Kepada yth. Saudara Jeffrey,


Yap, mungkin saya tidak lagi focus.  Jadi mohon maaf.
Saya tahu Mas Budi cerita tentang lagu. Yah, saya coba lihat dari cerita
rakyat/literature/fiction.   Yang menjadi topik pembahasan saya (kalau tidak
salah Mas Budi juga) adalah "pertanyaan" yang menggaung.  "Pertanyaan"
tentang esensi budaya kita yang cenderung beringas.  Contoh lagu dan cerita
adalah instrument belaka.  Mereka adalah refleksi bangunan budaya yang ada
di masyarakat kita. Apapun instrumentnya, pernyataan kita tetap sama:
"mengapa Indonesia seperti ini?" untuk menjawabnya, kita berikan
hypothesa-hypothesa yang bisa membimbing kita pada jawaban.  Sebab tak ada
absolute answers to questions just like tak ada absolute examples to the
complexity of mankind.

BTW. tolong diperhatikan: saya menyatakan --- cerita
rakyat/literature/fiction. Dan jangan lupa, # Siti Nurbaya dikonsumsi oleh
anak-anak. Malah difilmkan.  Akhirnya: Siti Nurbaya bunuh diri. Tak ada
solusi dari cerita tentang bagaimana menyikapi kebiasaan rakyat di masa
lalu.
# Malinkundang: Dihukum Tuhan karena berdosa kepada Ibunya. Logikanya: Jika
Allah Maha Penyayang, mengapa Allah menghukum mati hambaNya? Bukankah
manusia dijanjikan waktu oleh Allah untuk memohon maaf? Di mana janji Tuhan
kepada hamba-Nya? Mengapa kita tidak berfikir untuk memberi waktu kepada
Malinkundang untuk menyadari kesalahannya? Bukan malah membunuhnya sebelum
dia mengetahui penderitaan yang dijalani oleh Ibunya yang bisa membuat dia
tersadar?
# Ramayana: cerita perang seribu tahun? Pertengkaran oleh manusia atau
malaikat atau authority TUhan yang kemudian dimodifikasi untuk dijadikan
kepercayaan akan keperkasaan? Regarless import or export, cerita itu telah
mengakar di tanah air kita.

thank you.  Nice talking to you. Lain kali, Bang Jeffrey juga sebaiknya
focus pada topik kalau nulis. Jangan sampai orang bilang: "anda tahunya
mengeritik tetapi tidak tahu mengedit tulisan sendiri."
No offense. Take it as a student discussion. Seperti yang sering anda
lakukan kepada saya.

salam hotmat,

ida


>From: Jeffrey Anjasmara <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: Keberingasan vs pendidikan dasar
>Date: Thu, 13 Jan 2000 12:33:20 EST
>
>Boleh komentar dikit? Banyak sih...:)
>
>Ini lagu anak-anak kok berubah menjadi cerita rakyat. Bedanya sangat jauh
>dong. Lagu-lagu buat anak-anak yg dibuat dan direfer oleh Bung Budi kan
>buatan Ibu Sud, dkk. yang bertahun 1950-1960-an. Dan syairnya justru
>dinilai
>mencerminkan tujuan yg pas, dibandingkan dengan syair lagu-lagu anak-anak
>jaman sekarang. Dasarnya ya pesan yg terkandung dan kesederhanaan syair.
>Masak anak-anak dikasih syair yg terlalu berat misalnya tentang kehidupan,
>wah, nggak nyampe. Ibarat menuntut anak memahami lukisan Afandi.
>
>Memang ada beberapa lagu yg didasarkan cerita rakyat. Contoh kayak lagu si
>kancil mencuri ketimun. Pesan yg hendak disampaikan sih jangan menjadi
>pencuri. Kalau mencuri berarti anak nakal. Kalau nakal akan ditangkap dan
>dihukum tanpa ampun. Misal ada yg argue kenapa cuman disebut anak nakal?
>Wah, buat anak kecil disebut anak nakal itu sudah maksimum. Jangan sampai
>disebut anak jahat, atau disebut anak kriminal. Nggak baek buat
>perkembangan
>anak. Yah, bisa saja kita buat lagu kalau mencuri akan ditahan polisi,
>diperkarakan, diajukan ke pengadilan, mendapatkan pembela sehingga adil,
>dst. Tetapi lagu ini kan nggak bakal dimengerti anak-anak, kecuali oleh
>Bung
>Budi waktu masih anak-anak, misalnya....:) Hehe....:)
>
>Itu tentang lagu anak-anak. Kalau tentang cerita rakyat, wah ini lain lagi.
>Ini menyangkut legenda, dan ini buat konsumsi orang dewasa kok. Namanya
>juga
>legenda, bisa untuk membuat hebat kisah pembentukan suatu bangunan/wilayah,
>bisa untuk menjelaskan mengapa banyak orang hilang kalau masuk hutan A,
>menjelaskan kok bisa muncul danau B, bisa untuk menahan orang untuk tidak
>memasuki daerah berbahaya dengan kisah angker dlsb.
>
>Entah mbak Notrida lagi pusing nggak ada inspirasi buat puisi atau gimana
>ya. Ada banyak yg tidak tepat disampaikan. Misal, cerita Malinkundang. Si
>anak durhaka yang setelah kaya raya lalu lupa ibunya sendiri kemudian
>dihukum Tuhan, yaitu kapalnya ditenggelamkan badai. Jadi si jahat sudah
>dihukum. Kalau cerita Siti Nurbaya kan bukan cerita rakyat. Itu novel tahun
>1920-an, yang waktu itu memang trend-nya kayak gitu. Memang ada dasarnya
>yaitu perjodohan paksa, dan itu memang jamak kala itu ya mbak. Kemudian
>cerita Ramayana, wah yang ini cerita impor. Kalau yang ini konon didasari
>oleh kejadian sebenarnya. Kisah kepahlawanan Ramayana dan keangkaraan
>Rahwana adalah menurut orang India. Kalau menurut orang Srilangka yang
>merupakan tanah si Rahwana, cerita ini adalah cerita gombal. Menurut mereka
>Rahwana adalah raja yg baik dan perkasa, dan Sinta dengan sukarela mau
>diboyong oleh Rahwana. Ya ini sih entah siapa yg bener.
>
>Soal keperkasaan (dalam arti bravery), kesetiaan, pengorbanan, wah, ini
>memang justru yg perlu disampaikan ke anak-anak ya mbak. Yang lebih penting
>sih pengambilan intisari cerita (atau lagu) yg disampaikan. Sejauh ini sih
>(umumnya) sudah bagus. Kalau kesadisan, nah ini lebih banyak ke urusan
>nafsu. Misal nafsu makan yg tidak terpenuhi karena tidak ada makanan. Misal
>lainnya nafsu untuk mendominasi tanah Maluku. Ehhhh, balik lagi.
>Hehehe....:)
>
>
>JA
>
>'----------------------------
>>From: Notrida Mandica <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: [EMAIL PROTECTED]
>>Subject: Re: Keberingasan vs pendidikan dasar
>>Date: Thu, 13 Jan 2000 00:48:07 PST
>>
>>Rekan Budi,
>>
>>Pertanyaan anda sangat mendasar.  Jika ditilik dari cerita
>>rakyat/fiction/literature di negeri kita, kebanyakan tentang pembunuhan,
>>abandonment, frustasi, dan penganiyaan.  Dan yang paling menyedihkan
>>endingnya selalu dengan kematian bagi kebenaran dan kemenangan bagi yang
>>bersalah. Tak ada kata maaf di ujung cerita. Biasanya yang tertindas duduk
>>dan berdoa kehadapan Tuhan meminta belas kasih namun tak ada sambutan
>>berarti dari manusia akan doa orang-orang yang tertindas.
>>Misalnya cerita "Tangkuban Perahu," "Malinkundang anak durhaka,"
>>"Ramayana,"
>>"Siti Nurbaya," etc.  Suatu hari rekan saya, anak Anthropology, Julie,
>>(American yang belajar Indonesian as a minor), bingung tentang literature
>>cerita rakyat yang dibacanya.  Dia bilang  bahwa kebanyakan cerita rakyat
>>yang dia baca sangat menyeramkan. Misalnya, si A mencongkel mata si B,
>>kemudian si C, adik si B membakar seluruh kampung  si A,  membalas dendam
>>kakaknya.  Ada juga cerita tentang anak pangeran yang dibakar untuk
>>sesajen
>>dan sang raja harus mengorbankan anaknya etc.  Atau tentang petani yang
>>membawa golok hendak membunuh tetangganya yang menerima air lebih banyak.
>>Sepertinya culture yang kita tumbuhkan dibangun dengan ilusi
>>'keperkasaan,'
>>'kesetiaan, '  dan 'belas kasih' namun semua itu harus dibayar dengan
>>'nyawa.'  Tidak kita sadari bahwa esensi cerita tertinggal di benak kita
>>dan
>>berkembang sedemikian rupa.  Atau serupa dengan pertanyaan anda, "apakah
>>cerita-cerita itu menggambarkan akar budaya community kita?"
>>
>>salam,
>>
>>ida
>>> > >From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
>>> > >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>>> > >To: [EMAIL PROTECTED]
>>> > >Subject: Keberingasan vs pendidikan dasar
>>> > >Date: Wed, 12 Jan 2000 11:17:27 -0800
>>> > >
>>> > >Rekan-rekan yth.,
>>> > >
>>> > >Melihat begitu beringasnya sebagian masyarakat Indonesia saat ini,
>>> > >sampai-sampai tidak kasihan dan tidak segan-segan untuk menganiaya
>>> > >bahkan sampai membunuh orang lain, teman, dan bahkan famili sendiri,
>>> > >apakah semua ini ada kaitannya dengan sistem pendidikan dasar di
>>>negara
>>> > >kita?
>>> > >
>>> > >Lihat saja lagu taman kanak-kanak seperti:
>>> > >
>>> > >Potong bebek angsa
>>> > >masak di kuali
>>> > >....
>>> > >
>>> > >Lalu,
>>> > >
>>> > >Si Kancil anak nakal
>>> > >suka mencuri ketimun
>>> > >ayo lekas ditangkap
>>> > >jangan diberi ampun
>>> > >
>>> > >See......
>>> > >Bayangkan, anak TK saja sudah sejak awal diajari atau dibiasakan
>>>bahwa
>>> > >motong bebek/angsa adalah hal yang biasa. Lalu, seolah-olah mencuri
>>>itu
>>> > >hanya perbuatan berkategori nakal saja, dan terhadap mereka yang suka
>>> > >mencuri, diajarkan agar tidak diberi ampun. Pantas saja selama ini
>>> > >banyak yang mencuri uang rakyat (karena paling-paling hanya disebut
>>> > >sebagai anak nakal), dan sudah menjadi biasa pencuri yang ketangkap
>>> > >sekarang ini pada dibakarin sama masyarakat.
>>> > >
>>> > >Ada hubungannya nggak sih?
>>> > >
>>> > >Salam,
>>> > >Budi
>>> >
>>> > ______________________________________________________
>>> > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>>______________________________________________________
>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke