Budi Haryanto wrote:

> Kalau kita simak cerita-cerita untuk anak-anak (dan lagu-lagunya) di AS
> saja. Hampir semuanya selalu menjauhi hal-hal yang sifatnya 'sadis',
> 'dendam', dan 'amarah'. Lalu endingnya selalu 'manis' dan kebanyakan
> 'happily ever after'.

Saya ndak setuju mas Budi,
Cerita kekerasan di tingkat anak pun sangat lazim di sini (US). Malah saya kira
jauh lebih banyak di banding dengan di Indo. Baik itu melalui hujan deras
game-game (nitendo, dll), siaran-siaran TV, WCW (wrestling) dll. Yang Dar-der-dor
juga seabrek. Apa coba yang menyebabkan penembakan di Columbine High School, dll?
Cerita yang selalu ceria memang banyak, tapi di Indo juga banyak, kayak si
Bernie, Teletubbies, Sesame Street, dll.

> Kalau memang exposure tsb di atas merupakan 'potential cause' dari
> keberingasan masyarakat Indonesia, sepertinya kita juga punya tanggung
> jawab moral untuk memikirkan dan memperbaikinya.
>

Kalau mungkin lebih kompleks lagi. Saya cenderung semuanya berasal dari masalah
perut. Bukan cerita-cerita rakyat tadi. Jadi bawa Indonesia ke tingkat makmur
dulu... baru bisa kita bicara masalah berantas keberingasan. Dan seperti kata Mas
Budi, kita memang punya tnggung jawab, ndak moral saja lho, tapi juga tenaga,
ilmu  dan material.

Pungkas Ali
--
Quote of The Day:
"The chicken probably came before the egg because it is hard to imagine God
wanting to sit on an egg" (unknown)
Oh iya, mari kita bantu anak-anak Indonesia dari masalah perut. Kunjungi
http://beasiswa.isnet.org

Kirim email ke