Hebat juga prasangka-prasangka anda, atau  siapa pun yang mempunyai
prasangka-prasangka ini. Ayo dong teruskan bukti-bukti ini kepada yang
berwajib atau ini hanya sekedar suara ember bocor lainnya dari sekian
suara-suara ember bocor yang bergema.

Kalau boleh tahu menurut anda siapa sih tokoh ideal yang sesuai untuk
Indonesia saat ini dan apa alasannya, supaya saya atau rekan-rekan lain
barangkali juga ingin tahu?

Semoga Hidayah Allah selalu dicurahkan bagi pemimpin-pemimpin Indonesia, dan
sesuai dengan amanah Allah membawa bangsa kejalan yang benar. Semoga Allah
menjadikan korban-korban yang berjatuhan sebagai asbab bagi tegaknya
kebenaran. Sesungguhnya doa-doa orang yang teraniaya amat dekat kepada
Allah. Marilah kita banyak-banyak beristiqfar. Kepada Allah jualah kemabli
kita semua, maka takutlah hanya kepada Allah. Maha Suci Allah yang
mendekatkan dan menjauhkan dan tiada sesuatu apapun yang terjadi tanpa izin
dari-Nya. Berpegang teguhlah pada tali Allah dan janganlah bercerai berai.

Wassalam,
Agus

Mardhika Wisesa wrote:

> Ini dia, oleh-oleh lengkap dari saudara Lion di Indopubs,
> Mungkin saja rekan-rekan di permias belum pernah membacanya,
> khususnya bagi Anjasmara dan CS.
>
> Date: Wed, 19 Jan 2000
> Subject: LION - Membuka Amien Rais & Tabir Poros Tengah (1)
> To: [EMAIL PROTECTED]
>
> =====================Semakin lama semakin kelihatan
> siapa sebenarnya Amien Rais bersama dengan kelompok
> Poros Tengahnya. Amien Rais dan kelompok Poros
> Tengahnya itu tidak lain merupakan sekelompok
> politikus yang kekanak-kanakan, hipokrit, oportunis,
> haus kekuasaan (yang tak kunjung tercapai),
> fundamentalis, radikalis, dikombinasi dengan sikap
> yang tidak ksatria dan tidak tahu malu. Apabila mereka
> terdesak, atau berhadapan dengan kekuatan yang lebih
> kuat daripada mereka, mereka cenderung berbalik arah,
> menyangkal apa yang telah dilakukannya, dan
> mengkambinghitamkan pihak ketiga.
>
> Mereka juga berpolitik gaya rezim Soeharto, yakni
> mengalihperhatiankan publik ke pihak ketiga, dengan
> menuduh pihak ketiga itu melakukan hal-hal yang
> sebenarnya justru merekalah yang melakukannya. Seperti
> Soeharto, yang senantiasa melakukan rekayasa dan
> penciptaan kondisi imaji masyarakat umum agar selalu
> mempunyai perspektif buruk kepada etnis Tionghoa
> sebagai binatang ekonomi yang serakah dan perusak
> ekonomi negara, sementara penyebab utama rusaknya
> ekonomi rakyat justru penanggung jawab utamanya adalah
> pihaknya sendiri beserta keluarga dan para kroninya
> (yang di dalamnya ada juga beberapa pengusaha etnis
> Tionghoa bermental penjilat). Ketika ekonomi negara
> terguncang, maka bukan dia yang disalahkan dan
> dijadikan sasaran kemarahan rakyat, tetapi senantiasa
> etnis Tionghoa itu.
>
> Demikian juga yang mirip-mirip yang dilakukan oleh
> kelompok Poros Tengah ini. Mereka menuduh pihak
> ketiga, yakni PDI Perjuangan bermaksud membiarkan dan
> mengharapkan Presiden Gus Dur jatuh sakit sampai tidak
> bisa menjalankan kekuasaannya sehingga diambilalih
> oleh Megawati beserta PDI Perjuangannya, tetapi yang
> sebenarnya merekalah yang sedang bergerilya demikian.
> Indikasinya adalah manuver-manuver dan
> fenomena-fenomena yang dilakukan oleh kelompok mereka
> itu, yang akan saya ulas dalam posting kali ini.
> Bahkan skenario ini sudah mereka rancang sejak mereka
> memutuskan mencalonkan Gus Dur sebagai presiden,
> setelah jagoan mereka B.J. Habibie keok.
>
> Amien Rais bersama kelompok Poros Tengahnya itu,
> ibarat sekelompok serigala berbulu domba. Pada awalnya
> mereka bisa bermain cukup baik sebagai domba-domba.
> Tetapi ketika, semakin lama ambisi tersembunyi mereka
> tak kunjung tercapai, mereka sudah mulai tidak
> sabaran, dan mulai bermain kasar, sehingga tanpa sadar
> kelihatanlah apa yang ada di balik bulu domba yang
> mereka kenakan itu. Akhir-akhir ini manuver-manuver
> mereka semakin lama secara tidak sadar malah
> menelanjangi jati diri mereka sebenarnya yang begitu
> dahaga terhadap kekuasaan, yang tak kunjung dicapai.
> Mereka tidak hanya haus kekuasaan, tetapi juga
> mempunyai ambisi untuk mendirikan suatu negara
> berasaskan Islam. Untuk itu mereka bisa menghalalkan
> segala cara, termasuk melakukan langkah-langkah
> kompromis dan kongkalikong dengan pihak-pihak yang di
> atas permukaan saja kelihatannya mereka musuhi.
> Tetapi, di belakangnya mereka rangkul dan diajak
> kerjasama demi tujuan tersebut, baik secara
> terang-terangan maupun terselubung: Golkar dan TNI.
>
> Kita masih ingat, kelompok ini, termasuk pentolannya,
> Amien Rais, tempo hari adalah paling nomor satu
> menghujat Golkar dan TNI. Terutama menjelang Pemilu
> lalu. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Merekalah yang
> pertama kali merangkul Golkar dalam Sidang Umum MPR
> lalu, dan sekarang mereka malah menjadi pembela
> jenderal-jenderal TNI yang dulu termasuk paling
> dihujat (terutama Wiranto). Ketika jenderal-jenderal
> tersebut hendak diperiksa atas kecurigaan keterkaitan
> mereka dalam pelanggaran-pelanggaran HAM di Timor
> Timur, kelompok ini termasuk yang melakukan pembelaan
> dan malah balik mengecam Komnas HAM yang dinilai
> berlebihan, prejudice, diskriminasi, dan sebagainya.
> Begitu juga dengan kecurigaan adanya unsur-unsur
> tertentu dalam TNI (bukan TNI sebagai lembaga) yang
> hendak melakukan kudeta, Amien Rais tiba-tiba berdiri
> di tengah-tengah membela Wiranto cs yang memang paling
> dicurigai akan melakukan demikian. Dengan lagi-lagi
> menuding pihak ketiga (kali ini Amerika Serikat) yang
> hendak memperkeruh suasana, hendak memecah-belah
> Indonesia, tudingan tanpa dasar, mengadudomba,
> pemerintah yang paranoid, dan sebagainya.
>
> Sejak Semula Meragukan
>
> Sejak semula saya sudah meragukan sikap-sikap yang
> dipamerkan Amien Rais sebagai sosok reformis,
> demokratis, dan nasionalis seperti yang sering
> dikumandangkan oleh dirinya sendiri, maupun media
> massa Indonesia. Kalau Anda mengikuti posting-posting
> saya tentang Amien Rais di milis ini (sejak 1997),
> betapa akan terlihat bahwa apa yang saya ulas tentang
> sosok Amien Rais itu kini menjadi kenyataan. Bahwa
> Amien Rais tidak ada bedanya dengan tokoh-tokoh
> semacam Hamzah Haz, Achmad Sumargono, Eggy Sudjana,
> Yusril Ihza Mahendra, dan lain-lain. Mereka adalah
> tokoh-tokoh Islam fundamentalis, radikal, antiKristen,
> antiYahudi, antiAmerika Serikat, termasuk antiCina.
> Kelebihan dari Amien Rais adalah dia rupanya lebih
> pandai menutup rapat bulu domba yang dikenakan
> ketimbang rekan-rekannya yang lain.
>
> Bagaimana bisa seorang yang sejak semula dikenal
> sebagai fundamentalis, radikalis, antiKristen,
> antiYahudi, antiAmerika Serikat itu bisa sedemikian
> mendadak, sim salabim, berubah menjadi tokoh yang
> reformis, demokratis, nasionalis? Yang tiba-tiba, --
> bahkan lebih ajaib daripada lampu aladin -- berubah
> menjadi tokoh yang bersahabat, merangkul, dan
> mengayomi pihak-pihak yang tadinya begitu diantinya?
> Sama halnya dengan perilakunya yang dulu termasuk
> dekat dengan Soeharto bersama ICMI-nya, secara
> mendadak berubah menjadi vokalis dan penantang
> Soeharto. Tak heran Soeharto begitu membencinya. Tak
> ada orang yang begitu dibenci seseorang, selain jika
> ada sahabatnya yang tiba-tiba mengkhianatinya.
>
> Dalam sebuah legenda klasik Djengis Khan, ada sebuah
> cerita tentang seorang prajurit dari kerajaan Cina
> yang berkhianat terhadap negaranya, sehingga
> memungkinkan Djengis Khan berhasil menghancurkan
> pasukan dari kerajaan Cina tersebut. Ketika menghadap
> sang Khan untuk meminta imbalannya, sang Khan
> memberikannya sejumlah hadiah dan jabatan tinggi dalam
> jajaran pasukannya, dan kemudian berkata kepadanya:
> �Engkau seorang prajurit yang licik dan berbahaya,
> dengan mudah engkau berkhianat terhadap Rajamu untuk
> memperoleh semua imbalan ini. Maka, bukan tak mungkin
> kelak engkau akan dengan mudah berkhianat kepada aku
> juga!� Kemudian sang Khan memerintahkan algojonya
> untuk memenggal kepala sang pengkhianat itu!
>
> Ilustrasi di atas mencerminkan tentang berbahayanya
> mentalitas dari orang-orang yang begitu mudah berubah
> sikap dari pendukung menjadi penentang, dari orang
> dekat (sahabat) menjadi pengkhianat. Ini merupakan
> mental dari orang-orang yang disebut oportunis sejati.
> Meraka tak akan segan-segan untuk meninggalkan tuannya
> untuk mendukung tuannya yang baru yang dirasakan akan
> lebih menguntungkan. Nanti kalau tuan yang baru itu
> dalam posisi yang tak menguntungkan, maka akan dengan
> mudah juga ditinggalkan dan dikhianati untuk beralih
> ke tuan yang lain lagi. Atau malah berkhianat demi
> ambisinya sendiri untuk menjadikan dirinya sebagai
> tuan itu sendiri.
>
> Sedikit banyak fenomena seperti ini terjadi pada
> orang-orang yang bergabung dalam Poros Tengah. Sewaktu
> Soeharto masih kuat, mereka termasuk para pendukung
> Soeharto (banyak dari mereka yang bergabung juga dalam
> ICMI, yang didirikan oleh anak emas Soeharto, Habibie.
> Selain itu Soeharto juga termasuk Ketua Kehormatan di
> sana). Setelah Soeharto rapuh, mereka berbalik
> ikut-ikutan menghantamnya, mengecam dan mengcemoohnya,
> dan berpindah kepada tuan mereka yang baru, yakni
> Habibie. Bahkan bukan tak mungkin skenario jatuhnya
> Soeharto, tidak lepas dari rekayasa mereka itu juga
> yang diam-diam berkhianat dan menusuknya dari
> belakang.
>
> Kasus Hamzah Haz
> -----------------------
> Sampai saat-saat akhir pemilihan presiden dalam Sidang
> Umum MPR, tokoh-tokoh Poros Tengah, seperti Hamzah Haz
> dan Yusril Ihza Mahendra mengatakan bahwa mereka tetap
> berpegang pada prinsip untuk tetap mendukung Habibie
> sebagai capres (Jawa Pos, Sabtu, 2 Oktober 1999).
> Namun, ketika posisi Habibie sudah sedemikian
> terpuruk, dengan cepat mereka pun meninggalkannya, dan
> buru-buru menyeberang kepada �calon cadangan� mereka
> yang sudah disiapkan sebelumnya oleh bos mereka (Amien
> Rais), yaitu Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. Ketika
> Gus Dur menjadi presiden, dan mencopot Hamzah Haz
> sebagai Menko Kesra dan Taskin, dengan tak punya malu
> mereka mencak-mencak, mengata-ngatai bahwa Gus Dur
> telah mengkhianati kelompok mereka. Mengatakan bahwa
> Gus Dur telah lupa jasa besar Hamzah Haz yang telah
> berjasa mengangkat Gus Dur sebagai presiden. Tanpa mau
> tahu bahwa apa yang menjadi latar belakang keputusan
> Gus Dur itu.
>
> Di atas saya menyebutkan �calon cadangan mereka,�
> dengan alasan bahwa ada kecurigaan kalau Gus Dur
> memang merupakan calon cadangan dalam artian bahwa
> sebenarnya mereka tidak tulus dalam pencalonannya itu,
> mereka semua mempunyai calon sebenarnya yang utama
> adalah Habibie, mantan bos mereka di ICMI, yang tetap
> bersekutu dengan mereka. Tetapi, karena melihat
> persaingan yang ketat antara Habibie dengan Megawati,
> dengan kemungkinan Habibie kalah karena semakin lama
> posisinya semakin lemah dengan berbagai skandal. Maka,
> mereka mempersiapkan calon cadangan tersebut, yang
> mereka tahu dari segi kesehatan fisik sebenarnya
> kurang layak menjadi presiden dan mungkin kelak
> gampang dikendalikan. Lebih baik lagi, setelah
> berhasil mendudukkan Gus Dur sebagai presiden, mereka
> juga berhasil meloloskan calon wakil presiden dari
> kubu mereka. Dengan harapan karena kondisi
> kesehatannya, kelak Gus Dur tidak akan mampu bertahan
> sampai habis masa jabatannya pada 2004, dan diganti
> dengan wakil presiden dari kubu mereka itu. Namun,
> skenario yang terakhir ini agak lemah, karena
> popularitas calon-calon seperti Yusril dan Hamzah
> kalah jauh dengan Megawati. Maka itu Poros Tengah
> melontarkan ide yang nyata-nyata bertentangan dengan
> UUD 1945, yakni agar wakil presiden lebih dari satu,
> dan mereka sudah mempersiapkan Akbar Tandjung, Hamzah
> Haz, dan Wiranto.
>
> Adalah suatu keputusan yang tepat ketika Akbar
> (Golkar), dan Wiranto (TNI) memutuskan mengundurkan
> diri dari pencalonan tersebut. Kalau mereka tetap
> ngotot dengan pencalonan tersebut selain kemungkinan
> besar kalah, juga reputasi politik mereka bisa hancur.
> Karena dianggap terlalu rakus kekuasaan dan menentang
> aspirasi rakyat. Dengan mengundurkan diri sekarang,
> lebih ada peluang bagi mereka untuk memperbaiki citra
> dalam dunia politik di mada mendatang. Lepas dari
> apakah itu kelak berhasil atau tidak.
>
> Untuk posisi presiden, sasarannya waktu itu, yang
> penting Mega tidak boleh lolos. Karena apabila Mega
> lolos, program-program dan gerakan-gerakan mereka yang
> begitu leluasa di era Soeharto akan sangat terancam.
> Dipakailah sentimen agama dan gender untuk menghantam
> posisi Mega. Gus Dur merupakan pilihan satu-satunya
> untuk melawan Megawati, dengan harapan karena dari
> segi kesehatan fisik Gus Dur lemah, maka lebih gampang
> untuk bisa diatur kemudian, juga Gus Dur lebih
> toleran.
>
> Skenario mereka agak rusak ketika ternyata yang
> terpilih sebagai wakil presiden malah Megawati. Adalah
> omong kosong ketika dua tokoh Poros Tengah, Zarkasih
> Nur dari PPP dan Nur Mahmudi dari Partai Keadilan,
> menjelang pemilihan wakil presiden, berkata di
> detik.com bahwa Poros Tengah bukan orang-orang
> serakah, karena Amien Rais sudah berhasil duduk
> sebagai Ketua MPR dan jago mereka, Gus Dur, sudah
> terpilih sebagai presiden, maka mereka akan turut
> mendukung Megawati sebagai calon wakil presiden
> (detik.com 20 Oktober 1999). Nyatanya dari jumlah
> perolehan suara waktu itu, yakni 396 untuk Megawati,
> 284 untuk Hamzah Haz, dan 5 suara abstain, terlihat
> bahwa yang memberi suara kepada Hamzah masih cukup
> besar. Dari mana lagi kalau bukan dari kelompok Poros
> Tengah? Ini menunjukkan betapa sedemikian rakusnya
> kelompok ini terhadap kekuasaan.
>
> Ada sementara orang yang sebenarnya rakus akan
> sesuatu, tetapi dia mencoba mengendalikan diri sebelum
> memperolehnya. Maka dari luar kelihatan dia
> biasa-biasa saja. Namun, setelah ditahan sedemikian
> lama, kemudian sesuatu itu diperoleh. Maka apa yang
> diperoleh itu akan dilahap habis-habisan. Bilamana
> perlu orang lain tidak kebagian tidak perduli apakah
> orang lain itu ikut berjasa atau tidak. Dan, ketika
> ada sebagian dari sesuatu itu diambil, maka dia sudah
> telanjur kelepasan nafsunya sehingga tidak bisa
> mengendalikan dirinya untuk bersikap biasa-biasa saja
> lagi. Kali ini, dia akan mencoba merebut kembali
> secara terang-terangan dengan reaktif, atau dengan
> tanpa malu-malu minta diganti, bilamana perlu minta
> porsi yang lebih besar. Tidak mau tahu apa
> proporsional dengan pekerjaannya ataukah tidak. Yang
> penting dapat, dapat, dan dapat.
>
> Fenomena ini terlihat pada waktu Gus Dur mencopot
> Hamzah Haz sebagai Menko Kesra dan Taskin beberapa
> waktu lalu. PPP bersama kelompok Poros Tengah lainnya,
> tak kurang dari pentolannya yang bernama Amien Rais,
> mencak-mencak. Mengungkit-ungkit bahwa PPP berjasa
> besar mengangkat Gus Dur sebagai presiden, menuntut
> agar pengganti Hamzah harus dari PPP juga, dan
> kemudian malah komentar karena PPP memperoleh suara
> cukup besar dalam Pemilu lalu, dengan urutan ketiga,
> maka menteri-menteri dari PPP harus ditambah lagi!
> Komentar senada juga diberikan oleh Amien Rais, yang
> antara lain bisa dibaca di TEMPO edisi 19 Desember
> 1999.
>
> Ini benar-benar salah ciri khas kelompok Poros Tengah:
> dahaga yang tak habis-habisnya terhadap kekuasaan dan
> hampir tidak punya rasa malu. Lihat saja salah satu
> menteri mereka yang juga merupakan sobat kental Amien
> Rais yang saat ini menjadi Menteri Keuangan, Bambang
> Sudibyo. Baru-baru ini dia berkomentar: politik adalah
> bagi-bagi kekuasaan!
>
> Bagaimana bisa mereka tanpa malu berkomentar seperti
> itu, bahwa karena PPP urutan tiga dalam Pemilu harus
> mendapat jatah menteri lebih banyak lagi. Lha,
> bagaimana dengan PDI Perjuangan yang malah menduduki
> nomor satu, tetapi hanya punya dua menteri di kabinet
> karena digusur oleh Amien Rais dengan beberapa
> sobatnya? Seburuk-buruknya Golkar, mereka yang berada
> pada urutan kedua Pemilu, tidak seserakah kelompok
> Poros Tengah, yang ada di antaranya menepuk dada
> sendiri dengan menamakan diri sebagai Fraksi Reformasi
> (PAN dan Partai Keadilan) itu.
>
> Saking gilanya mereka terhadap kekuasaan, mereka tidak
> bisa membaca isyarat yang diberikan oleh Gus Dur.
> Sebuah sumber mengatakan bahwa latar belakang
> keputusan Gus Dur itu adalah selain memang sudah sejak
> awal tidak cocok dengan Ketua Umum PPP itu, juga ada
> indikasi kuat terjadi korupsi dan manipulasi keuangan
> yang dilakukan Hamzah. Salah satunya adalah
> ketidakjelasan dana sebesar Rp 14 miliar yang masuk ke
> kas PPP, yang menurut beberapa sumber, berasal dari
> Habibie sebagai imbalan dukungan Hamzah dan PPP-nya
> terhadap Habibie sebagai calon presiden. Ingat pula,
> Gus Dur pernah dengan terang-terangan mengatakan bahwa
> Hamzah Haz bersama beberapa tokoh PPP terlibat dalam
> pencetakan dan peredaran uang palsu, yang akan
> digunakan untuk keperluan politik uang dalam pemilu
> 1999 lalu.
>
> Gus Dur sengaja mengatakan alasan pencopotan Hamzah
> adalah karena atas permintaannya sendiri, karena masih
> diperlukan PPP, dan bukan karena terlibat korupsi,
> sebenarnya hanya untuk menghormati PPP dan tidak
> membuat malu Hamzah dan parpol tersebut. Namun, saking
> gilanya orang-orang itu terhadap kekuasaan.Mereka
> menjadi mata gelap. Begitu melihat salah satu porsi
> kekuasaan menteri lepas dari tangan mereka, mereka
> kelabakan, marah-marah, mencak-mencak, dan menyalahkan
> pihak ketiga yang menyebabkan Gus Dur melakukan
> pencopotan tersebut, dan memasalahkan penggantinya
> bukan dari PPP atau kelompok Poros Tengah lainnya
> (dalam hal ini PDI Perjuangan dituduh telah menghasut
> Gus Dur, karena dendam dengan Poros Tengah karena
> mengagalkan Mega menjadi presiden).
>
> Amien Rais, walaupun tak menyebut nama juga
> melontarkan sinyalemen tuduhan serupa. Beberapa kali
> Amien mengatakan bahwa Gus Dur memberhentikan Hamzah
> karena ada dibisiki pihak-pihak yang merasa digagalkan
> targetnya di Sidang Umum MPR tempo hari. Di antara
> mereka ada yang mengatakan bahwa mereka tidak menyebut
> nama. Tetapi, kucing pun tahu, walaupun tidak usah
> menyebut nama, yang dimaksud Amien tentu saja PDI
> Perjuangan yang memang gagal meloloskan Mega ke kursi
> presiden karena manuver Amien dan kawan-kawan. Apapun
> alasannya, pertanyaannya adalah apakah seorang Gus Dur
> sedemikian bodoh dan lemah sehingga gampang
> dipengaruhi dan disetir orang-orang yang dimaksud
> Amien dan kawan-kawannya itu?
>
> Ini sama dengan sikap Amien Rais tempo hari, ketika
> diminta konfirmasi atas tudingannya bahwa PDI
> Perjuangan telah menerima money politics dari Bank
> Lippo dalam jumlah lebih besar dari skandal Bank Bali.
> Ketika diwawancara SCTV dalam Liputan Enam, dia
> mengatakan bahwa dia tidak menyebut nama PDI
> Perjuangan. Yang disalahkan waktu itu adalah wartawan
> Harian Republika, yang menulis nama PDI Perjuangan
> padahal dia sendiri tidak menyebutkannya secara
> eksplisit begitu. Wartawan yang tentu saja tak berani
> protes karena Amien Rais juga merupakan salah satu
> pimpinan Republika. Amien waktu itu menyatakan bahwa
> ada partai besar menerima uang dari Bank Lippo dalam
> jumlah yang lebih besar daripada skandal Bank Bali.
> Jangankan kucing, kecoak pun tahu bahwa yang dimaksud
> dengan Amien bukan lain adalah PDI Perjuangan. Hanya
> ketika dia tak mampu membuktikan, dia pun mengelak
> sesuai dengan tabiatnya. Memutar lidah.
>
> Kelompok Poros Tengah ini, termasuk Amien Rais, pada
> waktu itu mengatakan mereka akan melakukan serangan
> balik, atas kejadian itu. �Jangan coba-coba mengganggu
> Poros Tengah, karena kami akan membalas!� Ancam Amien
> yang dikutip banyak media cetak waktu itu. Apakah yang
> disebut serangan balik itu berkaitan dengan mulai
> adanya manuver-manuver yang terus-menerus
> mengrong-rong Gus Dur dan Megawati lewat penggalangan
> massa, pernyataan-pernyataan, ultimatum, dan yang
> sejenis yang berkembang belakangan ini?
>
> Tetapi, seperti tabiatnya selama ini, ketika terlihat
> tudingan mereka itu terlalu lemah, dia bersilat lidah
> lagi, dengan mengatakan bahwa dia tidak pernah
> mengatakan seperti itu. Katanya, yang mengatakan
> seperti itu adalah Husni Thamrin dari PPP. Ketika
> ditanya wartawan, dia mengatakan bisa saja demikian.
> �Kemudian, saya bilang, saya akan menunggu dulu
> seperti apa langkah-langkah yang ditengarai Pak Husni
> Thamrin itu. Kalau itu terbukti, kita akan melakukan
> reaksi balik yang sepandan. Tapi, sejauh ini, saya
> belum melihat indikasi itu. Yang jelas, PPP merasa
> kecewa karena mereka merasa berjasa paling besar
> andilnya dalam mengirim Gus Dur ke kursi presiden.�
> (TEMPO, 19 Desember 1999).
>
> Amien juga berkata kepada TEMPO, dia bahkan sudah
> bertemu dengan Gus Dur, dan Gus Dur mengaku dia khilaf
> soal penggantian Hamzah itu. Bahwa yang sebenarnya,
> Hamzah hanya minta klarifikasi soal menteri-menteri
> korupsi, dan Gus Dur melangkah terlalu jauh dengan
> menggantikkannya.
>
> Mungkin benar Hamzah hanya minta klarifikasi kepada
> Gus Dur, dan klarifikasi itu dijawab oleh Gur Dur
> secara langsung dalam bentuk penggantian tersebut.
> Dengan kata lain, dengan penggantian tersebut Gus Dur
> secara tersirat hendak mengatakan kepada Hamzah: �Anda
> memang bersalah.� Apalagi hubungan keduanya memang
> sudah lama tidak harmonis.
>
> Sedangkan mengenai pengakuan Amien bahwa Gus Dur
> mengaku kepadanya bahwa Gur Dur khilaf, terus terang
> saya meragukannya. Kalau benar Gus Dur mengaku khilaf,
> dalam perkembangannya kemudian, sekitar akhir Desember
> 1999, dalam sebuah acara di Istana Merdeka, sewaktu
> mengulang pernyataannya soal penggantian Hamzah, tentu
> Gus Dur akan melontarkan hal tersebut. Nyatanya, Gus
> Dur malah memperkuatnya argumen keputusannya itu,
> dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya terhadap
> Hamzah sudah benar, karena Hamzah masih dibutuhkan
> oleh PPP sebagai Ketua Umum. Gur Dur sama sekali tidak
> mengatakan dia telah berbuat kekeliruan tentang itu.
>
> Orasi Amien Rais
> ---------------------
>
> Ini serupa dengan perkembangan atas reaksi keras Gus
> Dur atas Aksi Sejuta Umat yang juga disponsori oleh
> tokoh-tokoh Poros Tengah, tak kecuali Amien Rais, di
> Lapangan Monas, Jakarta, 7 Januari 2000 lalu. Ketika
> kelompok Islam fundamentalis itu mengira akan berhasil
> menggertak Gus Dur, tetapi malah nyalinya menjadi ciut
> ketika digertak balik oleh Gus Dur. Amien Rais yang
> nyata-nyata telah memberi orasi-orasi bertendensi
> provokatif, memanas-manasi massa, dan memberi
> ultimatum kepada Gus Dur, menyangkal atas apa yang
> sudah diperbuat oleh dia dan kawan-kawannya itu.
> Kemudian lagi-lagi menuding pihak ketiga sebagai
> kambing hitam, yang sengaja membisiki secara salah apa
> yang telah dilakukan Aksi Sejuta Umat itu, dengan
> maksud mengadu domba Gur Dur dengan Amien Rais plus
> Poros Tengah.
>
> Seperti dalam kejadian penggantian Hamzah sebagai
> Menko Kesra dan Taskin, Amien pun selain menyangkal
> apa yang sudah keluar dari mulutnya sendiri, dia
> berkata kepada wartawan bahwa setelah ada reaksi balik
> dari Gus Dur yang salah sasaran itu, dia sudah
> menelepon Gus Dur untuk mengatakan hal yang sebenarnya
> terjadi, dan Gus sudah bisa memakluminya.
> Kenyataannya? Saya curiga, Amien Rais bohong.
>
> Kalau benar demikian kejadiannya (Gus Dur sudah
> memahaminya), dalam acara malam Baku Dapa masyarakat
> Maluku se-Jabotabek, 15 Januari 2000 lalu, Gus Dur
> tidak ada mengeluarkan pernyataan, seperti yang sudah
> kita dengar sendiri dalam siaran langsung televisi,
> atau membacanya di koran. Waktu itu dia berkata bahwa
> selama ini pemerintah sudah banyak bersabar terhadap
> tangan-tangan jahat di Maluku dan berbagai daerah
> lain. Demikian juga terhadap pihak-pihak yang
> terus-menerus memojokkkan dan mencacinya, dia sudah
> banyak sabar, tetapi kesabaran itu ada batasnya juga.
> Kesabaran itu sudah mulai habis. Kalau kesabaran
> pemerintah sudah habis, maka akan diambil tindakan
> tegas, termasuk kepada kawan-kawan yang tidak juga mau
> sadar, atau kepada siapapun. Bisa jadi, yang dimaksud
> dengan �kawan-kawan� itu adalah Amien Rais cs itu.
>
> Dalam orasinya yang sangat bertendensi memanas-manasi
> massa dan provokatif dalam Aksi Sejuta Umat itu,
> memang sangat kental dengan unsur-unsur Islam
> fundamentalis dengan menekankan kepada massa bahwa apa
> yang terjadi di Ambon dan Maluku, dan Halmahera selama
> ini adalah memang perang agama, dan oleh karena itu
> wajar umat Islam pergi berperang jihad di sana.
> Disertai dengan memberi ultimatum kepada pemerintah
> dalam tempo satu-dua minggu sudah harus bisa
> menyelesaikan kasus Ambon (yang disebut sebagai
> �pembantaian/pembasmian umat Islam�).
>
> Amien antara lain berorasi bahwa pemerintah harus
> segera menghentikan pembasmian umat Islam di Maluku
> dan Halmahera dalam tempo satu sampai dua minggu. Jika
> tidak, umat Islam akan mengambil-alih persoalan
> tersebut. Jangan salahkan umat Islam kalau sampai
> begitu. Dan, wajar, kalau umat Islam murka atas
> ketidakmampuan pemerintah menyelesaikan kasus
> pembasmian umat Islam di Maluku dan Halmahera itu!
> Jelas, orasi ini memang sangat provokatif di
> tengah-tengah massa yang penuh emosional seperti
> sekarang.
>
> Padahal, yang terjadi di sana sebenarnya bukan perang
> agama, tetapi akibat dari mempergunakan agama sebagai
> senjata politik. Atau, menggunakan agama untuk
> membenarkan perilaku-perilaku iblis di sana. Tidak ada
> orang yang benar-benar beragama yang berperilaku
> biadab seperti itu. Penggunaan idiom-idiom �pembasmian
> umat Islam� dan sejenisnya adalah tidak tidak tepat,
> karena yang terjadi di sana ada suatu �perang� yang
> mengorban banyak korban jiwa di kedua pihak di sana.
> Penggunaan idiom-idiom seperti itu, termasuk � kalau
> ada � istilah �pembasmian umat Kristen� dan sejenis,
> hanya semakin membakar emosi dan membuat darah semakin
> mendidih bagi orang-orang yang mendengarnya dan
> kurang bisa menggunakan nalarnya.
>
> Kata-kata Amien seperti, �Jangan salahkan kalau umat
> Islam murka dan mengambilalih penyelesaian dari tangan
> pemerintah� seolah-olah sebagai pembenaran terjadinya
> kerusuhan-kerusuhansusulan akibat aksi �balas dendam.�
> Atau, lebih jauh dari itu: diam-diam itu merupakan
> sinyal rahasia agar umat Islam di lain tempat
> melakukan aksi-aksi balas dendam dengan kekerasan di
> daerah-daerah lain di luar Maluku dan Halmahera,
> seperti yang sudah terjadi di Mataram dan Makassar.
>
> Ketika Mataram dan Makassar rusuh, Amien seolah-olah
> merasa benar dan bangga, dengan beberapakali
> mengeluarkan pernyataan lagi bahwa apa yang
> dikhawatirkan kini sudah terbukti, yakni karena
> pemerintah tidak mampu menyelesaikan kasus Maluku dan
> Halmahera, akhirnya kerusuhan menjalar ke daerah lain.
> Padahal, seharusnya dia merasa prihatin, karena secara
> langsung, maupun tidak, kerusuhan yang terjadi di
> Mataram dan Makassar itu, merupakan tanggung jawabnya
> juga. Karena, bukankah dia telah berorasi dengan
> mengirim sinyal pembenaran agar umat Islam melakukan
> balas dendam? Bukahkah dia berkata, �Jangan salahkan
> umat Islam, kalau mengambilalih penyelasian kasus
> Ambon (dengan caranya sendiri)?�
>
> Maka, saya sepakat dengan apa yang dinyatakan Ketua
> Umum PKB Matori Abdul Djalil bahwa secara moral Amien
> bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan di
> Mataram, dan bahwa secara moral Amien dapat
> dikategorikan sebagai provokator kerusuhan!
> (detik.com, 20 Januari 2000).
>
> Sekarang, orang ini sedang bermetamorfosis lagi
> menjadi negarawan nan bijak, dengan menyerukan kepada
> publik agar jangan melakukan aksi-aksi pengumpulan
> massa, karena, katanya, bisa menimbulkan kerusuhan.
>
> Kenyataannya, menurut detik.com (21 Januari 2000),
> aksi pengumpulan massa akan tetap dilakukan di Jumat,
> 21 Januari ini dalam rangka memperingati setahun
> Tragedi Ambon, dengan garansi tidak akan ada kerusuhan
> (tulisan ini dibuat sampai pukul 00.30 21 Januari
> 2000) di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Pemrakarsanya
> adalah orang PAN (Amien Rais) juga, yang salah satu
> Ketua DPP PAN, yaitu A.M. Fatwa. Bisa jadi di mulut
> Amien keluar kata-kata bijak, tetapi dalam praktek
> meminjam tangan orang lain (orangnya) untuk tetap
> menggalang kekuatan massa yang tak lepas dari
> unsur-unsur politis.
>
> ____________________________________________________________________
> Get free email and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke