Yth Sdr. Lubis dan Idris,
Salah satu surat anda untuk Permias telah menyatakan bahwa sudah waktunya
peradaban Eropa dan juga para ilmuwannya meluruskan sejarah, karena
berdasarkan sejarah, banyak sumbangan ilmuwan Muslim untuk Eropa.
Saya ingin mengkoreksi anda sedikit dalam hal ini. Ibnu Sina yang memang
terkenal sebagai salah satu pemikir Islam yang jenius, tidak begitu saja
mendapatkan ilmunya. Bila anda lihat tulisan-tulisan Ibnu Sina, anda dapat
buktikan sendiri bahwa beliau banyak mempelajari karya Aristoteles, yang
orang Eropa juga. Kalau mau dilihat contoh yang lain, di Cina daratan,
orang sudah menulis menggunakan kertas 1000 tahun sebelum orang Eropa
mulai. Kalau dilihat lebih jauh lagi, manusia pertama dikabarkan datang
dari benua Afrika dan memencar di seluruh dunia.
Bagi saya, sebaiknya kita tidak mengunggulkan satu pihak, baik Eropa,
Cina, Islam, atau siapapun juga. Seperti anda sadari, kata "ras" dan
"etnis" waktu mulanya diciptakan oleh ilmuwan juga, yang ingin
mengkategori macamnya manusia di dunia ini supaya lebih mudah mempelajari
budaya berbagai "ras" tersebut. Jadi kata "ras" berkonotasi ilmiah. Namun
sekarang, kata "ras" lebih sering dipergunakan untuk kategorisasi yang
negatif contohnya etnis Afrika (bangsa yang diperbudak), etnis Eropa
(bangsa yang memperbudak), etnis Yahudi, etnis Cina, etnis Arab, Pribumi
Indonesia dst.
Tapi pada dasarnya semua manusia adalah sama. Bila perkembangan teknologi
tidak seragam di seluruh dunia, itu dikarenakan adanya faktor-faktor
lingkungan misalnya iklim, ekonomi, dan sosial. Bukan karena "ras" ini
atau "agama" itu jauh lebih pintar dibanding yang lain. Bila anda tinjau
berbagai konflik di dunia, semuanya berasal dari argumen bahwa satu agama,
bangsa, ras jauh lebih baik dari yang lain.
Sebagai generasi muda Indonesia yang terpelajat, sebaiknya kita juga dapat
melihat manusia sebagai satu. Pria, wanita, Cina, Arab, India, Pribumi
Indonesia, Amerika, Inggris, tidak ada bedanya. Bagi saya, ini adalah
langkah pertama untuk menyelesaikan banyak masalah yang sekarang bergolak
di Indonesia.
Sehat Nauli
Ph.D., Biochemistry