
> > >mencuri, diajarkan agar tidak diberi ampun. Pantas saja selama ini
> > >banyak yang mencuri uang rakyat (karena paling-paling hanya disebut
> > >sebagai anak nakal), dan sudah menjadi biasa pencuri yang ketangkap
> > >sekarang ini pada dibakarin sama masyarakat.
> > >
> > >Ada hubungannya nggak sih?
> > >
> > >Salam,
> > >Budi
> >
> > ______________________________________________________
> > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com