On 4/9/00, Jeffrey Anjasmara wrote:
| Moko, sudah banyak yang mengenal saya secara pribadi. Saya juga sempat tulis
| bahwa tidak sulit untuk men-trace jati diri. Selanjutnya saya sudah tulis yg
| jadi permasalahan apa perlu sih? Sebetulnya pula banyak yang menulis secara
| pribadi secara bolak-balik. So?
So there is no problem, kan? kan sudah banyak yang tahu, alias
menjadi sudah menjadi "rahasia umum" - dan yang saya tulis juga
informasi yang bisa diakses oleh umum. So, you don't ahve to worry
| Tulisan anda atau tulisan Datubara tidak akan mengubah sikap saya dalam
| memandang suatu masalah.
I can only -and always do- speak for myself (jadi jangan dicampuraduk
dengan tulisan Datubara atau yang lain). Saya tidak pernah punya
keinginan merubah sikap Anda (atau orang lain) dalam melihat satu
masalah. Itu karena saya tahu pasti bahwa usaha semacam itu sia-sia.
Perubahan hanya datang dari dalam diri sendiri. Diskursus dalam forum
elektronik seperti Permias Net ini memberi kesempatan yang satu
belajar dari yang lain, tetapi perubahan itu hanya bisa dilakukan
oleh diri sendiri. Seperti kata Dan Limon, "You can learn from
people, and educate others, but the only one you can change is
yourself."
Jadi, memang saya tidak berpretensi untuk bisa merubah "kebiasaan
jorok" Anda di Net (seperti disinggung oleh Budi haryanto), tetapi
tidak berarti bahwa omongan jorok tersebut tidak lagi mengusik
citarasa [berdiskusi] saya atau perasaan kesantunan umum. Saya masih
tetap terganggu kalau ada orang yang seenaknya melabel orang lain
komunis, atheis, dsb. - saya yang cuma ikut dengar saja terusik,
apalagi yang kena label. Saya tidak punya masalah dengan perbedaan
pendapat, bahkan pendapat yang berlawanan dengan popular view,
kebijakan pemerintah, tetapi rasa kesantunan saya tetap terusik kalau
ada yang melecehkan nama atau sebutan orang lain -- yang tidak ada
kaitannya dengan pendapat yang ditentang tersebut. Masih ingat dengan
tulisan Anda yang pernah saya kutip di tulisan yang lalu: "Gus Dur
alias Mr. Wa-Hyde memang benar-benar buta dan bebal." Dan yang baru
saja muncul dalam hari-hari kemarin ini: "GusDurno," atau "Wahai
mahaguru Dur-jana, siapakah engkau? Ulamakah? Ataukah seorang komunis
tulen berbulu Islam?
No, saya tidak bisa melarang orang omong jorok, apalagi merubah
kebiasaan omong jorok seperti itu ... "emang ude dari pu'unnya!" kata
orang Betawi. Ada yang mengajurkan "delete" saja (dari pada ribut),
tetapi ini juga tidak membuat masalahnya terus hilang, seperti
problem bau busuk sampah, tidak bisa hilang dengan menganggap
sampahnya tidak ada.
Dulu saya percaya pada ujar-ujar lama "sticks and stones will break
my bones, but words alone will never hurt me" -- tetapi ternyata
"kata-kata" bisa juga melukai (dan exchange di mailing list ini ya
cuma pakai kata-kata belaka). Label seperti "komunis", "atheis", dan
olok-olok kotor lain yang dengan 'casual' suka Anda obral itu
ternyata melukai, terutama buat yang kena label. Dan kalau direnungi
lebih lanjut -dari pengamatan dalam hidup- kata-kata tersebut bisa
membuat orang sengsara, dikucilkan bahkan dibunuh. Ini mirip efek
dari teriakan "rampok, rampok" di pasar, yang sering berakibat
penganiayaan, pembantaian, pembakaran hidup-hidup di masyarakat kita.
Mungkin si Brawijaya tidak pernah merasakan ini sendiri, karena kalau
ada yang marah, yang balik mencaci-maki, sumpah-serapahnya pergi ke
si Anjasmara -- karakter yang Anda (Brawijaya) ciptakan pada tanggal
14 Jul 1999 itu. Saya percaya pada azas dari hampir semua hukum
dimasyarakat beradab, yaitu "the accused has the right to confront
the accuser." Jadi, paling tidak yang sering dilabel komunis, atheis,
dsb. itu tahu SIAPA yang menuduhnya begitu. It is only fair! Dan
mungkin dengan identitas ganda (Brawijaya = Anjasmara) yang sudah
menjadi 'public knowledge' ini, kebiasaan jorok seperti itu bisa
berkurang. Paling tidak sekarang ini ada individu manusia --bukan
'non-person' seperti Anjasmara-- yang bisa kemudian diminta
pertanggungjawaban atas tuduhannya.
Itu semua memang cuma 'teori' atau persisnya harapan saya. Tetapi
teori ini bisa di-test (don't take my words for it, try it yourself):
Apakah si Brawijaya besok berani ngomong apa yang ditulisnya ini
didepan orangnya sendiri - face-to-face, mano-a-mano? (pasti banyak
yang pergi dari Troy ke pertemuan si KBRI Wasington, jadi bisa ngajak
carpooling):
Mathori lagi? Si Plin-plan penjilat kelas satu itu?
Nih, Mathori dengan mengatasnamakan PKB langsung meng-iya-kan waktu
Gus Durno mempunyai ide pencabut TAP MPRS itu. Setelah itu baru
kebingungan dengan reaksi masyarakat, dan akhirnya fraksi dari PKB
di MPR-pun ambil jalan aman diam saja. Cuma dari sini kita bisa
tahu bagaimana tipe-tipe Mathori ini yaitu tipe Kiss Boss' Ass.
Anjas
--
Moko/
"He that never changes his opinions, never corrects his mistakes,
and will never be wiser on the morrow than he is today."
-- Tryon Edwards