wah saya pribadi tidak percaya 100 % dengan apakabar@
forum yang kebanyakan dimanfaatkan untuk provokasi.
mungkin lebih enak diskusi langsung daripada memforward analisa orang lain.
faran
>Date: Sat, 22 Jan 2000 20:51:46 EST
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>From: Mardhika Wisesa <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: LION: MEMBUKA AMIEN RAIS & TABIR POROS TENGAH 1-3
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>Ini dia, oleh-oleh lengkap dari saudara Lion di Indopubs,
>Mungkin saja rekan-rekan di permias belum pernah membacanya,
>khususnya bagi Anjasmara dan CS.
>
>
>
>Date: Wed, 19 Jan 2000
>Subject: LION - Membuka Amien Rais & Tabir Poros Tengah (1)
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>=====================Semakin lama semakin kelihatan
>siapa sebenarnya Amien Rais bersama dengan kelompok
>Poros Tengahnya. Amien Rais dan kelompok Poros
>Tengahnya itu tidak lain merupakan sekelompok
>politikus yang kekanak-kanakan, hipokrit, oportunis,
>haus kekuasaan (yang tak kunjung tercapai),
>fundamentalis, radikalis, dikombinasi dengan sikap
>yang tidak ksatria dan tidak tahu malu. Apabila mereka
>terdesak, atau berhadapan dengan kekuatan yang lebih
>kuat daripada mereka, mereka cenderung berbalik arah,
>menyangkal apa yang telah dilakukannya, dan
>mengkambinghitamkan pihak ketiga.
>
>Mereka juga berpolitik gaya rezim Soeharto, yakni
>mengalihperhatiankan publik ke pihak ketiga, dengan
>menuduh pihak ketiga itu melakukan hal-hal yang
>sebenarnya justru merekalah yang melakukannya. Seperti
>Soeharto, yang senantiasa melakukan rekayasa dan
>penciptaan kondisi imaji masyarakat umum agar selalu
>mempunyai perspektif buruk kepada etnis Tionghoa
>sebagai binatang ekonomi yang serakah dan perusak
>ekonomi negara, sementara penyebab utama rusaknya
>ekonomi rakyat justru penanggung jawab utamanya adalah
>pihaknya sendiri beserta keluarga dan para kroninya
>(yang di dalamnya ada juga beberapa pengusaha etnis
>Tionghoa bermental penjilat). Ketika ekonomi negara
>terguncang, maka bukan dia yang disalahkan dan
>dijadikan sasaran kemarahan rakyat, tetapi senantiasa
>etnis Tionghoa itu.
>
>Demikian juga yang mirip-mirip yang dilakukan oleh
>kelompok Poros Tengah ini. Mereka menuduh pihak
>ketiga, yakni PDI Perjuangan bermaksud membiarkan dan
>mengharapkan Presiden Gus Dur jatuh sakit sampai tidak
>bisa menjalankan kekuasaannya sehingga diambilalih
>oleh Megawati beserta PDI Perjuangannya, tetapi yang
>sebenarnya merekalah yang sedang bergerilya demikian.
>Indikasinya adalah manuver-manuver dan
>fenomena-fenomena yang dilakukan oleh kelompok mereka
>itu, yang akan saya ulas dalam posting kali ini.
>Bahkan skenario ini sudah mereka rancang sejak mereka
>memutuskan mencalonkan Gus Dur sebagai presiden,
>setelah jagoan mereka B.J. Habibie keok.
>
>Amien Rais bersama kelompok Poros Tengahnya itu,
>ibarat sekelompok serigala berbulu domba. Pada awalnya
>mereka bisa bermain cukup baik sebagai domba-domba.
>Tetapi ketika, semakin lama ambisi tersembunyi mereka
>tak kunjung tercapai, mereka sudah mulai tidak
>sabaran, dan mulai bermain kasar, sehingga tanpa sadar
>kelihatanlah apa yang ada di balik bulu domba yang
>mereka kenakan itu. Akhir-akhir ini manuver-manuver
>mereka semakin lama secara tidak sadar malah
>menelanjangi jati diri mereka sebenarnya yang begitu
>dahaga terhadap kekuasaan, yang tak kunjung dicapai.
>Mereka tidak hanya haus kekuasaan, tetapi juga
>mempunyai ambisi untuk mendirikan suatu negara
>berasaskan Islam. Untuk itu mereka bisa menghalalkan
>segala cara, termasuk melakukan langkah-langkah
>kompromis dan kongkalikong dengan pihak-pihak yang di
>atas permukaan saja kelihatannya mereka musuhi.
>Tetapi, di belakangnya mereka rangkul dan diajak
>kerjasama demi tujuan tersebut, baik secara
>terang-terangan maupun terselubung: Golkar dan TNI.
>
>Kita masih ingat, kelompok ini, termasuk pentolannya,
>Amien Rais, tempo hari adalah paling nomor satu
>menghujat Golkar dan TNI. Terutama menjelang Pemilu
>lalu. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Merekalah yang
>pertama kali merangkul Golkar dalam Sidang Umum MPR
>lalu, dan sekarang mereka malah menjadi pembela
>jenderal-jenderal TNI yang dulu termasuk paling
>dihujat (terutama Wiranto). Ketika jenderal-jenderal
>tersebut hendak diperiksa atas kecurigaan keterkaitan
>mereka dalam pelanggaran-pelanggaran HAM di Timor
>Timur, kelompok ini termasuk yang melakukan pembelaan
>dan malah balik mengecam Komnas HAM yang dinilai
>berlebihan, prejudice, diskriminasi, dan sebagainya.
>Begitu juga dengan kecurigaan adanya unsur-unsur
>tertentu dalam TNI (bukan TNI sebagai lembaga) yang
>hendak melakukan kudeta, Amien Rais tiba-tiba berdiri
>di tengah-tengah membela Wiranto cs yang memang paling
>dicurigai akan melakukan demikian. Dengan lagi-lagi
>menuding pihak ketiga (kali ini Amerika Serikat) yang
>hendak memperkeruh suasana, hendak memecah-belah
>Indonesia, tudingan tanpa dasar, mengadudomba,
>pemerintah yang paranoid, dan sebagainya.
>
>Sejak Semula Meragukan
>
>Sejak semula saya sudah meragukan sikap-sikap yang
>dipamerkan Amien Rais sebagai sosok reformis,
>demokratis, dan nasionalis seperti yang sering
>dikumandangkan oleh dirinya sendiri, maupun media
>massa Indonesia. Kalau Anda mengikuti posting-posting
>saya tentang Amien Rais di milis ini (sejak 1997),
>betapa akan terlihat bahwa apa yang saya ulas tentang
>sosok Amien Rais itu kini menjadi kenyataan. Bahwa
>Amien Rais tidak ada bedanya dengan tokoh-tokoh
>semacam Hamzah Haz, Achmad Sumargono, Eggy Sudjana,
>Yusril Ihza Mahendra, dan lain-lain. Mereka adalah
>tokoh-tokoh Islam fundamentalis, radikal, antiKristen,
>antiYahudi, antiAmerika Serikat, termasuk antiCina.
>Kelebihan dari Amien Rais adalah dia rupanya lebih
>pandai menutup rapat bulu domba yang dikenakan
>ketimbang rekan-rekannya yang lain.
>
>Bagaimana bisa seorang yang sejak semula dikenal
>sebagai fundamentalis, radikalis, antiKristen,
>antiYahudi, antiAmerika Serikat itu bisa sedemikian
>mendadak, sim salabim, berubah menjadi tokoh yang
>reformis, demokratis, nasionalis? Yang tiba-tiba, --
>bahkan lebih ajaib daripada lampu aladin -- berubah
>menjadi tokoh yang bersahabat, merangkul, dan
>mengayomi pihak-pihak yang tadinya begitu diantinya?
>Sama halnya dengan perilakunya yang dulu termasuk
>dekat dengan Soeharto bersama ICMI-nya, secara
>mendadak berubah menjadi vokalis dan penantang
>Soeharto. Tak heran Soeharto begitu membencinya. Tak
>ada orang yang begitu dibenci seseorang, selain jika
>ada sahabatnya yang tiba-tiba mengkhianatinya.
>
>Dalam sebuah legenda klasik Djengis Khan, ada sebuah
>cerita tentang seorang prajurit dari kerajaan Cina
>yang berkhianat terhadap negaranya, sehingga
>memungkinkan Djengis Khan berhasil menghancurkan
>pasukan dari kerajaan Cina tersebut. Ketika menghadap
>sang Khan untuk meminta imbalannya, sang Khan
>memberikannya sejumlah hadiah dan jabatan tinggi dalam
>jajaran pasukannya, dan kemudian berkata kepadanya:
>�Engkau seorang prajurit yang licik dan berbahaya,
>dengan mudah engkau berkhianat terhadap Rajamu untuk
>memperoleh semua imbalan ini. Maka, bukan tak mungkin
>kelak engkau akan dengan mudah berkhianat kepada aku
>juga!� Kemudian sang Khan memerintahkan algojonya
>untuk memenggal kepala sang pengkhianat itu!
>
>Ilustrasi di atas mencerminkan tentang berbahayanya
>mentalitas dari orang-orang yang begitu mudah berubah
>sikap dari pendukung menjadi penentang, dari orang
>dekat (sahabat) menjadi pengkhianat. Ini merupakan
>mental dari orang-orang yang disebut oportunis sejati.
>Meraka tak akan segan-segan untuk meninggalkan tuannya
>untuk mendukung tuannya yang baru yang dirasakan akan
>lebih menguntungkan. Nanti kalau tuan yang baru itu
>dalam posisi yang tak menguntungkan, maka akan dengan
>mudah juga ditinggalkan dan dikhianati untuk beralih
>ke tuan yang lain lagi. Atau malah berkhianat demi
>ambisinya sendiri untuk menjadikan dirinya sebagai
>tuan itu sendiri.
>
>Sedikit banyak fenomena seperti ini terjadi pada
>orang-orang yang bergabung dalam Poros Tengah. Sewaktu
>Soeharto masih kuat, mereka termasuk para pendukung
>Soeharto (banyak dari mereka yang bergabung juga dalam
>ICMI, yang didirikan oleh anak emas Soeharto, Habibie.
>Selain itu Soeharto juga termasuk Ketua Kehormatan di
>sana). Setelah Soeharto rapuh, mereka berbalik
>ikut-ikutan menghantamnya, mengecam dan mengcemoohnya,
>dan berpindah kepada tuan mereka yang baru, yakni
>Habibie. Bahkan bukan tak mungkin skenario jatuhnya
>Soeharto, tidak lepas dari rekayasa mereka itu juga
>yang diam-diam berkhianat dan menusuknya dari
>belakang.
>
>Kasus Hamzah Haz
>-----------------------
>Sampai saat-saat akhir pemilihan presiden dalam Sidang
>Umum MPR, tokoh-tokoh Poros Tengah, seperti Hamzah Haz
>dan Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa mereka tetap
>berpegang pada prinsip untuk tetap mendukung Habibie
>sebagai capres (Jawa Pos, Sabtu, 2 Oktober 1999).
>Namun, ketika posisi Habibie sudah sedemikian
>terpuruk, dengan cepat mereka pun meninggalkannya, dan
>buru-buru menyeberang kepada �calon cadangan� mereka
>yang sudah disiapkan sebelumnya oleh bos mereka (Amien
>Rais), yaitu Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. Ketika
>Gus Dur menjadi presiden, dan mencopot Hamzah Haz
>sebagai Menko Kesra dan Taskin, dengan tak punya malu
>mereka mencak-mencak, mengata-ngatai bahwa Gus Dur
>telah mengkhianati kelompok mereka. Mengatakan bahwa
>Gus Dur telah lupa jasa besar Hamzah Haz yang telah
>berjasa mengangkat Gus Dur sebagai presiden. Tanpa mau
>tahu bahwa apa yang menjadi latar belakang keputusan
>Gus Dur itu.
>
>Di atas saya menyebutkan �calon cadangan mereka,�
>dengan alasan bahwa ada kecurigaan kalau Gus Dur
>memang merupakan calon cadangan dalam artian bahwa
>sebenarnya mereka tidak tulus dalam pencalonannya itu,
>mereka semua mempunyai calon sebenarnya yang utama
>adalah Habibie, mantan bos mereka di ICMI, yang tetap
>bersekutu dengan mereka. Tetapi, karena melihat
>persaingan yang ketat antara Habibie dengan Megawati,
>dengan kemungkinan Habibie kalah karena semakin lama
>posisinya semakin lemah dengan berbagai skandal. Maka,
>mereka mempersiapkan calon cadangan tersebut, yang
>mereka tahu dari segi kesehatan fisik sebenarnya
>kurang layak menjadi presiden dan mungkin kelak
>gampang dikendalikan. Lebih baik lagi, setelah
>berhasil mendudukkan Gus Dur sebagai presiden, mereka
>juga berhasil meloloskan calon wakil presiden dari
>kubu mereka. Dengan harapan karena kondisi
>kesehatannya, kelak Gus Dur tidak akan mampu bertahan
>sampai habis masa jabatannya pada 2004, dan diganti
>dengan wakil presiden dari kubu mereka itu. Namun,
>skenario yang terakhir ini agak lemah, karena
>popularitas calon-calon seperti Yusril dan Hamzah
>kalah jauh dengan Megawati. Maka itu Poros Tengah
>melontarkan ide yang nyata-nyata bertentangan dengan
>UUD 1945, yakni agar wakil presiden lebih dari satu,
>dan mereka sudah mempersiapkan Akbar Tandjung, Hamzah
>Haz, dan Wiranto.
>
>Adalah suatu keputusan yang tepat ketika Akbar
>(Golkar), dan Wiranto (TNI) memutuskan mengundurkan
>diri dari pencalonan tersebut. Kalau mereka tetap
>ngotot dengan pencalonan tersebut selain kemungkinan
>besar kalah, juga reputasi politik mereka bisa hancur.
>Karena dianggap terlalu rakus kekuasaan dan menentang
>aspirasi rakyat. Dengan mengundurkan diri sekarang,
>lebih ada peluang bagi mereka untuk memperbaiki citra
>dalam dunia politik di mada mendatang. Lepas dari
>apakah itu kelak berhasil atau tidak.
>
>Untuk posisi presiden, sasarannya waktu itu, yang
>penting Mega tidak boleh lolos. Karena apabila Mega
>lolos, program-program dan gerakan-gerakan mereka yang
>begitu leluasa di era Soeharto akan sangat terancam.
>Dipakailah sentimen agama dan gender untuk menghantam
>posisi Mega. Gus Dur merupakan pilihan satu-satunya
>untuk melawan Megawati, dengan harapan karena dari
>segi kesehatan fisik Gus Dur lemah, maka lebih gampang
>untuk bisa diatur kemudian, juga Gus Dur lebih
>toleran.
>
>Skenario mereka agak rusak ketika ternyata yang
>terpilih sebagai wakil presiden malah Megawati. Adalah
>omong kosong ketika dua tokoh Poros Tengah, Zarkasih
>Nur dari PPP dan Nur Mahmudi dari Partai Keadilan,
>menjelang pemilihan wakil presiden, berkata di
>detik.com bahwa Poros Tengah bukan orang-orang
>serakah, karena Amien Rais sudah berhasil duduk
>sebagai Ketua MPR dan jago mereka, Gus Dur, sudah
>terpilih sebagai presiden, maka mereka akan turut
>mendukung Megawati sebagai calon wakil presiden
>(detik.com 20 Oktober 1999). Nyatanya dari jumlah
>perolehan suara waktu itu, yakni 396 untuk Megawati,
>284 untuk Hamzah Haz, dan 5 suara abstain, terlihat
>bahwa yang memberi suara kepada Hamzah masih cukup
>besar. Dari mana lagi kalau bukan dari kelompok Poros
>Tengah? Ini menunjukkan betapa sedemikian rakusnya
>kelompok ini terhadap kekuasaan.
>
>Ada sementara orang yang sebenarnya rakus akan
>sesuatu, tetapi dia mencoba mengendalikan diri sebelum
>memperolehnya. Maka dari luar kelihatan dia
>biasa-biasa saja. Namun, setelah ditahan sedemikian
>lama, kemudian sesuatu itu diperoleh. Maka apa yang
>diperoleh itu akan dilahap habis-habisan. Bilamana
>perlu orang lain tidak kebagian tidak perduli apakah
>orang lain itu ikut berjasa atau tidak. Dan, ketika
>ada sebagian dari sesuatu itu diambil, maka dia sudah
>telanjur kelepasan nafsunya sehingga tidak bisa
>mengendalikan dirinya untuk bersikap biasa-biasa saja
>lagi. Kali ini, dia akan mencoba merebut kembali
>secara terang-terangan dengan reaktif, atau dengan
>tanpa malu-malu minta diganti, bilamana perlu minta
>porsi yang lebih besar. Tidak mau tahu apa
>proporsional dengan pekerjaannya ataukah tidak. Yang
>penting dapat, dapat, dan dapat.
>
>Fenomena ini terlihat pada waktu Gus Dur mencopot
>Hamzah Haz sebagai Menko Kesra dan Taskin beberapa
>waktu lalu. PPP bersama kelompok Poros Tengah lainnya,
>tak kurang dari pentolannya yang bernama Amien Rais,
>mencak-mencak. Mengungkit-ungkit bahwa PPP berjasa
>besar mengangkat Gus Dur sebagai presiden, menuntut
>agar pengganti Hamzah harus dari PPP juga, dan
>kemudian malah komentar karena PPP memperoleh suara
>cukup besar dalam Pemilu lalu, dengan urutan ketiga,
>maka menteri-menteri dari PPP harus ditambah lagi!
>Komentar senada juga diberikan oleh Amien Rais, yang
>antara lain bisa dibaca di TEMPO edisi 19 Desember
>1999.
>
>Ini benar-benar salah ciri khas kelompok Poros Tengah:
>dahaga yang tak habis-habisnya terhadap kekuasaan dan
>hampir tidak punya rasa malu. Lihat saja salah satu
>menteri mereka yang juga merupakan sobat kental Amien
>Rais yang saat ini menjadi Menteri Keuangan, Bambang
>Sudibyo. Baru-baru ini dia berkomentar: politik adalah
>bagi-bagi kekuasaan!
>
>Bagaimana bisa mereka tanpa malu berkomentar seperti
>itu, bahwa karena PPP urutan tiga dalam Pemilu harus
>mendapat jatah menteri lebih banyak lagi. Lha,
>bagaimana dengan PDI Perjuangan yang malah menduduki
>nomor satu, tetapi hanya punya dua menteri di kabinet
>karena digusur oleh Amien Rais dengan beberapa
>sobatnya? Seburuk-buruknya Golkar, mereka yang berada
>pada urutan kedua Pemilu, tidak seserakah kelompok
>Poros Tengah, yang ada di antaranya menepuk dada
>sendiri dengan menamakan diri sebagai Fraksi Reformasi
>(PAN dan Partai Keadilan) itu.
>
>Saking gilanya mereka terhadap kekuasaan, mereka tidak
>bisa membaca isyarat yang diberikan oleh Gus Dur.
>Sebuah sumber mengatakan bahwa latar belakang
>keputusan Gus Dur itu adalah selain memang sudah sejak
>awal tidak cocok dengan Ketua Umum PPP itu, juga ada
>indikasi kuat terjadi korupsi dan manipulasi keuangan
>yang dilakukan Hamzah. Salah satunya adalah
>ketidakjelasan dana sebesar Rp 14 miliar yang masuk ke
>kas PPP, yang menurut beberapa sumber, berasal dari
>Habibie sebagai imbalan dukungan Hamzah dan PPP-nya
>terhadap Habibie sebagai calon presiden. Ingat pula,
>Gus Dur pernah dengan terang-terangan mengatakan bahwa
>Hamzah Haz bersama beberapa tokoh PPP terlibat dalam
>pencetakan dan peredaran uang palsu, yang akan
>digunakan untuk keperluan politik uang dalam pemilu
>1999 lalu.
>
>Gus Dur sengaja mengatakan alasan pencopotan Hamzah
>adalah karena atas permintaannya sendiri, karena masih
>diperlukan PPP, dan bukan karena terlibat korupsi,
>sebenarnya hanya untuk menghormati PPP dan tidak
>membuat malu Hamzah dan parpol tersebut. Namun, saking
>gilanya orang-orang itu terhadap kekuasaan.Mereka
>menjadi mata gelap. Begitu melihat salah satu porsi
>kekuasaan menteri lepas dari tangan mereka, mereka
>kelabakan, marah-marah, mencak-mencak, dan menyalahkan
>pihak ketiga yang menyebabkan Gus Dur melakukan
>pencopotan tersebut, dan memasalahkan penggantinya
>bukan dari PPP atau kelompok Poros Tengah lainnya
>(dalam hal ini PDI Perjuangan dituduh telah menghasut
>Gus Dur, karena dendam dengan Poros Tengah karena
>mengagalkan Mega menjadi presiden).
>
>Amien Rais, walaupun tak menyebut nama juga
>melontarkan sinyalemen tuduhan serupa. Beberapa kali
>Amien mengatakan bahwa Gus Dur memberhentikan Hamzah
>karena ada dibisiki pihak-pihak yang merasa digagalkan
>targetnya di Sidang Umum MPR tempo hari. Di antara
>mereka ada yang mengatakan bahwa mereka tidak menyebut
>nama. Tetapi, kucing pun tahu, walaupun tidak usah
>menyebut nama, yang dimaksud Amien tentu saja PDI
>Perjuangan yang memang gagal meloloskan Mega ke kursi
>presiden karena manuver Amien dan kawan-kawan. Apapun
>alasannya, pertanyaannya adalah apakah seorang Gus Dur
>sedemikian bodoh dan lemah sehingga gampang
>dipengaruhi dan disetir orang-orang yang dimaksud
>Amien dan kawan-kawannya itu?
>
>Ini sama dengan sikap Amien Rais tempo hari, ketika
>diminta konfirmasi atas tudingannya bahwa PDI
>Perjuangan telah menerima money politics dari Bank
>Lippo dalam jumlah lebih besar dari skandal Bank Bali.
>Ketika diwawancara SCTV dalam Liputan Enam, dia
>mengatakan bahwa dia tidak menyebut nama PDI
>Perjuangan. Yang disalahkan waktu itu adalah wartawan
>Harian Republika, yang menulis nama PDI Perjuangan
>padahal dia sendiri tidak menyebutkannya secara
>eksplisit begitu. Wartawan yang tentu saja tak berani
>protes karena Amien Rais juga merupakan salah satu
>pimpinan Republika. Amien waktu itu menyatakan bahwa
>ada partai besar menerima uang dari Bank Lippo dalam
>jumlah yang lebih besar daripada skandal Bank Bali.
>Jangankan kucing, kecoak pun tahu bahwa yang dimaksud
>dengan Amien bukan lain adalah PDI Perjuangan. Hanya
>ketika dia tak mampu membuktikan, dia pun mengelak
>sesuai dengan tabiatnya. Memutar lidah.
>
>Kelompok Poros Tengah ini, termasuk Amien Rais, pada
>waktu itu mengatakan mereka akan melakukan serangan
>balik, atas kejadian itu. �Jangan coba-coba mengganggu
>Poros Tengah, karena kami akan membalas!� Ancam Amien
>yang dikutip banyak media cetak waktu itu. Apakah yang
>disebut serangan balik itu berkaitan dengan mulai
>adanya manuver-manuver yang terus-menerus
>mengrong-rong Gus Dur dan Megawati lewat penggalangan
>massa, pernyataan-pernyataan, ultimatum, dan yang
>sejenis yang berkembang belakangan ini?
>
>Tetapi, seperti tabiatnya selama ini, ketika terlihat
>tudingan mereka itu terlalu lemah, dia bersilat lidah
>lagi, dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah
>mengatakan seperti itu. Katanya, yang mengatakan
>seperti itu adalah Husni Thamrin dari PPP. Ketika
>ditanya wartawan, dia mengatakan bisa saja demikian.
>�Kemudian, saya bilang, saya akan menunggu dulu
>seperti apa langkah-langkah yang ditengarai Pak Husni
>Thamrin itu. Kalau itu terbukti, kita akan melakukan
>reaksi balik yang sepandan. Tapi, sejauh ini, saya
>belum melihat indikasi itu. Yang jelas, PPP merasa
>kecewa karena mereka merasa berjasa paling besar
>andilnya dalam mengirim Gus Dur ke kursi presiden.�
>(TEMPO, 19 Desember 1999).
>
>Amien juga berkata kepada TEMPO, dia bahkan sudah
>bertemu dengan Gus Dur, dan Gus Dur mengaku dia khilaf
>soal penggantian Hamzah itu. Bahwa yang sebenarnya,
>Hamzah hanya minta klarifikasi soal menteri-menteri
>korupsi, dan Gus Dur melangkah terlalu jauh dengan
>menggantikkannya.
>
>Mungkin benar Hamzah hanya minta klarifikasi kepada
>Gus Dur, dan klarifikasi itu dijawab oleh Gur Dur
>secara langsung dalam bentuk penggantian tersebut.
>Dengan kata lain, dengan penggantian tersebut Gus Dur
>secara tersirat hendak mengatakan kepada Hamzah: �Anda
>memang bersalah.� Apalagi hubungan keduanya memang
>sudah lama tidak harmonis.
>
>Sedangkan mengenai pengakuan Amien bahwa Gus Dur
>mengaku kepadanya bahwa Gur Dur khilaf, terus terang
>saya meragukannya. Kalau benar Gus Dur mengaku khilaf,
>dalam perkembangannya kemudian, sekitar akhir Desember
>1999, dalam sebuah acara di Istana Merdeka, sewaktu
>mengulang pernyataannya soal penggantian Hamzah, tentu
>Gus Dur akan melontarkan hal tersebut. Nyatanya, Gus
>Dur malah memperkuatnya argumen keputusannya itu,
>dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya terhadap
>Hamzah sudah benar, karena Hamzah masih dibutuhkan
>oleh PPP sebagai Ketua Umum. Gur Dur sama sekali tidak
>mengatakan dia telah berbuat kekeliruan tentang itu.
>
>Orasi Amien Rais
>---------------------
>
>Ini serupa dengan perkembangan atas reaksi keras Gus
>Dur atas Aksi Sejuta Umat yang juga disponsori oleh
>tokoh-tokoh Poros Tengah, tak kecuali Amien Rais, di
>Lapangan Monas, Jakarta, 7 Januari 2000 lalu. Ketika
>kelompok Islam fundamentalis itu mengira akan berhasil
>menggertak Gus Dur, tetapi malah nyalinya menjadi ciut
>ketika digertak balik oleh Gus Dur. Amien Rais yang
>nyata-nyata telah memberi orasi-orasi bertendensi
>provokatif, memanas-manasi massa, dan memberi
>ultimatum kepada Gus Dur, menyangkal atas apa yang
>sudah diperbuat oleh dia dan kawan-kawannya itu.
>Kemudian lagi-lagi menuding pihak ketiga sebagai
>kambing hitam, yang sengaja membisiki secara salah apa
>yang telah dilakukan Aksi Sejuta Umat itu, dengan
>maksud mengadu domba Gur Dur dengan Amien Rais plus
>Poros Tengah.
>
>Seperti dalam kejadian penggantian Hamzah sebagai
>Menko Kesra dan Taskin, Amien pun selain menyangkal
>apa yang sudah keluar dari mulutnya sendiri, dia
>berkata kepada wartawan bahwa setelah ada reaksi balik
>dari Gus Dur yang salah sasaran itu, dia sudah
>menelepon Gus Dur untuk mengatakan hal yang sebenarnya
>terjadi, dan Gus sudah bisa memakluminya.
>Kenyataannya? Saya curiga, Amien Rais bohong.
>
>Kalau benar demikian kejadiannya (Gus Dur sudah
>memahaminya), dalam acara malam Baku Dapa masyarakat
>Maluku se-Jabotabek, 15 Januari 2000 lalu, Gus Dur
>tidak ada mengeluarkan pernyataan, seperti yang sudah
>kita dengar sendiri dalam siaran langsung televisi,
>atau membacanya di koran. Waktu itu dia berkata bahwa
>selama ini pemerintah sudah banyak bersabar terhadap
>tangan-tangan jahat di Maluku dan berbagai daerah
>lain. Demikian juga terhadap pihak-pihak yang
>terus-menerus memojokkkan dan mencacinya, dia sudah
>banyak sabar, tetapi kesabaran itu ada batasnya juga.
>Kesabaran itu sudah mulai habis. Kalau kesabaran
>pemerintah sudah habis, maka akan diambil tindakan
>tegas, termasuk kepada kawan-kawan yang tidak juga mau
>sadar, atau kepada siapapun. Bisa jadi, yang dimaksud
>dengan �kawan-kawan� itu adalah Amien Rais cs itu.
>
>Dalam orasinya yang sangat bertendensi memanas-manasi
>massa dan provokatif dalam Aksi Sejuta Umat itu,
>memang sangat kental dengan unsur-unsur Islam
>fundamentalis dengan menekankan kepada massa bahwa apa
>yang terjadi di Ambon dan Maluku, dan Halmahera selama
>ini adalah memang perang agama, dan oleh karena itu
>wajar umat Islam pergi berperang jihad di sana.
>Disertai dengan memberi ultimatum kepada pemerintah
>dalam tempo satu-dua minggu sudah harus bisa
>menyelesaikan kasus Ambon (yang disebut sebagai
>�pembantaian/pembasmian umat Islam�).
>
>Amien antara lain berorasi bahwa pemerintah harus
>segera menghentikan pembasmian umat Islam di Maluku
>dan Halmahera dalam tempo satu sampai dua minggu. Jika
>tidak, umat Islam akan mengambil-alih persoalan
>tersebut. Jangan salahkan umat Islam kalau sampai
>begitu. Dan, wajar, kalau umat Islam murka atas
>ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan kasus
>pembasmian umat Islam di Maluku dan Halmahera itu!
>Jelas, orasi ini memang sangat provokatif di
>tengah-tengah massa yang penuh emosional seperti
>sekarang.
>
>Padahal, yang terjadi di sana sebenarnya bukan perang
>agama, tetapi akibat dari mempergunakan agama sebagai
>senjata politik. Atau, menggunakan agama untuk
>membenarkan perilaku-perilaku iblis di sana. Tidak ada
>orang yang benar-benar beragama yang berperilaku
>biadab seperti itu. Penggunaan idiom-idiom �pembasmian
>umat Islam� dan sejenisnya adalah tidak tidak tepat,
>karena yang terjadi di sana ada suatu �perang� yang
>mengorban banyak korban jiwa di kedua pihak di sana.
>Penggunaan idiom-idiom seperti itu, termasuk � kalau
>ada � istilah �pembasmian umat Kristen� dan sejenis,
>hanya semakin membakar emosi dan membuat darah semakin
>mendidih bagi orang-orang yang mendengarnya dan
>kurang bisa menggunakan nalarnya.
>
>Kata-kata Amien seperti, �Jangan salahkan kalau umat
>Islam murka dan mengambilalih penyelesaian dari tangan
>pemerintah� seolah-olah sebagai pembenaran terjadinya
>kerusuhan-kerusuhansusulan akibat aksi �balas dendam.�
>Atau, lebih jauh dari itu: diam-diam itu merupakan
>sinyal rahasia agar umat Islam di lain tempat
>melakukan aksi-aksi balas dendam dengan kekerasan di
>daerah-daerah lain di luar Maluku dan Halmahera,
>seperti yang sudah terjadi di Mataram dan Makassar.
>
>Ketika Mataram dan Makassar rusuh, Amien seolah-olah
>merasa benar dan bangga, dengan beberapakali
>mengeluarkan pernyataan lagi bahwa apa yang
>dikhawatirkan kini sudah terbukti, yakni karena
>pemerintah tidak mampu menyelesaikan kasus Maluku dan
>Halmahera, akhirnya kerusuhan menjalar ke daerah lain.
>Padahal, seharusnya dia merasa prihatin, karena secara
>langsung, maupun tidak, kerusuhan yang terjadi di
>Mataram dan Makassar itu, merupakan tanggung jawabnya
>juga. Karena, bukankah dia telah berorasi dengan
>mengirim sinyal pembenaran agar umat Islam melakukan
>balas dendam? Bukahkah dia berkata, �Jangan salahkan
>umat Islam, kalau mengambilalih penyelasian kasus
>Ambon (dengan caranya sendiri)?�
>
>Maka, saya sepakat dengan apa yang dinyatakan Ketua
>Umum PKB Matori Abdul Djalil bahwa secara moral Amien
>bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan di
>Mataram, dan bahwa secara moral Amien dapat
>dikategorikan sebagai provokator kerusuhan!
>(detik.com, 20 Januari 2000).
>
>Sekarang, orang ini sedang bermetamorfosis lagi
>menjadi negarawan nan bijak, dengan menyerukan kepada
>publik agar jangan melakukan aksi-aksi pengumpulan
>massa, karena, katanya, bisa menimbulkan kerusuhan.
>
>Kenyataannya, menurut detik.com (21 Januari 2000),
>aksi pengumpulan massa akan tetap dilakukan di Jumat,
>21 Januari ini dalam rangka memperingati setahun
>Tragedi Ambon, dengan garansi tidak akan ada kerusuhan
>(tulisan ini dibuat sampai pukul 00.30 21 Januari
>2000) di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Pemrakarsanya
>adalah orang PAN (Amien Rais) juga, yang salah satu
>Ketua DPP PAN, yaitu A.M. Fatwa. Bisa jadi di mulut
>Amien keluar kata-kata bijak, tetapi dalam praktek
>meminjam tangan orang lain (orangnya) untuk tetap
>menggalang kekuatan massa yang tak lepas dari
>unsur-unsur politis.
>
>
>
>____________________________________________________________________
>Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
------------------------------------------------------------
Happy New Millenium from the staff at DCEmail.com
http://www.dcemail.com - FREE Email for the Community