From: Sehat Nauli <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Saturday, January 15, 2000 07:42
Subject: Re: Hutang Peradaban Eropa kepada Dunia Islam


Saya ingin mengkoreksi anda sedikit dalam hal ini. Ibnu Sina yang memang
terkenal sebagai salah satu pemikir Islam yang jenius, tidak begitu saja
mendapatkan ilmunya.

Nasrullah Idris
------------------
     Suatu peradaban tidak akan muncul dalam suatu komunitas tanpa wahyu
yang turun dari langit, yang menjadi pedoman dan petunjuk bagi manusia.
     Artinya, apa pun bentuk peradaban, kalau dilihat ke belakan, yakinlah,
ujung2nya adalah wahyu dari Allah SWT kepada RasulNya.

Sehat Nauli
---------------
     Bagi saya, sebaiknya kita tidak mengunggulkan satu pihak, baik Eropa,
Cina, Islam, atau siapapun juga.

Nasrullah Idris
------------------
     Dalam Islam ada anjuran untuk menuntut ilmu walaupun ke negeri Cina.
Artinya, tuntutlah ilmu kepada seseorang, meskipun etnisnya berbeda,
negaranya berbeda, sampai agamanya berbeda.
     Karena ajaran inilah sehingga memotivasi ummat Islam mempelajari kertas
di mana penemunya adalah Tsa Lun dari Cina.
     Hasilnya apalagi kalau bukan produktivitas kitab Al-Qur'an. Apalagi
setelah Johann Guttenberg menemukan mesin cetak.
     Saya pun bisa internet ini tidak terlepas dari kalangan Cina.

    Anda katakan bahwa Ibnu Sina  banyak mempelajari karya Aristoteles, yang
orang Eropa juga. Kalau mau dilihat contoh yang lain, di Cina daratan, orang
sudah menulis menggunakan kertas 1000 tahun sebelum orang Eropa mulai.
    Bukankan ini pun manifestasi daripada anjuran Islam tersebut.

Sehat Nauli
---------------
     Tapi pada dasarnya semua manusia adalah sama.

Nasrullah Idris
-------------------
     Dalam Al-Qur'an saja itu sudah kental kok. Di sana dikatakan bahwa
Allah menciptakan manusia dari berbagai ras. Tiada lain untuk saling kenal.
Hanya orang yang bertaqwa kepadaNya lah yang akan diterima di sisiNya di
akhirat nanti.
     Coba anda tanya kepada bangsa Negro muslim di Amerika Serikat. Tanyakan
tentang ini. Umumnya mereka tahu.
     Karena itu saya kecewa dengan mereka merendahkan hidung pesek sambing
menyanjung hidung mancung.
     Apalagi ditinjau dari arsitektur wajah, bagus tidaknya hidung bukan
karena pesek-mancung. Tetapi karena letaknya di wajah. Soalnya kalau
dipanggul bukan lagi hidung namanya. Tetapi sudah tumor.


Sehat Sauli
--------------
     Bila perkembangan teknologi tidak seragam di seluruh dunia, itu
dikarenakan adanya faktor-faktor lingkungan misalnya iklim, ekonomi, dan
sosial. Bukan karena "ras" ini atau "agama" itu jauh lebih pintar dibanding
yang lain. Bila anda tinjau berbagai konflik di dunia, semuanya berasal dari
argumen bahwa satu agama, bangsa, ras jauh lebih baik dari yang lain.


Nasrullah Idris
------------------
     Teknologi itu ibarat mata rantai. Yang satu merupakan kelanjutan,
inovasi, dan pengembangan yang lain. Di sana terkumpul berbagai nama
penemunya. Jadi ia ibarat klasemen medali olimpiade.
     Nah, siapa pun, termasuk anda, akan bertanya kalau dalam klasemen
tersebut tidak ada nama yang mewakili bangsa. Itu sih sah-sah saja selama
dalam kontek persamaan derajat kemampuan ummat manusia.
     Jadi saya menulis posting ini tiada lain untuk menegaskan kepada bangsa
Indonesia bahwa mereka pun mempunyai peluang untuk menyangi supremasi Eropa
di bidang Teknologi.
    Jadi kalau ada orang Indonesia yang tidak mempunyai keyakinan tersebut,
maka secara langsung ia telah melakukan diskriminasi terhadap rasnya
sendiri.
     Sekaligus menerangkan bahwa di Eropa telah terjadi upaya penyelidikan
(oleh ilmuwan Barat) secara benar tentang sejarah kontribusi Dunia Islam
pada peradaban Eropa. Ini dengan kenyataan, sejarah itu telah
diputarbalikkan oleh mereka yang ingin menenggelamkan kejayaan Islam. Juga
oleh mereka yanng menganggap bangsa kulit berwarna itu adalah bangsa kelas
bawah. Siapa mereka? Anda tahu sendiri, kan!




Salam,

Nasrullah Idris
-------------------

Kirim email ke